Countable Noun (Seri Noun)

Countable Noun

Hai sobat pembelajar Bahasa Inggris! Bagaimana kabar kalian? Masih semangat belajar Bahasa Inggris, ya. Seharusnya tulisan ini aku post kemarin, tapi karena minggu ini minggu yang sibuk, aku baru bisa update hari ini.

Sesudah membahas tentang perbedaan countable dan uncountable noun, serta pemakaian uncountable noun, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang countable noun dan bagaimana menggunakannya.

Apa itu countable noun?

Aku yakin kalian bisa membayangkan apa itu countable noun. Ya, countable noun adalah objek yang bentuknya jelas dan kalau dipotong/dihancurkan, kita tidak akan bisa menyebut hasil potongannya sebagai objek yang sama. Bayangkan sebuah pulpen yang terbuat dari plastik. Injak-injak pulpen itu, dan ambil serpihan plastiknya. Apakah masih bisa disebut pulpen? Tidak, tentu saja. Apakah material pembuatnya masih bisa disebut plastik? Bisa, tentunya. Nah, pulpen dalam hal ini adalah objek dan itu countable, sedangkan plastik adalah material dan itu uncountable.

Meskipun countable bisa dihitung tanpa classifier (a kg of, a litre of, etc), tidak berarti tidak bisa dihitung tanpa classifier. Kita masih bisa mengatakan a kg of apples, a plastic bag of chilies, dan sebagainya.

Konsekuensi 1 – Memakai artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita harus meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Meskipun ketika kita bicara Bahasa Indonesia kita cenderung tidak akan mengatakan ‘seorang’ atau ‘sebuah’, di Bahasa Inggris artikel a/an harus dipakai. Contohnya sebagai berikut:

I bought house. x
I bought a house.

Konsekuensi 2 – Bisa memakai bentuk plural

Ini cukup logis. Kalau sebuah benda bisa memakai artikel a/an artinya dia bisa dibuat bentuk plural. Ketika memakai plural kita bisa meletakkan angka atau quantifier/classifier di depannya.

I have cat. x
I have some cats.
I have six cats.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb Kalau Noun-nya singular dan diikuti Plural Verb kalau Noun-nya plural

Masih ingat di postingan yang dulu membahas Uncountable Noun dan Simple Present Tense? Singular verbs contohnya adalah is, needs, buys, has, likes, dll. Kenapa disebut singular verbs? Karena semuanya harus didahului oleh singular Nouns. Countable Noun bisa singular dan plural, karena itu verb-nya harus disesuaikan.

There is a man in my front yard. (kita pakai is, bukan are karena hanya ada 1 laki-laki)

Some people like coming here for vacation. (kita pakai like, bukan likes karena people)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi harus memakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will buy you some books when I return to England.

I haven’t sent him any emails about the project.

He has a lot of dogs at home.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus countable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh countable noun.

A few/few = Last night I made a few friends. (bukan a little/little)

Many = There are many interesting places here. (bukan much)

Number = They asked me to contact a number of people. (bukan amount)

Present Perfect Tense (Seri Tense)

Present Perfect Tense

Hi guys! Sesudah membahas Simple Present dan Simple Past, hari ini kita akan membahas salah satu tense yang sering juga sering dipakai: Present Perfect Tense. Kenapa namanya Present Perfect Tense? Bukankah kejadiannya di masa lalu? Pasti banyak yang bertanya-tanya. Tenang saja, yang bingung juga bukan hanya orang Indonesia. Present Perfect Tense punya kata ‘present’ di dalamnya karena kejadian yang digambarkan ada efek ‘sekarang’. Coba lihat satu contoh yang diambil dari Oxford Grammar ini.

  1. My car has broken down since yesterday. (Mobil saya (sudah) rusak sejak kemarin.)
  2. My car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak.)

Kalimat pertama menyiratkan bahwa sampai sekarang mobilnya masih rusak, karena rusaknya sejak kemarin. Sementara kalau kita mendengar kalimat kedua, yang kita pikirkan adalah kemungkinan mobilnya sudah diperbaiki, tapi mungkin juga mobilnya masih rusak. Kita tidak tahu kondisi sekarang dari mobil itu.

