Aku di Bahasa Thai

Aku di Bahasa Thai

Hai semua! Di postingan kali ini kita akan membahas satu topik yang sederhana saja; apa arti “saya” di Bahasa Thailand.

Sebagai orang Indonesia, lebih mudah memahami bahwa di Bahasa Thai ada banyak sekali kata yang berarti “saya”, sebagaimana di Bahasa Indonesia ada banyak cara merujuk ke diri sendiri (memakai kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL). Kita punya kata-kata seperti: aku, saya, awak, gue, aye, ane, abdi, dan lain-lain. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa dalam Bahasa Indonesia hal ini wajar karena kita punya banyak kata-kata serapan dari Bahasa-bahasa daerah.  Meskipun demikian harus diakui bahwa alternatif untuk “saya” ada banyak sekali; seseorang bisa memilih memakai kata yang dia inginkan sesuai dengan latar belakang (agama, suku, budaya) dia.

Kembali ke pembahasan kita. Ada berapa kata untuk merujuk ke diri sendiri dalam Bahasa Thai? Jawabannya, banyak sekali. Kita lihat akan sebagian saja.

ผม [phom], ชั้น [chán]

Kata ผม adalah kata yang sangat fleksibel dan sopan. Bisa dipakai untuk situasi formal maupun tidak formal. Bentuk ini HANYA dipakai oleh pria.

Kata ชั้น umumnya hanya dipakai oleh wanita dan biasanya situasinya tidak formal dan dipakai oleh wanita yang lebih tua ketika bicara dengan orang yang lebih muda. Menariknya, ada beberapa versi kata ini: ดิฉัน, ดิชั้น, dan ฉัน [dìchăn, dìchán, chăn]. Dua yang pertama formal sekali dan jarang dipakai, sedangkan yang terakhir tidak dipakai kalau bicara dengan teman dekat. Kadang pria memakai kata ชั้น tetapi hanya dengan teman perempuan yang cukup dekat atau keluarga perempuan. Di Bahasa Indonesia mungkin ini setara dengan “saya” atau di Bahasa Jawa “kulo” atau di Bahasa Sunda “sim kuring.”

Sebagai tambahan, bentuk ชั้น atau ฉัน bisa ditemukan di lagu-lagu Thai yang penyanyinya pria, karena bentuk ini cukup sopan dan universal (bisa dipakai oleh gender yang manapun).

เรา [rao]

Kata ini bisa berarti “kita/kami” dan cukup sopan tetapi sebagai “saya”, bentuk ini cukup umum dipakai oleh pria dan wanita bicara dengan orang yang seumuran. Ini lebih dekat dengan “aku” di Bahasa Indonesia.

หนู [nŭu]

Kata ini berarti “tikus”. Mungkin cukup lucu melihatnya dipakai di Bahasa Thai sebagai “saya” tetapi anak-anak memakainya untuk bicara dengan orang dewasa. Anak perempuan/wanita muda juga bisa memakai kata ini untuk merujuk ke diri sendiri ketika bicara dengan atasan atau orang yang dihormati (seperti bos atau guru).

กู [guu]

Perhatian! Kata ini dianggap kasar sekali dan hanya dipakai dalam dua kondisi: kalau kita bicara dengan teman yang sangat akrab atau kalau kita sedang sangat marah. Sebaiknya dihindari kalau tidak yakin memakainya. Laki-laki atau perempuan bisa memakai kata ini, tetapi sebagian orang memandang bahwa kalau dipakai perempuan akan terdengar sangat sangat kasar.Ini mirip sekali dengan “gue” di Bahasa Indonesia slang atau seperti “aing” di Bahasa Sunda kasar.

Istilah kekerabatan

Dalam beberapa postingan berbahasa Inggris (di sini, sini, dan sini), saya menyampaikan bahwa di Bahasa Indonesia ada banyak istilah kekerabatan dan kesemuanya bisa dipakai sebagai kata ganti orang. Kita pernah dengar bahwa bapak memanggil dirinya dengan “bapak”, atau kakak perempuan kita memanggil dirinya dengan “mbak”. Dalam Bahasa Thai hal serupa bisa kita temukan juga. Mungkin kita bisa membahas istilah kekerabatan dalam Bahasa Thai di postingan yang lain.

Nama

Ya. Nama bisa dipakai sebagai kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL. Beberapa orang Sunda yang saya kenal memanggil diri mereka sendiri memakai nama mereka sendiri. Di Bahasa Thai ini hal yang umum, tetapi lebih sering dipakai oleh perempuan daripada laki-laki.

Ada banyak detail yang saya tidak masukkan di sini karena secara umum, ini cukup untuk dipakai oleh para peminat dan pembelajar Bahasa Thai.

