Present Perfect Tense (Seri Tense)

Present Perfect Tense

Hi guys! Sesudah membahas Simple Present dan Simple Past, hari ini kita akan membahas salah satu tense yang sering juga sering dipakai: Present Perfect Tense. Kenapa namanya Present Perfect Tense? Bukankah kejadiannya di masa lalu? Pasti banyak yang bertanya-tanya. Tenang saja, yang bingung juga bukan hanya orang Indonesia. Present Perfect Tense punya kata ‘present’ di dalamnya karena kejadian yang digambarkan ada efek ‘sekarang’. Coba lihat satu contoh yang diambil dari Oxford Grammar ini.

  1. My car has broken down since yesterday. (Mobil saya (sudah) rusak sejak kemarin.)
  2. My car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak.)

Kalimat pertama menyiratkan bahwa sampai sekarang mobilnya masih rusak, karena rusaknya sejak kemarin. Sementara kalau kita mendengar kalimat kedua, yang kita pikirkan adalah kemungkinan mobilnya sudah diperbaiki, tapi mungkin juga mobilnya masih rusak. Kita tidak tahu kondisi sekarang dari mobil itu.

Pola Present Perfect Tense

I, you, they, we Have V3.
He, she, it Has
I, you, they, we Have not V3.
He, she, it Has not
(QW) + Have I, you, they, we V3?
(QW) + Has He, she, it

Mungkin tabel di atas sangat familiar untuk teman-teman. Ya, saya yakin teman-teman sudah sering sekali melihat tabel ini. Yang menjadi masalah pembelajar berkaitan dengan pola Present Perfect Tense adalah membiasakan memakai have atau has sesuai subjeknya, dan memakai V3, karena bentuknya yang berbeda dengan present dan past. Ini sebenarnya bisa dikira-kira, apalagi dengan kata kerja teratur yang semuanya berakhiran –ed.

Yang menjadi masalah lain untuk pembelajar Bahasa Inggris adalah (dan ini yang paling krusial) kapan memakainya.

Fungsi Present Perfect Tense

Sekarang, apa sebenarnya fungsi dari Present Perfect Tense? Kapan kita memakai tense ini? Pada dasarnya tense ini dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian selesai terjadi dan efeknya bisa dilihat sekarang. Contohnya bisa dilihat di atas.

Tense ini juga dipakai untuk menyatakan pengalaman (things you do at least once in your life). Di sini Present Perfect Tense berkaitan dengan kata ‘ever’. Pembahasan lengkapnya bisa dilihat di sini. Jangan lupa, ever hanya dipakai untuk kalimat negatif (not ever/never) dan kalimat tanya. Contohnya:

  • She has seen the movie. (Dia sudah (pernah) melihat film itu.)
  • She has never seen the movie. (Dia belum pernah melihat film itu.)
  • Has she ever seen the movie? (Dia sudah pernah lihat film itu?)

Fungsi paling umum adalah untuk menggambarkan kejadian yang sudah terjadi, sudah selesai. Persis sama seperti kita memakai kata ‘sudah’ di Bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut.

  • We have fixed the car. (Kami sudah memperbaiki mobilnya.)
  • Have you had breakfast? (Kamu sudah sarapan?)
  • I have finished my homework. (PRku sudah selesai.)
  • They have cleaned the table. (Mereka sudah membersihkan mejanya.)

Keterangan Waktu Present Perfect Tense

Pada umumnya keterangan waktu yang akan kita temui pada kalimat-kalimat Present Perfect Tense berupa durasi yang didahului oleh ‘for’ atau berupa exact time yang didahului oleh ‘since’. Perhatikan contoh di bawah ini.

  • I have worked here for 12 years. (saya sudah tinggal di sini untuk 12 tahun.)
  • My friend has lived here since 2010. (teman saya sudah tinggal di sini sejak 2010.)