Pola Present Perfect Tense

I, you, they, we Have V3.
He, she, it Has
I, you, they, we Have not V3.
He, she, it Has not
(QW) + Have I, you, they, we V3?
(QW) + Has He, she, it

Mungkin tabel di atas sangat familiar untuk teman-teman. Ya, saya yakin teman-teman sudah sering sekali melihat tabel ini. Yang menjadi masalah pembelajar berkaitan dengan pola Present Perfect Tense adalah membiasakan memakai have atau has sesuai subjeknya, dan memakai V3, karena bentuknya yang berbeda dengan present dan past. Ini sebenarnya bisa dikira-kira, apalagi dengan kata kerja teratur yang semuanya berakhiran –ed.

Yang menjadi masalah lain untuk pembelajar Bahasa Inggris adalah (dan ini yang paling krusial) kapan memakainya.

Fungsi Present Perfect Tense

Sekarang, apa sebenarnya fungsi dari Present Perfect Tense? Kapan kita memakai tense ini? Pada dasarnya tense ini dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian selesai terjadi dan efeknya bisa dilihat sekarang. Contohnya bisa dilihat di atas.

Tense ini juga dipakai untuk menyatakan pengalaman (things you do at least once in your life). Di sini Present Perfect Tense berkaitan dengan kata ‘ever’. Pembahasan lengkapnya bisa dilihat di sini. Jangan lupa, ever hanya dipakai untuk kalimat negatif (not ever/never) dan kalimat tanya. Contohnya:

  • She has seen the movie. (Dia sudah (pernah) melihat film itu.)
  • She has never seen the movie. (Dia belum pernah melihat film itu.)
  • Has she ever seen the movie? (Dia sudah pernah lihat film itu?)

Fungsi paling umum adalah untuk menggambarkan kejadian yang sudah terjadi, sudah selesai. Persis sama seperti kita memakai kata ‘sudah’ di Bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut.

  • We have fixed the car. (Kami sudah memperbaiki mobilnya.)
  • Have you had breakfast? (Kamu sudah sarapan?)
  • I have finished my homework. (PRku sudah selesai.)
  • They have cleaned the table. (Mereka sudah membersihkan mejanya.)

Keterangan Waktu Present Perfect Tense

Pada umumnya keterangan waktu yang akan kita temui pada kalimat-kalimat Present Perfect Tense berupa durasi yang didahului oleh ‘for’ atau berupa exact time yang didahului oleh ‘since’. Perhatikan contoh di bawah ini.

  • I have worked here for 12 years. (saya sudah tinggal di sini untuk 12 tahun.)
  • My friend has lived here since 2010. (teman saya sudah tinggal di sini sejak 2010.)

Kedua keterangan waktu di atas tidak eksklusif milik Present Perfect Tense, karena nanti kita akan belajar bahwa keduanya (for dan since) bisa dipakai untuk Present Perfect Continuous Tense. Oya, Simple Past juga bisa memakai ‘for’. Bandingkan kedua contoh di bawah ini.

  • My brother has waited for 2 hours. (Dia sudah menunggu selama dua jam – sampai sekarang masih menunggu.)
  • My brother waited for 2 hours. (Dia menunggu selama dua jam – sekarang sudah tidak menunggu lagi.)

Untuk pembahasan tentang perbedaan dengan Past Tense, silakan lihat di sini.

Masalah Umum

  1. What have you done? Vs. What did you do?

Masalah umum pertama adalah kekeliruan memahami bedanya Simple Past dan Present Simple. Akibatnya, pembelajar tidak memahami bedanya kedua pertanyaan di atas dan nuansanya.

Kalau kita mengatakan “what have you done?” ada sesuatu yang baru saja terjadi, kita melihat hasil dari kejadian itu, dan kita menduga ini disebabkan oleh ‘you’; ada nuansa menyalahkan. Kalau memakai keterangan waktu, misalnya “what have you done in the last 20 years?” maka menjadi spesifik bahwa kita ingin tahu ‘you’ sudah melakukan apa saja dalam 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, “what did you do?” nuansanya netral. Kalau kita menanyakan ini, kita hanya ingin tahu apa yang ‘you’ lakukan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. Have you had breakfast? Vs. Did you have breakfast?

Pertanyaan pertama dan kedua pada dasarnya sama. Pertanyaan pertama menekankan ke ‘sudah’nya, dan pertanyaan kedua menyatakan bahwa dia sarapan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. I have been married. Vs. I am married.

Di Indonesia kita punya kebiasaany bertanya (dan menjawab) dengan kata ‘sudah’ (atau ‘belum’). Hal-hal yang kita tanyakan biasanya berkisar di masalah pernikahan, pekerjaan, punya anak, hal-hal yang sifatnya ‘wajib’ atau ‘tugas’ di mana hidup menjadi ‘lengkap’ kalau itu semua ‘sudah’ terpenuhi, menurut perspektif orang Indonesia.

