Berkenalan Dengan IELTS (Seri IELTS)

Berkenalan dengan IELTS

Hai sobat English learners! Kali ini yuk kita bahas salah satu tes kemampuan Berbahasa Inggris yang popular sekali di Indonesia dan dunia; IELTS. Sebelum coba-coba ikut tesnya, mungkin ada baiknya kita kenalan dulu sama IELTS. Kalau ada teman-teman yang sudah pernah ikut tesnya, coba aja dibaca, siapa tahu dapat wawasan dan sudut pandang yang berbeda.

Apa itu IELTS?

IELTS merupakan singkatan dari International English Language Testing System. Sepertinya tidak penting untuk menghapal singkatan ini, tetapi mungkin perlu dicatat atau diperhatikan bahwa kata “International” di sini menyiratkan bahwa dalam tes ini kita akan mendengar orang-orang yang bicara dengan logat-logat Bahasa Inggris yang berbeda-beda dari seluruh dunia (native English speakers yang bicara dengan pelafalan yang jelas, jadi jangan khawatir).

Tes ini ada karena kontribusi tiga organisasi besar, yaitu The British Council, The University of Cambridge, dan IDP. Sebagai Universitas terkenal dan prestisius khususnya untuk pengajaran Bahasa Inggris, Cambridge punya tes Bahasa Inggris sendiri (dari level KET yang setara A2 sampai level CPE yang setara C2). Karena kontribusi Cambridge di IELTS, hasil tes IELTS bisa diekstrapolasi ke dalam level-level ini, dan sebaliknya.

Macam-macam IELTS

Sebelum membahas macam-macam IELTS, mungkin perlu kita ketahui siapa sih yang perlu mengambil IELTS dan untuk siapa IELTS itu?

IELTS popular bagi para pengambil beasiswa yang mau melanjutkan sekolah mereka di Universitas-universitas yang berada di negara-negara Persemakmuran (commonwealth), seperti Australia, Inggris, Selandia Baru, dan sebagainya. Nah, sebenarnya, itu adalah IELTS Academic. Untuk studi lanjut.

Ada yang bukan akademik? Ada tentunya. Namanya IELTS General Training. Tes ini dari segi kesulitan tentunya lebih mudah, tetapi diperuntukkan untuk orang yang mau tinggal dan bekerja di negara-negara persemakmuran itu. Jadi, kalau kalian mau melanjutkan studi di Kanada, misalnya, jangan ambil IELTS General Training, ya.

Tes-tes IELTS

Kedua macam IELTS terdiri atas empat tes yang berbeda; listening, reading, writing, dan speaking. Biasanya listening, reading, dan writing dijadikan di satu hari yang sama. Meskipun tadi sudah disinggung bahwa ada dua macam IELTS, tetapi yang membedakan keduanya hanya reading dan writing saja. Artinya, listening dan speaking baik untuk Academic maupun General Training, sama tingkat kesulitannya.

Buat yang belum pernah ikut IELTS ataupun preparation course-nya, disarankan minimal mencari tahu setiap tes ini ketentuan dan cara menjawabnya bagaimana. Kalau kalian terbiasa dengan mengerjakan TOEFL ITP, kalian kemungkinan besar akan kaget ketika baru pertama kali mengerjakan IELTS. Beberapa murid saya dan orang-orang yang saya temui yang baru pertama kali mencoba IELTS simulation mendapatkan skor yang sangat rendah karena tidak siap dengan jenis-jenis soal dan ketentuan menjawabnya. Dari sekian banyak murid seperti ini, mayoritas nilainya naik drastis begitu mereka sudah kenal format IELTS.

Bagaimana formatnya?

Listening

Tes ini terdiri atas empat puluh soal yang bisa berupa pilihan ganda, mencocokkan, sampai mengisi (biasanya jumlah kata dibatasi satu sampai tiga kata atau angka). Ada empat bagian, masing-masing terdiri atas sepuluh soal; dua bagian merupakan dialog dan dua bagian lainnya dalam bentuk monolog. Bagian-bagian ini akan bertopik kehidupan sehari-hari dan kehidupan akademik. Waktu pengerjaan sekitar tiga puluh menit (untuk mendengarkan rekaman), dan ada sepuluh menit tambahan waktu untuk memindahkan jawaban. Memindahkan jawaban?

