Countable Noun (Seri Noun)

Countable Noun

Hai sobat pembelajar Bahasa Inggris! Bagaimana kabar kalian? Masih semangat belajar Bahasa Inggris, ya. Seharusnya tulisan ini aku post kemarin, tapi karena minggu ini minggu yang sibuk, aku baru bisa update hari ini.

Sesudah membahas tentang perbedaan countable dan uncountable noun, serta pemakaian uncountable noun, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang countable noun dan bagaimana menggunakannya.

Apa itu countable noun?

Aku yakin kalian bisa membayangkan apa itu countable noun. Ya, countable noun adalah objek yang bentuknya jelas dan kalau dipotong/dihancurkan, kita tidak akan bisa menyebut hasil potongannya sebagai objek yang sama. Bayangkan sebuah pulpen yang terbuat dari plastik. Injak-injak pulpen itu, dan ambil serpihan plastiknya. Apakah masih bisa disebut pulpen? Tidak, tentu saja. Apakah material pembuatnya masih bisa disebut plastik? Bisa, tentunya. Nah, pulpen dalam hal ini adalah objek dan itu countable, sedangkan plastik adalah material dan itu uncountable.

Meskipun countable bisa dihitung tanpa classifier (a kg of, a litre of, etc), tidak berarti tidak bisa dihitung tanpa classifier. Kita masih bisa mengatakan a kg of apples, a plastic bag of chilies, dan sebagainya.

Konsekuensi 1 – Memakai artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita harus meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Meskipun ketika kita bicara Bahasa Indonesia kita cenderung tidak akan mengatakan ‘seorang’ atau ‘sebuah’, di Bahasa Inggris artikel a/an harus dipakai. Contohnya sebagai berikut:

I bought house. x
I bought a house.

Konsekuensi 2 – Bisa memakai bentuk plural

Ini cukup logis. Kalau sebuah benda bisa memakai artikel a/an artinya dia bisa dibuat bentuk plural. Ketika memakai plural kita bisa meletakkan angka atau quantifier/classifier di depannya.

I have cat. x
I have some cats.
I have six cats.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb Kalau Noun-nya singular dan diikuti Plural Verb kalau Noun-nya plural

Masih ingat di postingan yang dulu membahas Uncountable Noun dan Simple Present Tense? Singular verbs contohnya adalah is, needs, buys, has, likes, dll. Kenapa disebut singular verbs? Karena semuanya harus didahului oleh singular Nouns. Countable Noun bisa singular dan plural, karena itu verb-nya harus disesuaikan.

There is a man in my front yard. (kita pakai is, bukan are karena hanya ada 1 laki-laki)

Some people like coming here for vacation. (kita pakai like, bukan likes karena people)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi harus memakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will buy you some books when I return to England.

I haven’t sent him any emails about the project.

He has a lot of dogs at home.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus countable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh countable noun.

A few/few = Last night I made a few friends. (bukan a little/little)

Many = There are many interesting places here. (bukan much)

Number = They asked me to contact a number of people. (bukan amount)

Gerund : Ketika Verb Menjadi Noun

Gerund

Hai sobat English learners! Kadang ketika berbicara atau menulis, kita menggunakan kata kerja tidak sebagai kata kerja; dalam diskusi ini kita akan membahas salah satu topik penting grammar Bahasa Inggris, yaitu kata kerja yang berfungsi sebagai kata benda. Kata kerja berfungsi sebagai kata benda? Maksudnya gimana? Mungkin tanda tanya bermunculan di kepala tapi tetap ikuti pembahasan ini, ya. Sekarang, kita lihat contoh kalimat di bawah ini.

Saya suka berenang.

Di contoh di atas, apakah ada aktivitas yang dilakukan? Tentu saja ada, tapi pertanyaannya, yang mana? Suka atau berenang? Kalimat di atas tentunya tidak menjelaskan bahwa saya (subjek) melakukan berenang, jadi aktivitas yang dilakukan adalah suka.