Sayangnya, di Bahasa Inggris tidak demikian. Kita tidak bisa mengatakan “I have been married” untuk “saya sudah menikah.” “I have been married.” artinya seseorang ‘sudah pernah’ menikah.

  1. I have been to. Vs. I have gone to.

Kedua pertanyaan ini sangat berbeda, bahkan kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya sangat berbeda. “I have been to…” artinya “saya sudah pernah pergi ke…” sedangkan “I have gone to…” artinya “saya sudah pergi ke…” bahkan mungkin lebih dekat dengan “saya sudah berangkat ke…” Beda, kan, artinya?

  1. I am here. Vs. I have been here.

Satu lagi yang mirip nomor 3. Sebagai orang Indonesia kita seringkali bilang “saya sudah di sini,” menyatakan bahwa mereka “sudah sampai” di lokasi. Di Bahasa Inggris, kalau diterjemahkan dengan “I have been here” artinya malah menjadi “saya sudah pernah ke sini.” Lantas, kalau kita mau mengatakan “saya sudah di sini,” cukup dengan mengatakan ”I am here.”

  1. Terlalu sering memakai “already” dan “ever”

Karena terbiasa menerjemahkan ‘sudah’ menjadi ‘already’, kita jadi terbiasa menulis ‘already’ untuk semua yang memakai ‘sudah.’ Ini sebenarnya sebuah redundancy (pemborosan), karena pola kalimat Present Perfect Tense sudah mengandung kata ‘sudah.’ Di samping itu, tidak semua yang memakai ‘sudah’ di Bahasa Indonesia harus menjadi Present Perfect Tense.

Begitu juga dengan ‘ever.’ Karena kita terbiasa menerjemahkan kata ‘pernah’ dengan ‘ever,’ kita selalu memakai ‘ever’ untuk ‘pernah’ padahal di Bahasa Inggris, ‘ever’ hanya dipakai di kalimat tanya dan negatif, adapun kalimat positif tidak perlu karena sudah tersirat.

Reading Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Reading Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini. Kita juga sudah membahas IELTS Listening. Untuk yang belum membaca, dipersilakan berkunjung ke sini.

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, tes reading terdiri atas empat puluh pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu enam puluh menit. Tes ini dibagi ke dalam tiga teks (passages) di mana masing-masing teks terdiri atas 13-14 pertanyaan. Mungkin ada yang bertanya, apakah ada perbedaan tingkat kesulitan teks-teks ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita bahas sedikit tentang seperti apa teks di reading test ini.

Dari postingan ini kita tahu bahwa ada dua jenis IELTS: general training dan academic. Untuk listening dan speaking, tidak ada perbedaan antara general maupun academic IELTS. Adapun untuk reading dan writing, kesulitan antara keduanya dibedakan, dengan academic IELTS memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Teks di academic reading test akan berisi artikel-artikel ilmiah. Artikel-artikel ini topik cakupannya luas sekali, mulai dari sejarah sampai geologi.

Tidak paham kajian sejarah? Tidak mengambil kursus audiologi? Tidak masalah. Bahasa yang digunakan dalam teks sebenarnya cukup populer. Nah, sekarang, apakah antara satu teks dengan teks lain ada kesulitan yang signifikan? Sebenarnya yang menjadi masalah bukan tingkat kesulitan teks, melainkan: seberapa familiar topiknya untuk kita, dan stamina saat mengerjakan teks.

Berbeda dengan TOEFL, teks IELTS academic reading cukup panjang (hampir selalu dua halaman). Dengan variasi tipe pertanyaan yang membuat peserta tes harus bekerja keras memahami pertanyaan dan mencari jawaban, kadang peserta kelelahan dan konsentrasinya berkurang, apalagi sebelumnya peserta baru saja ujian listening dan sesudah ini akan dilanjutkan dengan ujian writing. Berlatih mengerjakan tes ini dalam waktu satu jam cukup membantu dalam melatih stamina.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Berbeda dengan listening, setidaknya ada tujuh macam tipe pertanyaan di tes ini. Lima tipe pertanyaan sama dengan yang ada di listening test, jadi kalau belum baca tentang itu, bisa cek di sini. Lima tipe pertanyaan yang sama dengan listening adalah:

  1. Multiple Choice
  2. Completion (form, table, sentence, note, summary)
  3. Labelling (map, diagram)
  4. Short-answer
  5. Matching and classifying

Adapun dua tipe pertanyaan lainnya adalah:

  1. Matching headings, endings, and information

Ini adalah salah satu tipe pertanyaan yang cukup menyebalkan. Kenapa? Untuk mencari jawabannya, peserta tes harus bolak balik melihat opsi yang ada lalu kembali ke teks. Jadi, bagaimana bentuk tipe pertanyaan ini? Untuk matching headings, peserta diberikan sejumlah judul (biasanya diurutkan dengan angka romawi) dan teks dengan paragraf yang sudah diurutkan dengan huruf. Di sini peserta harus menentukan judul yang tepat untuk setiap paragraf.