Kedua keterangan waktu di atas tidak eksklusif milik Present Perfect Tense, karena nanti kita akan belajar bahwa keduanya (for dan since) bisa dipakai untuk Present Perfect Continuous Tense. Oya, Simple Past juga bisa memakai ‘for’. Bandingkan kedua contoh di bawah ini.

  • My brother has waited for 2 hours. (Dia sudah menunggu selama dua jam – sampai sekarang masih menunggu.)
  • My brother waited for 2 hours. (Dia menunggu selama dua jam – sekarang sudah tidak menunggu lagi.)

Untuk pembahasan tentang perbedaan dengan Past Tense, silakan lihat di sini.

Masalah Umum

  1. What have you done? Vs. What did you do?

Masalah umum pertama adalah kekeliruan memahami bedanya Simple Past dan Present Simple. Akibatnya, pembelajar tidak memahami bedanya kedua pertanyaan di atas dan nuansanya.

Kalau kita mengatakan “what have you done?” ada sesuatu yang baru saja terjadi, kita melihat hasil dari kejadian itu, dan kita menduga ini disebabkan oleh ‘you’; ada nuansa menyalahkan. Kalau memakai keterangan waktu, misalnya “what have you done in the last 20 years?” maka menjadi spesifik bahwa kita ingin tahu ‘you’ sudah melakukan apa saja dalam 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, “what did you do?” nuansanya netral. Kalau kita menanyakan ini, kita hanya ingin tahu apa yang ‘you’ lakukan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. Have you had breakfast? Vs. Did you have breakfast?

Pertanyaan pertama dan kedua pada dasarnya sama. Pertanyaan pertama menekankan ke ‘sudah’nya, dan pertanyaan kedua menyatakan bahwa dia sarapan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. I have been married. Vs. I am married.

Di Indonesia kita punya kebiasaany bertanya (dan menjawab) dengan kata ‘sudah’ (atau ‘belum’). Hal-hal yang kita tanyakan biasanya berkisar di masalah pernikahan, pekerjaan, punya anak, hal-hal yang sifatnya ‘wajib’ atau ‘tugas’ di mana hidup menjadi ‘lengkap’ kalau itu semua ‘sudah’ terpenuhi, menurut perspektif orang Indonesia.

Sayangnya, di Bahasa Inggris tidak demikian. Kita tidak bisa mengatakan “I have been married” untuk “saya sudah menikah.” “I have been married.” artinya seseorang ‘sudah pernah’ menikah.

  1. I have been to. Vs. I have gone to.

Kedua pertanyaan ini sangat berbeda, bahkan kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya sangat berbeda. “I have been to…” artinya “saya sudah pernah pergi ke…” sedangkan “I have gone to…” artinya “saya sudah pergi ke…” bahkan mungkin lebih dekat dengan “saya sudah berangkat ke…” Beda, kan, artinya?

  1. I am here. Vs. I have been here.

Satu lagi yang mirip nomor 3. Sebagai orang Indonesia kita seringkali bilang “saya sudah di sini,” menyatakan bahwa mereka “sudah sampai” di lokasi. Di Bahasa Inggris, kalau diterjemahkan dengan “I have been here” artinya malah menjadi “saya sudah pernah ke sini.” Lantas, kalau kita mau mengatakan “saya sudah di sini,” cukup dengan mengatakan ”I am here.”

  1. Terlalu sering memakai “already” dan “ever”

Karena terbiasa menerjemahkan ‘sudah’ menjadi ‘already’, kita jadi terbiasa menulis ‘already’ untuk semua yang memakai ‘sudah.’ Ini sebenarnya sebuah redundancy (pemborosan), karena pola kalimat Present Perfect Tense sudah mengandung kata ‘sudah.’ Di samping itu, tidak semua yang memakai ‘sudah’ di Bahasa Indonesia harus menjadi Present Perfect Tense.