Apa itu gerund?

Nah, lalu berenang ini apa? Jelas dari jenisnya dia adalah kata kerja, tapi di kalimat di atas, fungsinya bukan sebagai kata kerja, melainkan kata benda. Di Bahasa Inggris, kita kenal bentuk seperti ini sebagai gerund (dibaca /jé-rend/, bukan /je-rand/). Coba kita lihat contoh di bawah ini.

Writing is my hobby.”

Sudah bisa menebak gerund-nya yang mana? Ya, benar sekali. Writing adalah gerund. Di dalam grammar Bahasa Inggris, gerund selalu mengambil bentuk verb-ing, berbeda dengan Bahasa Indonesia yang gerund-nya tidak punya penanda khusus.

Kenapa gerund penting?

Sebagai bagian dari grammar Bahasa Inggris, penting sekali untuk kita mengetahui gerund supaya kita tahu bahwa itu bukan verb kalimat. Dalam kalimat “swimming makes me happy”, verb kalimat itu adalah to make, bukan to swim. Di sini swim (menjadi swimming) adalah subjek yang membuat (makes) saya (me) senang (happy).

Gerund tidak hanya berposisi sebagai subjek sebagaimana contoh di atas. Di contoh “I like swimming”, gerund berposisi sebagai objek. Ini tentu masuk akal, mengingat gerund berfungsi sebagai noun dan noun di kalimat posisinya adalah subjek dan objek.

Sebagai latihan, coba teman-teman buat kalimat dengan gerund. Kalau ada pertanyaan, jangan lupa tulis di comment section di bawah ini.

Richard Ariefiandy

Aku boring, nih… Ups.

Bored...

Pernah dengar orang bilang “ah, aku boring, nih. Jalan-jalan, yuk.”? Atau mungkin kita juga pernah mengucapkan itu? Karena popularitas Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang tidak hanya diajarkan di sekolah tetapi juga bisa ditemukan di banyak tempat, banyak orang suka memakai Bahasa Inggris meski hanya untuk keren-kerenan. (Btw, ada banyak penggunaan “di” di kalimat di atas; ada yang dipisah seperti ‘di sekolah’ dan ‘di banyak tempat’ dan ada yang disatukan seperti ‘diajarkan’ dan ‘ditemukan’; penjelasan lengkapnya di sini).

Bahasa Inggris memang populer sehingga dengan mudahnya kita mencampur penggunaan kata-kata kedua bahasa itu dalam satu kalimat. Entah karena alasan supaya terlihat keren atau memang bermaksud untuk melatih Bahasa Inggris, penggunaan kata-kata ini malah jadi salah, seperti contohnya kata ‘boring’.

Salah? Kenapa bisa begitu?

‘Boring’ adalah present participle dari kata kerja ‘bore’ yang artinya ‘membuat orang menjadi bosan’.

Coba kita lihat contoh berikut: “I will not invite John to the party because he bores people.”

“He bores people” artinya dia membuat orang bosan, dengan kata lain John membosankan. Di konstruksi Bahasa Inggris, kalimat “John membosankan” adalah “John is boring.” Artinya, John membuat orang merasa bosan terhadap dia. Kalau kita bilang “aku boring, nih”, artinya sudah tahu kan? “Aku membosankan, nih”… Apakah kalian membosankan? 😛

Coba kita lihat konstruksi kalimat serupa dengan kata berbeda.

“This place always amazes me.”

“Tempat ini selalu membuatku merasa kagum.”

Dengan kata lain, tempat ini mengagumkan; “This place is amazing.”

Kita sekarang tahu bahwa “membosankan” artinya “boring” dan “mengagumkan” artinya “amazing.” Sekarang, bagaimana kalau kalian mau bilang “bosan”?