IELTS_Reading_MH

Untuk matching endings, peserta akan diberikan sejumlah ending (biasanya diurutkan dengan huruf) dan di bawahnya peserta akan melihat beberapa pernyataan yang tidak lengkap. Peserta harus menentukan ending yang mana yang cocok untuk mengakhiri pernyataan yang tidak lengkap itu. Peserta harus merujuk ke teks untuk menentukan apakah ending itu sesuai, karena pada dasarnya ending itu ada di teks tetapi diubah dengan parafrase.

IELTS_Reading_ME

Sementara itu, untuk matching information, biasanya teksnya sudah diurutkan dengan huruf. Peserta diberikan sejumlah informasi dan harus menentukan di paragraf yang mana informasi itu bisa ditemukan.

IELTS_Reading_MI

  1. True/False/Not Given or Yes/No/Not Given

Banyak murid yang mengeluhkan tipe pertanyaan ini. Sejauh ini, tipe pertanyaan ini memang yang paling sulit, paling mengecoh, karena kita hanya terbiasa dengan True/False saja. Untuk kita, Not Given tidak familiar.

Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kalau pernyataan yang ada di pertanyaan itu secara tersirat maupun tersurat sama dengan yang terdapat di teks, maka itu benar (nomor 21, di teks ditandai 1). Kalau tidak sama, maka tidak benar (nomor 22, di teks ditandai 2). Kalau pernyataan di pertanyaan itu tidak disebutkan sama sekali, maka not given (nomor 23). Sebagai contoh, di teks disebutkan fakta tentang modern water system dan water system in ancient Greek and Roman, kemudian di pertanyaannya dikatakan bahwa modern water system meniru yang dari jaman Yunani/Romawi kuno, padahal di teks tidak ada pernyataan itu. Ini termasuk not given. Kenapa? Fakta tentang keduanya jelas ada di teks. Yang jadi masalah hanya satu. Tidak ada pernyataan yang tegas tentang “meniru”/”imitate”, jadi jawabannya not given.

Harap hati-hati sekali ketika mengerjakan soal ini. Kadang murid merasa punya prior knowledge (pengetahuan yang mereka sudah pelajari sebelumnya), sehingga merasa tahu jawabannya. Ketika mereka menjawab sesuai pikiran mereka, ternyata jawabannya salah. Perlu diketahui bahwa tes ini adalah tes Reading Comprehension; tes yang menguji kemampuan kita memahami teks berbahasa Inggris. Apapun yang kalian pikirkan atau rasakan tentang teks tinggalkan dulu di luar ruang tes.

Uncountable Noun (Seri Noun)

Uncountable Noun

Hola! Kita bertemu lagi di postingan baru. Kali ini kita akan membahas topik uncountable noun. Dalam postingan sebelumnya, kita sudah membahas perbedaan countable dan uncountable nouns secara singkat. Kali ini kita akan membahas sedikit lebih dalam tentang apa itu uncountable noun dan apa konsekuensinya (bagaimana menggunakannya) dalam Bahasa Inggris.

Apa itu uncountable noun?

Masih ingat apa itu uncountable noun? Kita ulas sedikit, ya. Banyak orang mengatakan bahwa uncountable noun adalah benda yang tidak bisa dihitung. Tentunya ini tidak sepenuhnya benar, ya, sebagaimana sudah di bahas di sini. Uncountable noun tentu saja bisa dihitung, tetapi kita harus memakai classifier, seperti a glass of atau a kg of.

Benda apa saja yang termasuk uncountable noun? Dalam postingan sebelumnya, kita tahu bahwa material (substansi) termasuk ke dalam kategori noun ini. Jadi, air (udara), water (air), wood (kayu), dan sebagainya termasuk uncountable noun. Apakah itu saja? Tentu tidak. Hal-hal abstrak juga termasuk ke dalam uncountable noun, contohnya: love, advice, information, money, research.