Begitu juga dengan ‘ever.’ Karena kita terbiasa menerjemahkan kata ‘pernah’ dengan ‘ever,’ kita selalu memakai ‘ever’ untuk ‘pernah’ padahal di Bahasa Inggris, ‘ever’ hanya dipakai di kalimat tanya dan negatif, adapun kalimat positif tidak perlu karena sudah tersirat.

Advertisements

Uncountable Noun (Seri Noun)

Uncountable Noun

Hola! Kita bertemu lagi di postingan baru. Kali ini kita akan membahas topik uncountable noun. Dalam postingan sebelumnya, kita sudah membahas perbedaan countable dan uncountable nouns secara singkat. Kali ini kita akan membahas sedikit lebih dalam tentang apa itu uncountable noun dan apa konsekuensinya (bagaimana menggunakannya) dalam Bahasa Inggris.

Apa itu uncountable noun?

Masih ingat apa itu uncountable noun? Kita ulas sedikit, ya. Banyak orang mengatakan bahwa uncountable noun adalah benda yang tidak bisa dihitung. Tentunya ini tidak sepenuhnya benar, ya, sebagaimana sudah di bahas di sini. Uncountable noun tentu saja bisa dihitung, tetapi kita harus memakai classifier, seperti a glass of atau a kg of.

Benda apa saja yang termasuk uncountable noun? Dalam postingan sebelumnya, kita tahu bahwa material (substansi) termasuk ke dalam kategori noun ini. Jadi, air (udara), water (air), wood (kayu), dan sebagainya termasuk uncountable noun. Apakah itu saja? Tentu tidak. Hal-hal abstrak juga termasuk ke dalam uncountable noun, contohnya: love, advice, information, money, research.

Konsekuensi 1 – Tanpa artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita tidak boleh meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Kalau mau meletakkan a/an, kita harus meletakkannya di depan classifier. Contohnya sebagai berikut:

I have an information. x
I have information.
I have a piece of information.

 

Konsekuensi 2 – Tanpa bentuk plural

Konsekuensi kedua ini merupakan konsekuensi logis dari konsekuensi pertama. Karena uncountable noun tidak bisa memakai artikel a/an, maka dia tidak boleh dibuat plural. Dengan demikian, secara otomatis benda/hal yang memakai artikel a/an bisa dibuat plural. Kalau mau membuat plural, kita harus membuat plural classifiernya.

I drank waters. x
I drank water.
I drank two glasses of water.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb

Nah lho. Apa pula ini? Jadi begini teman-teman, karena uncountable noun tidak memakai artikel a/an dan tidak memakai bentuk plural, secara otomatis benda/hal yang tergolong uncountable dianggap singular (tunggal). Dengan demikian, kalau dia berfungsi sebagai subjek, maka harus diikuti singular verb.

Apa itu singular verb? Verb yang diikuti oleh he/she/it untuk simple present tense pasti memakai –es/-s, bukan? Nah, itulah singular verb (termasuk juga is). Lihat contoh di bawah ini.

Love needs money. (kita pakai needs, bukan need)

Water is important for us. (kita pakai is, bukan are)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi ingat konsekuensi kedua; tidak boleh pakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will give you some advice.

I haven’t given anyone any information about the project.

He has a lot of money to spend.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus uncountable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh uncountable noun.

A little/little = I need a little money. (bukan a few/few)

Much = You put too much coffee in it. (bukan many)

Amount = I can see a small amount of snow outside. (bukan number)

Listening Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Listening Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini.

Oke, sekarang kita mulai, ya.

Yang membedakan IELTS dengan TOEFL bukan hanya jumlah tesnya atau jumlah soalnya, tetapi juga tipe pertanyaan yang ada. Kita tahu bahwa di dalam TOEFL tipe pertanyaannya hanya multiple choice questions (pilihan ganda). Namun, di dalam IELTS ada banyak sekali tipe pertanyaan. Untuk mereka yang belum pernah sama sekali mengikuti tes ini, pasti akan kebingungan dan keliru menjawab, dan bisa jadi kekeliruan itu tidak karena tidak tahu jawabannya tapi tidak tahu BAGAIMANA menjawabnya.