YA! BENAR SEKALI! Hal yang tidak disadari para pengambil tes yang baru pertama kali tes adalah bahwa HALAL untuk kita mencorat-coret lembar soal dan membuat catatan! Sesudah rekaman selesai, kita bisa memindahkan jawaban ke lembar jawaban.

Reading

Tes ini terdiri atas tiga teks berbeda yang (menurut beberapa orang) tingkat kesulitannya berbeda. Yang tidak disepakati orang adalah apakah tingkat kesulitannya naik dari teks pertama ke teks ketiga, atau diacak. Ada yang bilang tingkat kesulitannya sebenarnya sama saja. Tidak masalah, yang penting dikerjakan.

Lamanya tes ini adalah enam puluh menit untuk empat puluh soal. Artinya, satu teks akan terdiri dari tiga belas soal yang soalnya bisa berupa pilihan ganda, mengisi, mencocokkan, sampai benar/salah. Karena tidak ada waktu memindahkan jawaban, langsung kerjakan di lembar jawaban, tetapi kita tetap bisa corat-coret di lembar soal untuk memberi tanda di bacaan.

Writing

Dianggap sebagai tes yang paling sulit bagi sebagian orang, tes ini terdiri atas dua bagian. Karena saya hanya akan membahas yang akademik saja, maka yang saya sebutkan di sini adalah yang akademik. Bagian pertama meminta kita untuk menjelaskan tabel, grafik, peta, dan lain-lain (yang jelas berupa gambar dan data). Bagian kedua meminta kita untuk membahas suatu topik dan kemudian ada yang meminta menjelaskan pandangan kita.

Waktu pengerjaan hanya enam puluh menit, di mana idealnya bagian pertama dikerjakan dalam waktu dua puluh menit (hanya menulis 150 kata), dan bagian kedua dikerjakan dalam waktu empat puluh menit (hanya menulis 250 kata).

Speaking

Tes ini terdiri atas tiga bagian, di mana masing-masing bagian terdiri dari satu sampai lima menit saja. Bagian pertama adalah tentang perkenalan diri, bagian kedua adalah presentasi singkat selama dua menit tentang suatu topik, dan bagian ketiga adalah diskusi (biasanya tentang topik yang diangkat di bagian kedua).

Kalau kalian berencana mengambil tes IELTS atau tes simulasi IELTS, minimal kalian tahu informasi di atas. Ditunggu lagi postingan selanjutnya, ya. Nanti akan kita bahas lebih dalam lagi tentang tes-tes ini.

Richard Ariefiandy

Gerund : Ketika Verb Menjadi Noun

Gerund

Hai sobat English learners! Kadang ketika berbicara atau menulis, kita menggunakan kata kerja tidak sebagai kata kerja; dalam diskusi ini kita akan membahas salah satu topik penting grammar Bahasa Inggris, yaitu kata kerja yang berfungsi sebagai kata benda. Kata kerja berfungsi sebagai kata benda? Maksudnya gimana? Mungkin tanda tanya bermunculan di kepala tapi tetap ikuti pembahasan ini, ya. Sekarang, kita lihat contoh kalimat di bawah ini.

Saya suka berenang.

Di contoh di atas, apakah ada aktivitas yang dilakukan? Tentu saja ada, tapi pertanyaannya, yang mana? Suka atau berenang? Kalimat di atas tentunya tidak menjelaskan bahwa saya (subjek) melakukan berenang, jadi aktivitas yang dilakukan adalah suka.

Apa itu gerund?