Konsekuensi 1 – Tanpa artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita tidak boleh meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Kalau mau meletakkan a/an, kita harus meletakkannya di depan classifier. Contohnya sebagai berikut:

I have an information. x
I have information.
I have a piece of information.

 

Konsekuensi 2 – Tanpa bentuk plural

Konsekuensi kedua ini merupakan konsekuensi logis dari konsekuensi pertama. Karena uncountable noun tidak bisa memakai artikel a/an, maka dia tidak boleh dibuat plural. Dengan demikian, secara otomatis benda/hal yang memakai artikel a/an bisa dibuat plural. Kalau mau membuat plural, kita harus membuat plural classifiernya.

I drank waters. x
I drank water.
I drank two glasses of water.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb

Nah lho. Apa pula ini? Jadi begini teman-teman, karena uncountable noun tidak memakai artikel a/an dan tidak memakai bentuk plural, secara otomatis benda/hal yang tergolong uncountable dianggap singular (tunggal). Dengan demikian, kalau dia berfungsi sebagai subjek, maka harus diikuti singular verb.

Apa itu singular verb? Verb yang diikuti oleh he/she/it untuk simple present tense pasti memakai –es/-s, bukan? Nah, itulah singular verb (termasuk juga is). Lihat contoh di bawah ini.

Love needs money. (kita pakai needs, bukan need)

Water is important for us. (kita pakai is, bukan are)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi ingat konsekuensi kedua; tidak boleh pakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will give you some advice.

I haven’t given anyone any information about the project.

He has a lot of money to spend.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus uncountable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh uncountable noun.

A little/little = I need a little money. (bukan a few/few)

Much = You put too much coffee in it. (bukan many)

Amount = I can see a small amount of snow outside. (bukan number)

Listening Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Listening Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini.

Oke, sekarang kita mulai, ya.

Yang membedakan IELTS dengan TOEFL bukan hanya jumlah tesnya atau jumlah soalnya, tetapi juga tipe pertanyaan yang ada. Kita tahu bahwa di dalam TOEFL tipe pertanyaannya hanya multiple choice questions (pilihan ganda). Namun, di dalam IELTS ada banyak sekali tipe pertanyaan. Untuk mereka yang belum pernah sama sekali mengikuti tes ini, pasti akan kebingungan dan keliru menjawab, dan bisa jadi kekeliruan itu tidak karena tidak tahu jawabannya tapi tidak tahu BAGAIMANA menjawabnya.

Pertama-tama kita lihat dulu seperti apa percakapan di tes ini. Sebagaimana kalian tahu di sini, tes ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi dialog tentang kehidupan sehari-hari, dan bisa berisi tentang percakapan telepon antara seorang agen asuransi dengan klien, atau percakapan antara agen kerja dengan calon karyawan.

Bagian kedua berisi monolog, tetapi masih tentang kehidupan sehari-hari. Monolog ini bisa jadi berisi tentang seorang yang menjelaskan paket program liburan atau tur di museum.

Bagian ketiga dan keempat adalah tentang kehidupan akademik tetapi bedanya bagian ketiga berisi dialog dan bagian keempat berisi monolog. Bagian ketiga bisa berisi dialog antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa lain bicara tentang tugas, atau antara seorang mahasiswa dengan dosen atau administrator kampus. Bagian keempat hampir selalu berisi kuliah. Berbeda dengan ketiga bagian sebelumnya, di bagian keempat tidak ada istirahat (monolog untuk sepuluh pertanyaan langsung) meskipun peserta tes harus berpindah halaman.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Setidaknya ada lima macam tipe pertanyaan di tes ini, yaitu:

Multiple Choice

Tipe pertanyaan ini sangat umum. Kita hanya harus memilih jawaban yang tepat. Kadang-kadang pertanyaannya mengharuskan kita memilih dua jawaban. Karena itu jangan lupa melihat dan membaca INSTRUKSI baik-baik.

Untuk tipe pertanyaan seperti ini, peserta tes harus mampu memahami isi tiap pertanyaan dan pilihannya baik tersurat maupun tersirat, karena di rekaman jawabannya seringkali tidak memakai kata-kata yang persis sama dengan kata-kata di pertanyaan dan pilihan.

Completion (form, table, sentence, note, summary)

Tipe pertanyaan ini mengharuskan peserta untuk melengkapi formulir, tabel, kalimat, ringkasan, atau catatan. Biasanya soal-soal melengkapi formulir ada di section 1 dari listening test, di mana peserta mendengarkan percakapan seorang klien dan agen (misalnya), dan melengkapi formulir berisi informasi klien itu.