Pertama-tama kita lihat dulu seperti apa percakapan di tes ini. Sebagaimana kalian tahu di sini, tes ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi dialog tentang kehidupan sehari-hari, dan bisa berisi tentang percakapan telepon antara seorang agen asuransi dengan klien, atau percakapan antara agen kerja dengan calon karyawan.

Bagian kedua berisi monolog, tetapi masih tentang kehidupan sehari-hari. Monolog ini bisa jadi berisi tentang seorang yang menjelaskan paket program liburan atau tur di museum.

Bagian ketiga dan keempat adalah tentang kehidupan akademik tetapi bedanya bagian ketiga berisi dialog dan bagian keempat berisi monolog. Bagian ketiga bisa berisi dialog antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa lain bicara tentang tugas, atau antara seorang mahasiswa dengan dosen atau administrator kampus. Bagian keempat hampir selalu berisi kuliah. Berbeda dengan ketiga bagian sebelumnya, di bagian keempat tidak ada istirahat (monolog untuk sepuluh pertanyaan langsung) meskipun peserta tes harus berpindah halaman.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Setidaknya ada lima macam tipe pertanyaan di tes ini, yaitu:

Multiple Choice

Tipe pertanyaan ini sangat umum. Kita hanya harus memilih jawaban yang tepat. Kadang-kadang pertanyaannya mengharuskan kita memilih dua jawaban. Karena itu jangan lupa melihat dan membaca INSTRUKSI baik-baik.

Untuk tipe pertanyaan seperti ini, peserta tes harus mampu memahami isi tiap pertanyaan dan pilihannya baik tersurat maupun tersirat, karena di rekaman jawabannya seringkali tidak memakai kata-kata yang persis sama dengan kata-kata di pertanyaan dan pilihan.

Completion (form, table, sentence, note, summary)

Tipe pertanyaan ini mengharuskan peserta untuk melengkapi formulir, tabel, kalimat, ringkasan, atau catatan. Biasanya soal-soal melengkapi formulir ada di section 1 dari listening test, di mana peserta mendengarkan percakapan seorang klien dan agen (misalnya), dan melengkapi formulir berisi informasi klien itu.

Khusus untuk sentence completion dan summary completion, karena jawabannya merupakan bagian dari kalimat, maka grammar penting sekali. Peserta tes harus tahu apakah harus menulis dengan artikel (the/a/an), plural (s), kata kerja (present, past, future, verb-ing). Dan sekali lagi, baca INSTRUKSI berapa jumlah kata yang bisa ditulis.

Labelling (map, diagram)

Untuk tipe pertanyaan ini, peserta tes diharuskan memberi label pada peta atau diagram sambil mendengarkan deskripsi peta atau diagram tersebut di rekaman.

Short-answer

Tipe pertanyaan ini mirip dengan sentence completion, bedanya, ini bentuknya adalah pertanyaan yang cukup dijawab dengan sangat singkat.

Matching and classifying

Dari semua tipe, tipe ini yang paling menantang (minimal untuk saya). Kenapa? Tipe soal ini mengharuskan pengambil tes untuk memahami tiap pernyataan dan kategori, dan mengkategorikan ke dalam kategori-kategori yang tersedia. Misalnya, ada lima pernyataan yang berisi penemuan dan tiga kategori yang berisi nama-nama penemunya. Peserta tes harus mengkategorikan penemuan mana yang dibuat oleh penemu yang mana.