Dalam kalimat “John bores people” kita tidak hanya tahu bahwa “John is boring”, tetapi kita juga tahu bahwa “The people are bored”. Sama halnya dengan “This place always amazes me”, di mana kita juga tidak hanya tahu bahwa “This place is amazing”, tetapi juga tahu bahwa “I am amazed.”

Sekarang… sudah tahu kan kalau bilang “bosan” tidak pakai “boring”?

NB: Buat kalian yang penasaran dengan istilah tata bahasanya, ‘boring’ dan ‘amazing’ disebut sebagai present participle sedangkan ‘bored’ dan ‘amazed’ disebut sebagai past participle. Di sini keduanya berfungsi sebagai kata sifat. Mungkin ada yang bisa memberikan contoh lain yang mirip dengan contoh di atas?

richard ariefiandy

When to use “sudah”

B_Pakai02As many learners of Indonesian know, Bahasa Indonesia is quite simple. Its verbs don’t experience changes to express different tenses.

Now, let’s have a look at the word “sudah” which is used as the equivalent of the concept “perfect tense” in English. Simply put, when ever you want to say “I have done something” you always use “sudah” in your sentences. Indonesian is easy, right? I suppose so, if only Indonesians don’t use/put “sudah” (and its negative counterpart, “belum”) in so many sentences.

“sudah siap?”

“sudah menikah?”

“sudah tahu?”

“sudah punya anak?”

are roughly translated into: “are you ready?”, “are you married?”, “do you know?”, “do you have children?”, respectively. As you see, all of the sentences in English are not written in the perfect tense, but rather the simple present tense. So why do we see a lot of “sudah”s?

In Bahasa Indonesia, “sudah” is used to describe completion of action or the wholeness of something. Examples in Indonesian above can be explained as follow:

“Sudah siap?” asks whether your readiness is a complete and whole unity or not. Similarly, “sudah tahu?” also checks whether your knowledge of something is a whole or not. On the other hand, “sudah menikah?” and “sudah punya anak?” are asked using “sudah” because those two things are (in the mindset of most Indonesians) necessary in life. The wholeness and completeness of those two are expected. Saying “sudah menikah?” here means whether you have completed this task of getting married or not. The same goes for “sudah punya anak?”.

So, what’s your conclusion and opinion on this? Don’t hesitate to write me a comment! And if you can find more examples of how Indonesians use “sudah” differently from the way English speakers perceive how “sudah” should be used, let me know.

 

-richard ariefiandy-

“Simple Past” atau “Present Perfect”?

B_Pakai01[Perhatian: artikel ini tidak membahas pola kalimat past tense atau present perfect]

Salah satu kesulitan para pembelajar Bahasa Inggris adalah ketika mereka berhadapan dengan tenses. Banyak buku dan artikel menjelaskan apa fungsi tenses-tenses itu, dan bagaimana rumusnya. Tentu saja, pendekatan seperti ini praktis, tetapi apakah menambah pemahaman mereka?

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh para pembelajar yang berhubungan dengan tenses adalah ketika mereka tidak bisa membedakan kapan memakai Simple Past dan Present Perfect. Kenapa sulit? Keduanya terjadi di masa lalu, bukan?

Sebelum mulai membahas bedanya, kita bahas sedikit perspektif Bahasa Indonesia yang membuat mayoritas orang Indonesia mengalami kesulitan memahami tenses dan kalaupun mereka memahaminya, mereka masih keliru memakainya. Mudah-mudahan paparan di bawah membuat banyak pembaca sekarang berpikir bahwa tenses di Bahasa Inggris mudah.

Sebagaimana kita tahu, di Bahasa Indonesia tidak ada tenses yang ditunjukkan oleh perubahan kata kerja, tidak seperti bahasa-bahasa Eropa atau Arab dan lain-lain. Meskipun begitu, ini tidak berarti tidak ada tenses di Bahasa Indonesia. Coba bayangkan, tenses sebagai konsep bahasa di mana kata kerja berubah sesuai dengan waktu terjadinya sesuatu. Sebagai bahasa yang tidak mengenal konsep ini, Bahasa Indonesia menjadi tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses.

