Perkenalan Bahasa Thai

Pengantar Bahasa Thai

Hai teman-teman pembelajar Bahasa! Sudah lama, ya, kita tidak membahas Bahasa Thai. Meskipun kita sudah membicarakan “struktur Bahasa Thai”, “saya” dan “to be” di Bahasa Thai, ada pembahasan yang penting sekali yang saya lupa tulis di awal, perkenalan dengan Bahasa Thai. Nah, tulisan kali ini akan membicarakan itu. Untuk teman-teman yang baru pertama kali belajar Bahasa Thai atau masih penasaran sebenarnya Bahasa Thai itu seperti apa, silakan baca terus postingan ini.

Seperti apa Bahasa Thai?

Bahasa Thai termasuk dalam satu keluarga Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Tai-Kadai yang mana penutur asli Bahasa-bahasa ini tersebar di daerah Asia Tenggara di sekitar tempat yang sekarang menjadi Thailand, Kamboja, Burma, Vietnam, Laos, dan Cina. Berbeda sekali dengan Bahasa Indonesia (dan Bahasa Malaysia) serta Bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia (kecuali bahasa daerah yang ada di Papua) merupakan satu rumpun Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Austronesia.

Pelafalan

Bahasa ini, dan anggota keluarganya (dari Tai-Kadai), merupakan Bahasa tonal. Bahasa tonal adalah Bahasa yang setiap kata mengandung nada tertentu. Kalau nada kata tersebut keliru diucapkan, maka artinyapun akan berbeda atau mungkin tidak akan ada artinya sama sekali. Ini mungkin mengingatkan orang akan Bahasa Cina (Mandarin, Kanton, dll). Sulit? Perlu pembiasaan saja.

Bahasa Thai memiliki lima nada. Nada tengah (middle tone), nada tinggi (high tone), nada rendah (low tone), nada naik (rising tone), nada turun (falling tone). Teman-teman bisa melihat di youtube atau sumber-sumber belajar Thai lain di mana kalian bisa melatih pengucapan nada ini. Mungkin saya bisa memberi gambaran sedikit tentang pengucapan nada-nada ini. Middle tone diucapkan secara monoton, bayangkan robot bicara (atau google translate!). Rising tone diucapkan seperti kalau kita bertanya dan menaikkan nada di akhir kalimat. Falling tone diucapkan seperti orang teriak “aww” kalau kesakitan. Terbayang? Oke, sekarang low tone diucapkan seperti kalau kita sedang kesal (bukan marah, ya) pada seseorang dan kita rendahkan nada di akhir kalimat. High tone diucapkan seperti kalau kita terkejut; bayangkan kita bilang “apa?” ketika mendengar kabar yang mengejutkan.

Aksara Thai

Bahasa Thai, sebagaimana Bahasa-bahasa Tai-Kadai lain cukup unik karena aksara mereka sangat berbeda dengan aksara latin. Tulisan-tulisannya merupakan turunan dari aksara indic/brahmic yang satu rumpun dengan tulisan Jawa. Jangan tercampur-campur ya. Bahasa Thai tidak satu rumpun dengan Bahasa Jawa. Yang satu rumpun hanya tulisannya. Kenapa bisa begitu? Ini sedikit banyak ada kaitannya dengan agama Hindu-Buddha yang menyebar di Asia Tenggara pada abad ke-5 Masehi yang membawa aksara ini bersama dengan agamanya.

Ada empat puluh konsonan di Bahasa Thai. Empat puluh konsonan ini dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu kelompok High Consonant, Middle Consonant, dan Low Consonant. Hati-hati! High consonant tidak berarti High Tone, ya! High, middle, dan low consonants hanya pengelompokkan konsonannya saja. Empat puluh konsonan artinya akan ada lebih dari satu huruf yang mewakili satu bunyi. Bahasa Thai punya banyak konsonan karena banyak kosakata yang mereka bawa dari Bahasa Sansekerta atau Pali, di mana kedua Bahasa itu mengandung bunyi yang lebih banyak daripada bunyi di Bahasa Thai. Karena ingin mempertahankan ejaan kosakata dari Bahasa Sansekerta dan Pali ini, maka aksara di Bahasa Thai ada banyak. Jangan khawatir, pelajari saja kira-kira 25 konsonan yang paling sering dipakai kalau teman-teman tertarik belajar. Kalau sudah lancar, pelajari sisanya.

Bagaimana dengan huruf vokal? Kalau teman-teman bisa menulis dengan aksara Jawa, mungkin teman-teman ketahui vokal di aksara Jawa lebih merupakan tanda dan bukan aksara. Ini juga sama persis dengan Bahasa Thai. Tanda-tanda vokal bisa muncul di sebelah kiri, kanan, atas, bawah, atau kombinasinya. Karena ini merupakan perkenalan Bahasa Thai, mungkin kita tidak akan membahas banyak.

Oya, interaksi antara konsonan dan vokal ini nantinya akan menentukan nada apakah yang muncul. Di samping interaksi konsonan-vokal, Bahasa Thai juga punya tanda-tanda nada yang menentukan nada yang akan dipakai. Sulit? Yah, harus diakui tulisan Bahasa Thai memang lebih sulit karena alasan ini. Aksara Cina jadi terlihat lebih mudah karena satu huruf mewakili satu suku kata dan satu makna.