Advertisements

Present Continuous Tense (Seri Tense)

Present Continuous Tense

Hai sobat pembaca! Kini kita akan membahas tentang Present Continuous Tense. Kenapa tense ini penting? Tense ini merupakan salah satu tense yang sering dipakai. Fungsi utamanya adalah menceritakan aktivitas yang sedang dilakukan (ongoing activitiy), aktivitas sementara (temporary action) yang terjadi saat si pembicara sedang bicara.

Kalau teman-teman belum lihat artikel tentang cara membuat kalimat di Bahasa Inggris dan simple present tense, mungkin ada baiknya kalau dilihat dulu. Oya, kita tidak akan membahas Past Continuous Tense karena ada aspek yang khusus yang membedakannya dengan Present Continuous Tense. Kalau mau tahu aspek apa itu, ikuti terus postingan ini.

Pola Present Continuous Tense

Bagaimana membentuk kalimat dengan pola ini? Mudah saja. Di postingan sebelumnya kita tahu bahwa kita tidak bisa membentuk kalimat tanpa subjek dan verb (yang dimaksud verb ini adalah verb 1 dan verb 2; verb sejati), dan kalau tidak ada verb sejati (adjective, noun, lokasi, verb-ing, verb 3), maka verbnya diganti dengan to be (verb semu? :D).

Seperti dua posts sebelumnya (tentang cara membuat kalimat di Bahasa Inggris dan tentang simple present tense), subjek dan verb harus selalu kompak (istilah kerennya Subject-Verb Agreement). Kita lihat contoh berikut:

He is cleaning his room. (dia sedang membersihkan kamarnya)

Pada contoh di atas, subjeknya adalah he, kata ganti ORANG KETIGA TUNGGAL. Kata ganti ini (he dan she) harus selalu diikuti oleh is. Lain halnya dengan contoh di bawah:

I am watching a match between France and Hungary. (saya sedang menonton pertandingan Perancis lawan Hungaria)

Karena menggunakan kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL (atau I), kita harus memakai am. Dan sisanya (you, they, we) diikuti oleh are. Mudah bukan?

Belajar dari kesalahan

Seharusnya mudah, tetapi masih banyak yang ketika bicara entah mereka ketinggalan TO BE (harusnya bilang they are eating, jadi bilang they eating) atau ketinggalan –ing (menjadi they are eat), yang mana membuat orang malah jadi bingung apakah mau bicara tentang kejadian yang SEDANG berlangsung (present continuous), atau mau bicara tentang rutinitas (simple present). Kesalahan lain yang terkait ini adalah memakai present continuous dengan tepat tetapi konteksnya keliru (misalnya mau bercerita tentang rutinitas, tetapi malah memakai present continuous tense).

Dalam Bahasa Inggris, konteks waktu sangat penting. Dari situ kita bisa mengerti apakah kejadiannya terjadi di masa lampau, atau di masa kini; apakah sudah direncanakan atau baru terlintas di pikiran; apakah pernah terjadi atau belum sama sekali. Karena mengandung tense, jika orang bicara dengan tense yang keliru, keseluruhan konteks percakapan bisa jadi kacau. Berbeda dengan Bahasa Indonesia, misalnya, di mana kita tahu di Bahasa Indonesia tidak ada bedanya antara simple past dengan simple present, jadi kita sudah membangun konteks di awal atau dengan bantuan kata-kata penunjuk waktu (kemarin, sekarang, dua tahun yang lalu, bulan ini, dll).

Fungsi lain?

Present Continuous Tense punya fungsi lain, selain untuk menceritakan kejadian yang SEDANG berlangsung. Satu fungsi terkait dengan Future Tense (akan dibahas nanti) sedangkan satu lagi adalah fungsi yang tidak terlalu sering ditemukan, mengeluhkan kelakuan seseorang/sesuatu. Coba lihat contoh di bawah ini:

She is always asking personal questions. (Dia selalu menanyakan pertanyaan pribadi)

Perhatikan bahwa di contoh di atas, penutur mengucapkan hal di atas karena jengkel dengan kelakuan she yang selalu bertanya tentang hal-hal pribadi. Untuk fungsi ini, Present Continuous Tense harus memakai always di antara to be dengan verb-ing.

Kinship Terminology in Indonesian

Kinship Terminology In Indonesian

What makes kinship terminology in Indonesian different?

From English, of course. Well, suffice to say that Indonesian kinship terminology is heavily based on ‘seniority’ instead of gender, even though gender does affect the terms to some extent. But what makes kinship terminology in Indonesian a little bit more complicated is the influence of local languages. Kinship terminology in Indonesian is colored with local elements.