Khusus untuk sentence completion dan summary completion, karena jawabannya merupakan bagian dari kalimat, maka grammar penting sekali. Peserta tes harus tahu apakah harus menulis dengan artikel (the/a/an), plural (s), kata kerja (present, past, future, verb-ing). Dan sekali lagi, baca INSTRUKSI berapa jumlah kata yang bisa ditulis.

Labelling (map, diagram)

Untuk tipe pertanyaan ini, peserta tes diharuskan memberi label pada peta atau diagram sambil mendengarkan deskripsi peta atau diagram tersebut di rekaman.

Short-answer

Tipe pertanyaan ini mirip dengan sentence completion, bedanya, ini bentuknya adalah pertanyaan yang cukup dijawab dengan sangat singkat.

Matching and classifying

Dari semua tipe, tipe ini yang paling menantang (minimal untuk saya). Kenapa? Tipe soal ini mengharuskan pengambil tes untuk memahami tiap pernyataan dan kategori, dan mengkategorikan ke dalam kategori-kategori yang tersedia. Misalnya, ada lima pernyataan yang berisi penemuan dan tiga kategori yang berisi nama-nama penemunya. Peserta tes harus mengkategorikan penemuan mana yang dibuat oleh penemu yang mana.

 

Berkenalan Dengan IELTS (Seri IELTS)

Berkenalan dengan IELTS

Hai sobat English learners! Kali ini yuk kita bahas salah satu tes kemampuan Berbahasa Inggris yang popular sekali di Indonesia dan dunia; IELTS. Sebelum coba-coba ikut tesnya, mungkin ada baiknya kita kenalan dulu sama IELTS. Kalau ada teman-teman yang sudah pernah ikut tesnya, coba aja dibaca, siapa tahu dapat wawasan dan sudut pandang yang berbeda.

Apa itu IELTS?

IELTS merupakan singkatan dari International English Language Testing System. Sepertinya tidak penting untuk menghapal singkatan ini, tetapi mungkin perlu dicatat atau diperhatikan bahwa kata “International” di sini menyiratkan bahwa dalam tes ini kita akan mendengar orang-orang yang bicara dengan logat-logat Bahasa Inggris yang berbeda-beda dari seluruh dunia (native English speakers yang bicara dengan pelafalan yang jelas, jadi jangan khawatir).

Tes ini ada karena kontribusi tiga organisasi besar, yaitu The British Council, The University of Cambridge, dan IDP. Sebagai Universitas terkenal dan prestisius khususnya untuk pengajaran Bahasa Inggris, Cambridge punya tes Bahasa Inggris sendiri (dari level KET yang setara A2 sampai level CPE yang setara C2). Karena kontribusi Cambridge di IELTS, hasil tes IELTS bisa diekstrapolasi ke dalam level-level ini, dan sebaliknya.

Macam-macam IELTS

Sebelum membahas macam-macam IELTS, mungkin perlu kita ketahui siapa sih yang perlu mengambil IELTS dan untuk siapa IELTS itu?

IELTS popular bagi para pengambil beasiswa yang mau melanjutkan sekolah mereka di Universitas-universitas yang berada di negara-negara Persemakmuran (commonwealth), seperti Australia, Inggris, Selandia Baru, dan sebagainya. Nah, sebenarnya, itu adalah IELTS Academic. Untuk studi lanjut.

Ada yang bukan akademik? Ada tentunya. Namanya IELTS General Training. Tes ini dari segi kesulitan tentunya lebih mudah, tetapi diperuntukkan untuk orang yang mau tinggal dan bekerja di negara-negara persemakmuran itu. Jadi, kalau kalian mau melanjutkan studi di Kanada, misalnya, jangan ambil IELTS General Training, ya.

Tes-tes IELTS

Kedua macam IELTS terdiri atas empat tes yang berbeda; listening, reading, writing, dan speaking. Biasanya listening, reading, dan writing dijadikan di satu hari yang sama. Meskipun tadi sudah disinggung bahwa ada dua macam IELTS, tetapi yang membedakan keduanya hanya reading dan writing saja. Artinya, listening dan speaking baik untuk Academic maupun General Training, sama tingkat kesulitannya.

Buat yang belum pernah ikut IELTS ataupun preparation course-nya, disarankan minimal mencari tahu setiap tes ini ketentuan dan cara menjawabnya bagaimana. Kalau kalian terbiasa dengan mengerjakan TOEFL ITP, kalian kemungkinan besar akan kaget ketika baru pertama kali mengerjakan IELTS. Beberapa murid saya dan orang-orang yang saya temui yang baru pertama kali mencoba IELTS simulation mendapatkan skor yang sangat rendah karena tidak siap dengan jenis-jenis soal dan ketentuan menjawabnya. Dari sekian banyak murid seperti ini, mayoritas nilainya naik drastis begitu mereka sudah kenal format IELTS.