Nah, lalu berenang ini apa? Jelas dari jenisnya dia adalah kata kerja, tapi di kalimat di atas, fungsinya bukan sebagai kata kerja, melainkan kata benda. Di Bahasa Inggris, kita kenal bentuk seperti ini sebagai gerund (dibaca /jé-rend/, bukan /je-rand/). Coba kita lihat contoh di bawah ini.

Writing is my hobby.”

Sudah bisa menebak gerund-nya yang mana? Ya, benar sekali. Writing adalah gerund. Di dalam grammar Bahasa Inggris, gerund selalu mengambil bentuk verb-ing, berbeda dengan Bahasa Indonesia yang gerund-nya tidak punya penanda khusus.

Kenapa gerund penting?

Sebagai bagian dari grammar Bahasa Inggris, penting sekali untuk kita mengetahui gerund supaya kita tahu bahwa itu bukan verb kalimat. Dalam kalimat “swimming makes me happy”, verb kalimat itu adalah to make, bukan to swim. Di sini swim (menjadi swimming) adalah subjek yang membuat (makes) saya (me) senang (happy).

Gerund tidak hanya berposisi sebagai subjek sebagaimana contoh di atas. Di contoh “I like swimming”, gerund berposisi sebagai objek. Ini tentu masuk akal, mengingat gerund berfungsi sebagai noun dan noun di kalimat posisinya adalah subjek dan objek.

Sebagai latihan, coba teman-teman buat kalimat dengan gerund. Kalau ada pertanyaan, jangan lupa tulis di comment section di bawah ini.

Richard Ariefiandy

Aku boring, nih… Ups.

Bored...

Pernah dengar orang bilang “ah, aku boring, nih. Jalan-jalan, yuk.”? Atau mungkin kita juga pernah mengucapkan itu? Karena popularitas Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang tidak hanya diajarkan di sekolah tetapi juga bisa ditemukan di banyak tempat, banyak orang suka memakai Bahasa Inggris meski hanya untuk keren-kerenan. (Btw, ada banyak penggunaan “di” di kalimat di atas; ada yang dipisah seperti ‘di sekolah’ dan ‘di banyak tempat’ dan ada yang disatukan seperti ‘diajarkan’ dan ‘ditemukan’; penjelasan lengkapnya di sini).

Bahasa Inggris memang populer sehingga dengan mudahnya kita mencampur penggunaan kata-kata kedua bahasa itu dalam satu kalimat. Entah karena alasan supaya terlihat keren atau memang bermaksud untuk melatih Bahasa Inggris, penggunaan kata-kata ini malah jadi salah, seperti contohnya kata ‘boring’.

Salah? Kenapa bisa begitu?

‘Boring’ adalah present participle dari kata kerja ‘bore’ yang artinya ‘membuat orang menjadi bosan’.

Coba kita lihat contoh berikut: “I will not invite John to the party because he bores people.”

“He bores people” artinya dia membuat orang bosan, dengan kata lain John membosankan. Di konstruksi Bahasa Inggris, kalimat “John membosankan” adalah “John is boring.” Artinya, John membuat orang merasa bosan terhadap dia. Kalau kita bilang “aku boring, nih”, artinya sudah tahu kan? “Aku membosankan, nih”… Apakah kalian membosankan? 😛

Coba kita lihat konstruksi kalimat serupa dengan kata berbeda.

“This place always amazes me.”

“Tempat ini selalu membuatku merasa kagum.”

Dengan kata lain, tempat ini mengagumkan; “This place is amazing.”

Kita sekarang tahu bahwa “membosankan” artinya “boring” dan “mengagumkan” artinya “amazing.” Sekarang, bagaimana kalau kalian mau bilang “bosan”?

Dalam kalimat “John bores people” kita tidak hanya tahu bahwa “John is boring”, tetapi kita juga tahu bahwa “The people are bored”. Sama halnya dengan “This place always amazes me”, di mana kita juga tidak hanya tahu bahwa “This place is amazing”, tetapi juga tahu bahwa “I am amazed.”

Sekarang… sudah tahu kan kalau bilang “bosan” tidak pakai “boring”?