 

Countable Noun vs Uncountable Noun

CN_UN

Postingan kali ini akan membahas salah satu isu penting di Bahasa Inggris, yaitu Countable Noun dan Uncountable Noun (ada buku yang menamai ini dengan count noun dan noncount noun). Ini merupakan isu penting karena seringkali kesalahan mengenali countable atau uncountable berakibat pada kesalahan dalam memakai artikel (a/an, the), kebingungan apakah suatu kata benda bisa jamak atau harus tunggal (plural atau singular), dan kesalahan dalam memakai verb (verb-1 biasa atau ada akhiran -s; do atau does). Teman-teman tidak perlu khawatir, postingan ini khusus membahas perbedaan kedua jenis kata benda ini dan bagaimana menentukan apakah sebuah kata benda countable atau uncountable dengan memakai logika sederhana. Pembahasan tentang konsekuensi countable dan uncountable ini kita bahas di postingan lain.

Untuk memahami perbedaan antara Countable Noun (selanjutnya disebut CN) dan Uncountable Noun (selanjutnya disebut UN), kita harus tahu dulu kenapa mereka disebut countable dan uncountable.

Waktu kita dulu belajar Bahasa Inggris di sekolah, kita dihadapkan dengan dilema serupa, dan guru-guru selalu siap membantu kita menjelaskan perbedaan antara CN dan UN. Kita diajarkan untuk selalu melihat CN sebagai benda yang bisa dihitung sedangkan UN adalah benda yang tidak dapat dihitung. Benar begitu?

Uncountable Noun

Kita tahu bahwa air adalah UN karena tidak bisa dihitung; namun dengan seiring berjalannya waktu dan semakin banyak kita belajar, seharusnya kita pertanyakan definisi ini. Benarkah air tidak bisa dihitung? Tanya saja orang dan mereka akan menjawab, bisa. Lalu bagaimana? Mudah saja. Kita bisa hitung air memakai satuan seperti kilogram atau liter atau bahkan tetes. Satuan standar (kilogram atau liter) ataupun tidak standar (gelas atau tetes) membuat air tetap bisa dihitung. Lantas apa definisi UN?

Bayangkan sebuah meja kayu. Bentuknya bisa apa saja asalkan meja dan terbuat dari kayu. Sekarang pertanyaannya, apa material meja itu? Jawabannya kayu. Material adalah UN. Lihat di sekeliling kita, apa saja material pembuat benda? Plastik, kayu, kaca, air, dll. Semuanya adalah material dan material bisa dihitung.

Masih ingat postingan tentang Bahasa Thai sebelumnya yang membahas classifier di sini? Satuan seperti kilogram, liter, gelas, dll adalah contoh classifier. UN bisa dihitung dengan classifier tersebut. Kita ambil contoh a glass of water atau five kilograms of plastic.

Countable Noun

Bagaimana dengan CN? Teman-teman masih ingat tentang ilustrasi meja kayu tadi? Kita tahu bahwa materialnya adalah kayu (jadi kayu adalah UN). Nah, sekarang objek meja kayu tadi apa? Tentu saja objeknya ada meja. Apapun bentuknya, objeknya tetapi meja yang fungsinya adalah menaruh peralatan (makan atau kerja). Objek adalah CN. Bagaimana kalau material kayu itu kini kita ubah menjadi tempat untuk duduk? Kalau demikian material (UN) kayu tadi berubah menjadi objek (CN) kursi. Bayangkan kita punya pulpen yang terbuat dari karet. Pulpen adalah objek dan dengan demikian pulpen adalah CN, sedangkan karet adalah material dan dengan demikian karet adalah UN.

CN mendapat nama countable karena bisa dihitung tanpa perlu memakai classifier; berbeda dengan UN yang harus memakai classifier untuk bisa dihitung. Ini berarti kalau CN yang muncul di kalimat jumlahnya hanya satu, kita bisa pakai a/an atau one seperti they have a car.

CN atau UN?

Beberapa benda bisa menjadi CN dan UN tergantung pada apakah benda itu berfungsi sebagai material atau objek. Bingung? Kita bayangkan ilustrasi berikut.