Bagaimana formatnya?

Listening

Tes ini terdiri atas empat puluh soal yang bisa berupa pilihan ganda, mencocokkan, sampai mengisi (biasanya jumlah kata dibatasi satu sampai tiga kata atau angka). Ada empat bagian, masing-masing terdiri atas sepuluh soal; dua bagian merupakan dialog dan dua bagian lainnya dalam bentuk monolog. Bagian-bagian ini akan bertopik kehidupan sehari-hari dan kehidupan akademik. Waktu pengerjaan sekitar tiga puluh menit (untuk mendengarkan rekaman), dan ada sepuluh menit tambahan waktu untuk memindahkan jawaban. Memindahkan jawaban?

YA! BENAR SEKALI! Hal yang tidak disadari para pengambil tes yang baru pertama kali tes adalah bahwa HALAL untuk kita mencorat-coret lembar soal dan membuat catatan! Sesudah rekaman selesai, kita bisa memindahkan jawaban ke lembar jawaban.

Reading

Tes ini terdiri atas tiga teks berbeda yang (menurut beberapa orang) tingkat kesulitannya berbeda. Yang tidak disepakati orang adalah apakah tingkat kesulitannya naik dari teks pertama ke teks ketiga, atau diacak. Ada yang bilang tingkat kesulitannya sebenarnya sama saja. Tidak masalah, yang penting dikerjakan.

Lamanya tes ini adalah enam puluh menit untuk empat puluh soal. Artinya, satu teks akan terdiri dari tiga belas soal yang soalnya bisa berupa pilihan ganda, mengisi, mencocokkan, sampai benar/salah. Karena tidak ada waktu memindahkan jawaban, langsung kerjakan di lembar jawaban, tetapi kita tetap bisa corat-coret di lembar soal untuk memberi tanda di bacaan.

Writing

Dianggap sebagai tes yang paling sulit bagi sebagian orang, tes ini terdiri atas dua bagian. Karena saya hanya akan membahas yang akademik saja, maka yang saya sebutkan di sini adalah yang akademik. Bagian pertama meminta kita untuk menjelaskan tabel, grafik, peta, dan lain-lain (yang jelas berupa gambar dan data). Bagian kedua meminta kita untuk membahas suatu topik dan kemudian ada yang meminta menjelaskan pandangan kita.

Waktu pengerjaan hanya enam puluh menit, di mana idealnya bagian pertama dikerjakan dalam waktu dua puluh menit (hanya menulis 150 kata), dan bagian kedua dikerjakan dalam waktu empat puluh menit (hanya menulis 250 kata).

Speaking

Tes ini terdiri atas tiga bagian, di mana masing-masing bagian terdiri dari satu sampai lima menit saja. Bagian pertama adalah tentang perkenalan diri, bagian kedua adalah presentasi singkat selama dua menit tentang suatu topik, dan bagian ketiga adalah diskusi (biasanya tentang topik yang diangkat di bagian kedua).

Kalau kalian berencana mengambil tes IELTS atau tes simulasi IELTS, minimal kalian tahu informasi di atas. Ditunggu lagi postingan selanjutnya, ya. Nanti akan kita bahas lebih dalam lagi tentang tes-tes ini.

Richard Ariefiandy

Countable Noun vs Uncountable Noun

CN_UN

Postingan kali ini akan membahas salah satu isu penting di Bahasa Inggris, yaitu Countable Noun dan Uncountable Noun (ada buku yang menamai ini dengan count noun dan noncount noun). Ini merupakan isu penting karena seringkali kesalahan mengenali countable atau uncountable berakibat pada kesalahan dalam memakai artikel (a/an, the), kebingungan apakah suatu kata benda bisa jamak atau harus tunggal (plural atau singular), dan kesalahan dalam memakai verb (verb-1 biasa atau ada akhiran -s; do atau does). Teman-teman tidak perlu khawatir, postingan ini khusus membahas perbedaan kedua jenis kata benda ini dan bagaimana menentukan apakah sebuah kata benda countable atau uncountable dengan memakai logika sederhana. Pembahasan tentang konsekuensi countable dan uncountable ini kita bahas di postingan lain.