Tata Bahasa

Sebagai orang Indonesia, Bahasa Thai akan jauh lebih mudah dipahami. Kenapa? Tata Bahasanya tidak berbeda dengan Bahasa kita, lho. Tidak ada tenses, Bahasa Thai memakai kata ‘sudah’ persis sama seperti Bahasa Indonesia (bandingkan dengan ‘sudah’ di Bahasa Inggris), kata kerjanya tidak berubah karena tenses atau subjek, susunan kalimatnya kurang lebih sama, tidak ada kata benda tunggal atau jamak, to be-nya sama dengan Bahasa Indonesia, kata ganti orangnya ada banyak dan bisa memakai kata sapan seperti bapak atau ibu sebagai kata ganti orang (contohnya di sini).

Sebagai kesimpulan, meskipun ada hal-hal yang sulit di Bahasa Thai, ada juga hal-hal yang mudah dipelajari bagi orang Indonesia. Untuk teman-teman yang suka Bahasa Thai, terus ikuti blog ini. Kita akan bahas hal-hal lain yang lebih menarik lainnya nanti.

Advertisements

Struktur Bahasa Thai

Struktur Bahasa Thai

Hai teman-teman pembaca richariefiandy.tk! Di postingan kali ini kita tidak akan membahas Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kita akan membahas… Bahasa Thai! Kenapa Bahasa Thai?

Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa postingan ini membahas Bahasa Thai. Saya pikir penting juga kalau ada variasi diskusi blog yang selama ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Bahasa Inggris atau Indonesia atau linguistik.

Kebanyakan website yang selama ini membahas Bahasa Thai ada di Bahasa Inggris, dan selama ini saya belajar Bahasa Thai dari sumber-sumber itu. Cukup menolong, sih, tapi sebenarnya belajar Bahasa Thai dari Bahasa Indonesia akan jauh lebih mudah. Hal ini dikarenakan tata bahasa kita yang tidak jauh berbeda; akan lebih mudah bagi kita untuk memahami Bahasa Thai kalau pengantarnya adalah dari Bahasa Indonesia. Kata-kata/ekspresi yang sulit dicari padanannya di Bahasa Inggris, bisa kita cari dengan mudah di Bahasa Indonesia.

Di samping alasan-alasan itu, ada juga alasan sampingan. Thailand adalah negara tetangga yang banyak dikunjungi orang Indonesia, belum lagi penggemar film-film Thailand juga cukup banyak. Minat mempelajari Bahasa Thai mulai tumbuh, lho.

Oke, kita mulai, ya.

Kali ini yang akan kita bahas adalah struktur kalimat di Bahasa Thai. Struktur Bahasa Thai penting dibahas karena ini dasar sekali. Untuk bicara atau menulis, kita perlu tahu bagaimana kata-kata dirangkai, bukan? Sebelum kita mulai, saya akan perkenalkan beberapa kosa kata yang akan kita pakai di sini.

Kosa kata

ผม = saya (sopan; laki-laki)

เป็น = adalah

คน = orang

อินโดนีเซีย = Indonesia

มี = punya

เพื่อน = teman

๑ คน = dua orang

หล่อ = ganteng

มาก = banyak (juga berarti sangat/banget/sekali)

Kalimat non-verbal dengan kata benda

Kalimat ผมเป็นคนอินโดนีเซีย (baca: phom pen khon Indoniisiiya) artinya saya adalah orang Indonesia. Struktur kalimatnya sama persis, bukan? Harap diperhatikan bahwa di sini kata เป็น yang artinya adalah harus tetap ada di kalimat yang diikuti oleh kata benda seperti contoh di atas; berbeda dengan di Bahasa Indonesia di mana kita bisa memakai atau menghilangkan kata adalah. Sekarang kita lihat contoh kalimat yang mengandung kata kerja.

Kalimat verbal

ผมมีเพื่อน๑คน (baca: phom mii pheuan song khon) artinya saya punya dua orang teman. Kata-kata seperti dua piring, tiga gelas, satu kilogram, lima orang, dikenal dengan istilah quantifier di Bahasa Inggris. Sedikit berbeda dengan Bahasa Indonesia, di Bahasa Thai, quantifier harus disebutkan di belakang. Jadi kalau di Bahasa Indonesia kita bisa bilang saya pesan dua piring nasi atau saya pesan nasi dua piring, di Bahasa Thai harus saya pesan nasi dua piring. Sekarang, bagaimana dengan kalimat yang mengandung kata sifat?

Kalimat non-verbal dengan kata sifat

ผมหล่อมาก (baca: phom loo maak) artinya saya ganteng sekali. Berbeda dengan struktur kalimat pertama yang mengandung kata benda sehingga sesudah ผม (saya) harus ada  เป็น (adalah), kalimat dengan kata sifat seperti contoh ini tidak memerlukan  เป็น (adalah). Ini persis sama dengan di Bahasa Indonesia di mana kita tidak bilang saya adalah ganteng, bukan begitu? (Yang kalau bicara masih pakai adalah sebelum kata sifat, ayo periksa lagi Bahasa Indonesianya!)

Bagaimana teman-teman? Penjelasan di atas cukup jelas dan singkat, bukan? Ayo kita pelajari Bahasa Thai sama-sama. Nanti akan ada lebih banyak postingan tentang Bahasa Thai, lho. Ikuti terus dan jangan lupa subscribe ya.

Richard Ariefiandy