Bayangkan sebuah apel; merah, bentuknya sedikit bulan tetapi khas, dengan sedikit tangkai dan sehelai daun. Apel itu adalah objek dan kita bisa bilang an apple untuk benda itu. Sekarang kita potong apel itu tipis-tipis. Apa yang kita dapatkan? Apakah benda itu masih bisa disebut apel? Tentu saja masih bisa disebut apel karena kalau kita makan potongan-potongan itu kita kenal rasa dan aromanya sehingga kita tahu itu adalah apel. Akan tetapi apel ini bukan objek apel yang kita kenal. Apel ini adalah potongan apel atau slices of apple. Apel adalah material penyusun dan sekaligus objek, dan karenanya apel bisa menjadi CN maupun UN.

Berbeda dengan apel, kayu adalah material. Kayu bisa muncul dalam berbagai macam objek, mulai dari pohon sampai meja, tetapi kayu hanya material dan tidak bisa menjadi objek. Dengan demikian  kayu (wood) adalah material saja dan bukan objek.

Mudah bukan?

Mungkin teman-teman ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan konsep-konsep dan kata-kata abstrak? CN atau UN? Kita akan bahas lebih lanjut dan mendalam tentang kedua jenis kata benda ini di postingan berikutnya di SERI NOUN. Ditunggu, ya. Subscribe juga boleh, lho.

Richard Ariefiandy

In, At, On Untuk Waktu (Seri Preposisi)

in-at-onHai sobat English learners! Kali ini kita akan membahas Preposisi, dan jangan khawatir, kita akan membahasnya pelan-pelan, dan karena itu bahasannya akan dibuat serial; seri yang ini adalah Seri Preposisi.

Preposisi (kata depan) atau preposition merupakan salah satu jenis kata yang penting di Bahasa Inggris. Preposisi bisa ditemukan di mana-mana. Di Bahasa Indonesia, meskipun preposisi punya banyak peran, kebanyakan orang ketika mendengar kata preposisi, mereka berpikir tentang posisi/lokasi/tempat, meskipun kenyataannya tidak, seperti preposisi pada atau sejak yang sering juga dipakai sebagai preposisi waktu.

Di Bahasa Inggris, preposisi juga penting untuk dipakai dengan kata-kata penunjuk waktu. Mungkin kita ingat ketiga preposisi terkenal in, at, dan on yang selalu harus disematkan di depan kata penunjuk waktu, yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ketiganya bisa berarti pada. Banyak murid Bahasa Inggris yang seringkali mengalami kesulitan membedakan cara pemakaian ketiganya. Coba kita lihat satu persatu.

At

Kita memulai dari at karena ini adalah preposisi ini dipakai untuk waktu yang tepat (precise time). Pemakaian at yang paling mudah dan umum adalah untuk jam. Kalau kita bilang “kita akan bertemu (pada) jam 12”, maka di Bahasa Inggris kalimat itu menjadi “we will meet at 12.

Selain untuk jam, kita memakai at untuk noon, breakfast/lunch/dinner/supper, bedtime, sunrise, sunset, night, midnight, the moment, the same time, present. Sebagai contoh kita lihat kalimat-kalimat berikut.

They go to the shop at midnight.”

We will start it at the same time.”

On

Preposisi yang satu ini dipakai untuk hari (on Monday) dan tanggal (on 11 March), jadi lebih mudah diingat. Oya, patut diingat bahwa tanggal di Bahasa Inggris harus memakai ordinal numbers (first, second, third, etc) dan bukan cardinal numbers (one, two, three, etc) dan menyebutkan bulan; tidak perlu menyebutkan bulan kalau konteksnya sudah dimengerti. Contohnya:

What will you do on New Year’s eve?
Her birthday is on 21 October. I will give her a present because she gave me a present on my birthday.

At atau on?

Untuk beberapa hal di bawah ini, kita bisa memakai on atau at. Yang membedakan adalah apakah itu variasi British atau American.