Untuk memahami perbedaan antara Countable Noun (selanjutnya disebut CN) dan Uncountable Noun (selanjutnya disebut UN), kita harus tahu dulu kenapa mereka disebut countable dan uncountable.

Waktu kita dulu belajar Bahasa Inggris di sekolah, kita dihadapkan dengan dilema serupa, dan guru-guru selalu siap membantu kita menjelaskan perbedaan antara CN dan UN. Kita diajarkan untuk selalu melihat CN sebagai benda yang bisa dihitung sedangkan UN adalah benda yang tidak dapat dihitung. Benar begitu?

Uncountable Noun

Kita tahu bahwa air adalah UN karena tidak bisa dihitung; namun dengan seiring berjalannya waktu dan semakin banyak kita belajar, seharusnya kita pertanyakan definisi ini. Benarkah air tidak bisa dihitung? Tanya saja orang dan mereka akan menjawab, bisa. Lalu bagaimana? Mudah saja. Kita bisa hitung air memakai satuan seperti kilogram atau liter atau bahkan tetes. Satuan standar (kilogram atau liter) ataupun tidak standar (gelas atau tetes) membuat air tetap bisa dihitung. Lantas apa definisi UN?

Bayangkan sebuah meja kayu. Bentuknya bisa apa saja asalkan meja dan terbuat dari kayu. Sekarang pertanyaannya, apa material meja itu? Jawabannya kayu. Material adalah UN. Lihat di sekeliling kita, apa saja material pembuat benda? Plastik, kayu, kaca, air, dll. Semuanya adalah material dan material bisa dihitung.

Masih ingat postingan tentang Bahasa Thai sebelumnya yang membahas classifier di sini? Satuan seperti kilogram, liter, gelas, dll adalah contoh classifier. UN bisa dihitung dengan classifier tersebut. Kita ambil contoh a glass of water atau five kilograms of plastic.

Countable Noun

Bagaimana dengan CN? Teman-teman masih ingat tentang ilustrasi meja kayu tadi? Kita tahu bahwa materialnya adalah kayu (jadi kayu adalah UN). Nah, sekarang objek meja kayu tadi apa? Tentu saja objeknya ada meja. Apapun bentuknya, objeknya tetapi meja yang fungsinya adalah menaruh peralatan (makan atau kerja). Objek adalah CN. Bagaimana kalau material kayu itu kini kita ubah menjadi tempat untuk duduk? Kalau demikian material (UN) kayu tadi berubah menjadi objek (CN) kursi. Bayangkan kita punya pulpen yang terbuat dari karet. Pulpen adalah objek dan dengan demikian pulpen adalah CN, sedangkan karet adalah material dan dengan demikian karet adalah UN.

CN mendapat nama countable karena bisa dihitung tanpa perlu memakai classifier; berbeda dengan UN yang harus memakai classifier untuk bisa dihitung. Ini berarti kalau CN yang muncul di kalimat jumlahnya hanya satu, kita bisa pakai a/an atau one seperti they have a car.

CN atau UN?

Beberapa benda bisa menjadi CN dan UN tergantung pada apakah benda itu berfungsi sebagai material atau objek. Bingung? Kita bayangkan ilustrasi berikut.

Bayangkan sebuah apel; merah, bentuknya sedikit bulan tetapi khas, dengan sedikit tangkai dan sehelai daun. Apel itu adalah objek dan kita bisa bilang an apple untuk benda itu. Sekarang kita potong apel itu tipis-tipis. Apa yang kita dapatkan? Apakah benda itu masih bisa disebut apel? Tentu saja masih bisa disebut apel karena kalau kita makan potongan-potongan itu kita kenal rasa dan aromanya sehingga kita tahu itu adalah apel. Akan tetapi apel ini bukan objek apel yang kita kenal. Apel ini adalah potongan apel atau slices of apple. Apel adalah material penyusun dan sekaligus objek, dan karenanya apel bisa menjadi CN maupun UN.

Berbeda dengan apel, kayu adalah material. Kayu bisa muncul dalam berbagai macam objek, mulai dari pohon sampai meja, tetapi kayu hanya material dan tidak bisa menjadi objek. Dengan demikian  kayu (wood) adalah material saja dan bukan objek.

Mudah bukan?

Mungkin teman-teman ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan konsep-konsep dan kata-kata abstrak? CN atau UN? Kita akan bahas lebih lanjut dan mendalam tentang kedua jenis kata benda ini di postingan berikutnya di SERI NOUN. Ditunggu, ya. Subscribe juga boleh, lho.

Richard Ariefiandy