Our siblings

Let’s start with sibling. The Indonesian word for sibling is saudara. It’s gender neutral. Putting laki-laki (male) or perempuan (female) after saudara will make it into brother or sister, respectively. However, many Indonesians use the word saudara not only for siblings, but also anyone related to them, such as cousins and other relatives. Indonesians usually prefer adik and kakak when referring to siblings; adik for younger siblings and kakak is for older siblings. Once again, putting laki-laki and perempuan after the words makes them more gender specific, and as you can see, Indonesians distinguish (blood) siblings based more on how old they are relative to you instead of their gender.

There are some alternatives of calling kakak (not that many with adik, presumably because Indonesians tend to pay more attention to words they use for older people rather than to the younger ones) in some local languages and many are gender specific. In Javanese, mas and mbak are used for older brother and sister, respectively, while in Sundanese they have aa/akang and teteh. In Minang language, they have uda (older brother) and uni (older sister), while Malay Indonesians have abang and kakak; yes, the same kakak used in Indonesian language is actually older sister in Malay.

Parents and their siblings

If you know Indonesian, you probably know that bapak means father and ibu means mother. Do you know that Indonesians also use other terms? Ayah, papa, abi, babe, are all alternatives for bapak. The word papa is from the influence of Romance languages, abi is Arabic, and babe is Betawi language (influenced by Persian?). Meanwhile bunda, mama, ummi, and emak are alternatives for ibu. Of course different local cultures will use different words.

Parents’ siblings in Indonesian is actually simple. Aunt is bibi (Malay) or tante (Dutch) and Uncle is paman (Malay) or oom (Dutch). They seem to be gender specific, but not age specific, right? Well, that’s true, but don’t forget, some Indonesians use local languages with more specific terms. In Sundanese, your parents’ brother and sister are mamang and bibi, but your parents’ sibling is just uwak. In Javanese, your parents’ older brother is pak de and your parents’ older sister is bu de, while your parents’ younger brother is pak lek and your parents’ younger sister is bu lek.

At least in Indonesian, Javanese, and Sundanese, our parents’ siblings are distinguished based on the gender and (to a certain extent) age relative to the parents. However, in other languages of Indonesia, they also distinguish whether the sibling is from the father’s side or mother’s side.

Kinship terminology for?

Indonesians use kinship terminology not only to call relatives. We extend the use of the terms for people who are not family. You might know from this post and this post that these terms are also used as pronouns.

Listening Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Listening Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini.

Oke, sekarang kita mulai, ya.

Yang membedakan IELTS dengan TOEFL bukan hanya jumlah tesnya atau jumlah soalnya, tetapi juga tipe pertanyaan yang ada. Kita tahu bahwa di dalam TOEFL tipe pertanyaannya hanya multiple choice questions (pilihan ganda). Namun, di dalam IELTS ada banyak sekali tipe pertanyaan. Untuk mereka yang belum pernah sama sekali mengikuti tes ini, pasti akan kebingungan dan keliru menjawab, dan bisa jadi kekeliruan itu tidak karena tidak tahu jawabannya tapi tidak tahu BAGAIMANA menjawabnya.

Pertama-tama kita lihat dulu seperti apa percakapan di tes ini. Sebagaimana kalian tahu di sini, tes ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi dialog tentang kehidupan sehari-hari, dan bisa berisi tentang percakapan telepon antara seorang agen asuransi dengan klien, atau percakapan antara agen kerja dengan calon karyawan.

Bagian kedua berisi monolog, tetapi masih tentang kehidupan sehari-hari. Monolog ini bisa jadi berisi tentang seorang yang menjelaskan paket program liburan atau tur di museum.

Bagian ketiga dan keempat adalah tentang kehidupan akademik tetapi bedanya bagian ketiga berisi dialog dan bagian keempat berisi monolog. Bagian ketiga bisa berisi dialog antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa lain bicara tentang tugas, atau antara seorang mahasiswa dengan dosen atau administrator kampus. Bagian keempat hampir selalu berisi kuliah. Berbeda dengan ketiga bagian sebelumnya, di bagian keempat tidak ada istirahat (monolog untuk sepuluh pertanyaan langsung) meskipun peserta tes harus berpindah halaman.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Setidaknya ada lima macam tipe pertanyaan di tes ini, yaitu:

Multiple Choice

Tipe pertanyaan ini sangat umum. Kita hanya harus memilih jawaban yang tepat. Kadang-kadang pertanyaannya mengharuskan kita memilih dua jawaban. Karena itu jangan lupa melihat dan membaca INSTRUKSI baik-baik.

Untuk tipe pertanyaan seperti ini, peserta tes harus mampu memahami isi tiap pertanyaan dan pilihannya baik tersurat maupun tersirat, karena di rekaman jawabannya seringkali tidak memakai kata-kata yang persis sama dengan kata-kata di pertanyaan dan pilihan.