At the weekend (British) atau on the weekend (American)

At Christmast, at Easter (British) atau on Christmas, on Easter (American)

Kalau memakai day untuk Christmas dan Easter, tanpa melihat British atau American kita akan memakai on (on Christmas day).

In

Preposisi ini dipakai untuk periode yang lebih panjang dari on; artinya, kita akan pakai ini untuk bulan (in September), musim (in (the) summer), tahun (in 2019), abad (in the 27th century), dan jaman (in the Ice Age, in the past/future). Oya, sebagai catatan, in juga dipakai untuk the morning, the afternoon, the evening.

In atau on?

Kita bilang in kalau pakai the morning, the afternoon, the evening; namun, kalau ada harinya, misalnya Tuesday morning, kita harus pakai on (Jadi on Tuesday morning). Kenapa harus pakai on? Nggak tau juga, ya. Tebakan paling ampuh dari saya ya karena harinya ditaruh di depan.

Tanpa at/on/in

Sesudah membaca postingan di atas, sobat English learners semua sudah ahli dalam menggunakan preposisi in, at, on untuk waktu, kan? Sudah tidak tertukar lagi, kan? Bagus! Tapi ada catatan, nih. Jangan kebablasan. Jangan lantas semua penunjuk waktu diberikan preposisi. Kata-kata penunjuk waktu yang diawali dengan next (next January), last (last Tuesday), this (this evening), dan every (every Christmas), tidak boleh pakai at/on/in, ya.

Sebagai latihan, teman-teman bisa membuat contoh-contoh kalimat di Bahasa Inggris dengan menggunakan penjelasan itu, dan jangan lupa untuk sering-sering dipraktekkan.

Richard Ariefiandy

Aku boring, nih… Ups.

Bored...

Pernah dengar orang bilang “ah, aku boring, nih. Jalan-jalan, yuk.”? Atau mungkin kita juga pernah mengucapkan itu? Karena popularitas Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang tidak hanya diajarkan di sekolah tetapi juga bisa ditemukan di banyak tempat, banyak orang suka memakai Bahasa Inggris meski hanya untuk keren-kerenan. (Btw, ada banyak penggunaan “di” di kalimat di atas; ada yang dipisah seperti ‘di sekolah’ dan ‘di banyak tempat’ dan ada yang disatukan seperti ‘diajarkan’ dan ‘ditemukan’; penjelasan lengkapnya di sini).

Bahasa Inggris memang populer sehingga dengan mudahnya kita mencampur penggunaan kata-kata kedua bahasa itu dalam satu kalimat. Entah karena alasan supaya terlihat keren atau memang bermaksud untuk melatih Bahasa Inggris, penggunaan kata-kata ini malah jadi salah, seperti contohnya kata ‘boring’.

Salah? Kenapa bisa begitu?

‘Boring’ adalah present participle dari kata kerja ‘bore’ yang artinya ‘membuat orang menjadi bosan’.

Coba kita lihat contoh berikut: “I will not invite John to the party because he bores people.”

“He bores people” artinya dia membuat orang bosan, dengan kata lain John membosankan. Di konstruksi Bahasa Inggris, kalimat “John membosankan” adalah “John is boring.” Artinya, John membuat orang merasa bosan terhadap dia. Kalau kita bilang “aku boring, nih”, artinya sudah tahu kan? “Aku membosankan, nih”… Apakah kalian membosankan? 😛

Coba kita lihat konstruksi kalimat serupa dengan kata berbeda.

“This place always amazes me.”

“Tempat ini selalu membuatku merasa kagum.”

Dengan kata lain, tempat ini mengagumkan; “This place is amazing.”

Kita sekarang tahu bahwa “membosankan” artinya “boring” dan “mengagumkan” artinya “amazing.” Sekarang, bagaimana kalau kalian mau bilang “bosan”?