Kalau di Bahasa Inggris kita bilang “I went to Jogja”, di Bahasa Indonesia sesudah “saya pergi ke Jogja” harus ada kata tambahan yang menunjukkan kalau itu terjadi di masa lampau seperti “kemarin”, atau “dua tahun yang lalu.”

Nah, sekarang bagaimana membedakan past tense dengan perfect tense? Secara singkat bisa dikatakan bahwa past tense dipakai untuk menceritakan kejadian yang terjadi di masa lalu. Titik. Fokusnya ada pada “kejadian”nya. Perfect tense, di sisi lain, dipakai untuk menceritakan bahwa satu kejadian sudah selesai dikerjakan. Fokusnya ada pada “sudah terjadi”.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses, konsep Present Perfect diterjemahkan dengan menggunakan kata “sudah” (atau “belum”) di Bahasa Indonesia.

Jadi kalau kita mau bertanya kepada seseorang apakah dia sudah sarapan atau belum, tentu saja kita pakai Present Perfect “Have you had/eaten breakfast?”, sedangkan kalau kita mau bertanya kapan kejadian sarapan itu terjadi, tentu saja kita akan pakai Past Tense “What time did you have breakfast?”

Bahasa Inggris mudah? Mungkin tidak, tapi pelan-pelan memahaminya akan membuat tujuan kita belajar Bahasa Inggris lebih dekat.

richard ariefiandy

Ever vs. Pernah (Indonesian ver.)

Ever vs. PernahPara pembelajar Bahasa Inggris seringkali menemukan kata “pernah” yang diterjemahkan sebagai “ever” dalam Bahasa Inggris, sehingga mereka cenderung memakai kata “ever” ketika mereka memaksudkan kata “pernah”, meskipun dengan jelas beberapa buku teori grammar sudah menegaskan bahwa “ever” hanya dipakai di kalimat-kalimat negatif dan pertanyaan saja.

Lalu bagaimana menerjemahkan kata “pernah” dalam Bahasa Inggris?

Susah-susah gampang. Pertama, kita harus menyadari bahwa “pernah” adalah kata yang membawa konsep. Arti dari kata itu adalah bahwa kita pernah melakukan sesuatu paling tidak sekali seumur hidup kita.

Kedua, kata “ever” hanya dipakai untuk kalimat negatif dan pertanyaan saja, meskipun maknanya memang sama. Native English Speaker tidak memakainya di kalimat positif. Karena itu untuk kalimat positif, kita perlu kata lain, bukan? Tidak. Kita tidak perlu. Kita sebenarnya cukup memakai present perfect tense saja. Kalau mau menegaskan, bisa saja kita tambahkan kata-kata “once” atau “at least once in my lifetime.”

Ever vs. Pernah (English ver.)

Ever vs. PernahIf you are learning foreign languages, have you ever encountered words that are difficult to translate in your native language? And if you are a student of Bahasa Indonesia, the word “pernah” might be one of them.

Some people put their faith in dictionaries and use “ever” as the counterpart of “pernah.” Of course this is not a problem when you are constructing interrogative questions such as one that I asked in the beginning of this article. The same goes with negative sentences, like “I have never eaten that” that is translated as “saya tidak pernah makan itu.”

Problem arises when you realize that Indonesians use “pernah” quite often in affirmative sentences (neither a question nor a negative question). Take, for example, “dia pernah bertemu Angelina Jolie.” You wouldn’t say “He ever met/have ever met Angelina Jolie” in your normal sentences, right? Well, Indonesians do.

As with other concept words, learners should realize that some Indonesian words don’t translate quite well in English. “Pernah” is not different from those words. So what is the meaning of “pernah” then?

Simply put, “pernah”, as the word “ever”, is only used when you tell other people that from sometime in the past until now, you have experienced a certain thing (meeting Angelina, as in the previous example) at least once in your life.