NB: Buat kalian yang penasaran dengan istilah tata bahasanya, ‘boring’ dan ‘amazing’ disebut sebagai present participle sedangkan ‘bored’ dan ‘amazed’ disebut sebagai past participle. Di sini keduanya berfungsi sebagai kata sifat. Mungkin ada yang bisa memberikan contoh lain yang mirip dengan contoh di atas?

richard ariefiandy

Commercialized (Noncompulsory) Education

One day, a mother pinched her son forcing him to enter a classroom full of girls. His son refused and cried because he didn’t want to be the only boy in the classroom so he preferred to wait for his male friends outside. After minutes of crying and shouting, finally another boy came and the struggle ended. Teaching in a class where the students are not willingly study on their own account will usually have this kind of drama. If we’re teaching children who are still in lower level of elementary school we usually say “babysitting?” to each other.

I happen to teach in an informal education institution. Here, the students have foreign language courses for one to 1.5 hours. In this setting lie problems. First, the students don’t usually have bonds with the teachers, due to short term exposure to the teachers and the study environment. Second, if they spend too much time here (studying for a lot of levels), they are likely to be bored and exhausted to the extent of sleeping in the classroom because of their school and extracurricular activities. Third, it is quite uncommon for school-age children and teenagers to have the initiative to study this “extra” course, and it is usually their parents who are eager to put their children here. Yes, some children are quite attentive and enthusiastic, but the rest are just spaced-out in a place where the teacher is speaking a language they don’t understand, or they just study half-heartedly. A student (kindergartener) said “mommy is the principal, so it’s up to her if she wants me to study here or not. She put me here, and if she forgets to take me here i just let her forget,” as she answered my question about her late comings.

The teachers are also supposed to give comments about the students’ progress, but because they only have very limited time of interaction, not to mention that they also have so many students, it is intriguing. On the other hand, some parents might feel that the comments are not quite favourable due to the fact that teachers only meet students for an hour every once in a week. Another problem arise when the students don’t act in accordance with what the teachers expect in a class. There’s nothing much the teachers can do except to sometimes tolerate certain disturbing behaviour just to keep the learning pace. Another problem is that, because it is the parents’ eagerness to have the children study here, and is not supported by enough skill and knowledge of the parents about what their children are learning, it is hard also for students to retain what they learn here at home. It would be nice if both parents and teachers are in line towards the goal while at the same time the students also have motivation to do it. And it would also be nice if all of the teachers understand or are equipped with educational psychology (not all teachers majoring in Education understand how to handle such situation), which requires the teachers to be qualified or is made qualified, and this in turn would likely to increase the “production” cost or “improvement” cost of the human resources. Not likely to be favoured economically speaking.

Teaching: On Troublemakers In Class

teaching is equal to learning - friend taken photography

I was quite shocked when I entered a classroom full of laughing and noisy students for the first time. My shared teacher told me to “beware of the boys”. I thought it was going to be just a regular noisy class and she was just exaggerating. But to be honest, the class was a disaster! It wasn’t just some noisy class.

Being in the class was quite irritating. But I’m a pacifist. I didn’t want to make a direct rude encounter. So I patiently taught, and noticed that among the boys, there was one kid played the role of the leader of the pack 😛

Among the commotion, I thought, what would Wahyu did if he was in the exact particular classroom facing kids like them. Wahyu is one of my best friend, an educator, a project manager for an NGO, a therapist, and a writer. By putting myself in his shoes, suddenly I knew what to do. I kept teaching, trying to get the sympathy from them, not feeling mad, ignoring tolerable bad conduct they’re doing, trying to understand that they might have done that because of exhaustion from school, praising them if they made a good work, and encouraging them to do their best. I also tried to gain support from the pack leader. By doing that, I slowly understand that teaching is not only about transferring knowledge. Often, it’s not only about knowledge, but it’s about attitude. Our attitude as a teacher. Teaching isn’t only about being the most knowledgeable in the class, but being the best facilitator to bring out the potentials in our students.

Happy teaching 🙂