Dalam kalimat “John bores people” kita tidak hanya tahu bahwa “John is boring”, tetapi kita juga tahu bahwa “The people are bored”. Sama halnya dengan “This place always amazes me”, di mana kita juga tidak hanya tahu bahwa “This place is amazing”, tetapi juga tahu bahwa “I am amazed.”

Sekarang… sudah tahu kan kalau bilang “bosan” tidak pakai “boring”?

NB: Buat kalian yang penasaran dengan istilah tata bahasanya, ‘boring’ dan ‘amazing’ disebut sebagai present participle sedangkan ‘bored’ dan ‘amazed’ disebut sebagai past participle. Di sini keduanya berfungsi sebagai kata sifat. Mungkin ada yang bisa memberikan contoh lain yang mirip dengan contoh di atas?

richard ariefiandy

“Simple Past” atau “Present Perfect”?

B_Pakai01[Perhatian: artikel ini tidak membahas pola kalimat past tense atau present perfect]

Salah satu kesulitan para pembelajar Bahasa Inggris adalah ketika mereka berhadapan dengan tenses. Banyak buku dan artikel menjelaskan apa fungsi tenses-tenses itu, dan bagaimana rumusnya. Tentu saja, pendekatan seperti ini praktis, tetapi apakah menambah pemahaman mereka?

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh para pembelajar yang berhubungan dengan tenses adalah ketika mereka tidak bisa membedakan kapan memakai Simple Past dan Present Perfect. Kenapa sulit? Keduanya terjadi di masa lalu, bukan?

Sebelum mulai membahas bedanya, kita bahas sedikit perspektif Bahasa Indonesia yang membuat mayoritas orang Indonesia mengalami kesulitan memahami tenses dan kalaupun mereka memahaminya, mereka masih keliru memakainya. Mudah-mudahan paparan di bawah membuat banyak pembaca sekarang berpikir bahwa tenses di Bahasa Inggris mudah.

Sebagaimana kita tahu, di Bahasa Indonesia tidak ada tenses yang ditunjukkan oleh perubahan kata kerja, tidak seperti bahasa-bahasa Eropa atau Arab dan lain-lain. Meskipun begitu, ini tidak berarti tidak ada tenses di Bahasa Indonesia. Coba bayangkan, tenses sebagai konsep bahasa di mana kata kerja berubah sesuai dengan waktu terjadinya sesuatu. Sebagai bahasa yang tidak mengenal konsep ini, Bahasa Indonesia menjadi tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses.

Kalau di Bahasa Inggris kita bilang “I went to Jogja”, di Bahasa Indonesia sesudah “saya pergi ke Jogja” harus ada kata tambahan yang menunjukkan kalau itu terjadi di masa lampau seperti “kemarin”, atau “dua tahun yang lalu.”

Nah, sekarang bagaimana membedakan past tense dengan perfect tense? Secara singkat bisa dikatakan bahwa past tense dipakai untuk menceritakan kejadian yang terjadi di masa lalu. Titik. Fokusnya ada pada “kejadian”nya. Perfect tense, di sisi lain, dipakai untuk menceritakan bahwa satu kejadian sudah selesai dikerjakan. Fokusnya ada pada “sudah terjadi”.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses, konsep Present Perfect diterjemahkan dengan menggunakan kata “sudah” (atau “belum”) di Bahasa Indonesia.

Jadi kalau kita mau bertanya kepada seseorang apakah dia sudah sarapan atau belum, tentu saja kita pakai Present Perfect “Have you had/eaten breakfast?”, sedangkan kalau kita mau bertanya kapan kejadian sarapan itu terjadi, tentu saja kita akan pakai Past Tense “What time did you have breakfast?”

Bahasa Inggris mudah? Mungkin tidak, tapi pelan-pelan memahaminya akan membuat tujuan kita belajar Bahasa Inggris lebih dekat.

richard ariefiandy