Completion (form, table, sentence, note, summary)

Tipe pertanyaan ini mengharuskan peserta untuk melengkapi formulir, tabel, kalimat, ringkasan, atau catatan. Biasanya soal-soal melengkapi formulir ada di section 1 dari listening test, di mana peserta mendengarkan percakapan seorang klien dan agen (misalnya), dan melengkapi formulir berisi informasi klien itu.

Khusus untuk sentence completion dan summary completion, karena jawabannya merupakan bagian dari kalimat, maka grammar penting sekali. Peserta tes harus tahu apakah harus menulis dengan artikel (the/a/an), plural (s), kata kerja (present, past, future, verb-ing). Dan sekali lagi, baca INSTRUKSI berapa jumlah kata yang bisa ditulis.

Labelling (map, diagram)

Untuk tipe pertanyaan ini, peserta tes diharuskan memberi label pada peta atau diagram sambil mendengarkan deskripsi peta atau diagram tersebut di rekaman.

Short-answer

Tipe pertanyaan ini mirip dengan sentence completion, bedanya, ini bentuknya adalah pertanyaan yang cukup dijawab dengan sangat singkat.

Matching and classifying

Dari semua tipe, tipe ini yang paling menantang (minimal untuk saya). Kenapa? Tipe soal ini mengharuskan pengambil tes untuk memahami tiap pernyataan dan kategori, dan mengkategorikan ke dalam kategori-kategori yang tersedia. Misalnya, ada lima pernyataan yang berisi penemuan dan tiga kategori yang berisi nama-nama penemunya. Peserta tes harus mengkategorikan penemuan mana yang dibuat oleh penemu yang mana.

 

Simple Present Tense (Seri Tense)

Simple Present Tense

Hai sobat English learners, di postingan kali ini kita akan membahas salah satu tenses di Bahasa Inggris. Gak suka belajar grammar? Hmm… Jangan khawatir. Tidak perlu belajar grammar pakai rumus-rumus yang harus dihapalkan setengah mati. Yang namanya belajar grammar itu yang penting tahu prinsip saja cara memakainya. Sebelum kalian membaca tulisan ini, pastikan kalian tahu bagaimana cara membuat kalimat yang benar di Bahasa Inggris di sini.

Kita hanya akan membahas tenses yang sering dipakai saja, ya. Kini kita mulai dengan Simple Present Tense.

Apa Sih Simple Present Tense Itu?

Tense yang satu ini sengaja dibahas pertama karena frekuensi kemunculannya cukup banyak dalam pembicaraan. Kenapa bisa begitu? Ini terkait dengan fungsinya. Apa itu?

Pertama, tense ini dipakai kalau kita mau bercerita tentang kegiatan rutin kita. Misalnya tiap hari kita bangun jam 6 pagi, kita bisa bilang

I wake up every day at 6.

Contoh lain, kalau kita mau bilang kita mudik setahun dua kali.

I go home (to my hometown) twice a year.

Sejauh ini mudah kan? Ada fungsi lain? Tentu saja ada.

Kalau sobat sekalian mau menjelaskan fakta umum, seperti matahari terbit setiap pagi, kita bisa bilang

The sun rises every morning.

Fakta khusus seperti misalnya, kami punya sepuluh mobil, kita bisa bilang

We have ten cars.

Atau misalnya kita mau bilang kucing dia suka coklat

Her cat likes chocolate.

Verb Harus Sesuai Dengan Subjek.

Dari contoh-contoh di atas coba teman-teman perhatikan, ada kata kerja yang memakai -s (likes, rises) dan ada yang tidak (wake, go, have). Teman-teman tahu kenapa ini berbeda? Tentunya ini bukan karena kata kerja aslinya ada -s, melainkan karena di kata kerja ini sengaja ditambahkan -s.

Jadi begini, di bahasa-bahasa Eropa kata-kata kerja bisa berubah bentuk sesuai dengan subjek kalimat (pelaku). Subjek “I, you, they, we”, di Bahasa Inggris, tidak mengubah kata kerja, tetapi subjek “he, she” mengubah kata kerja (dalam hal ini ditambahkan -s atau -es). Ini disebut sebagai Subject-Verb Agreement. Buat kalian yang mau mengambil TOEFL, topik ini paling sering diujikan di Section 2 ITP TOEFL (Structure). Dibandingkan Bahasa Spanyol atau Bahasa Jerman, Bahasa Inggris masih terbilang mudah. Jadi, jangan menyerah ya!

NB: Perlu teman-teman ketahui bahwa verb yang dimaksud di sini adalah verb bentuk pertama (Verb 1) atau disebut juga sebagai bentuk infinitive atau bentuk kamus karena bisa langsung dicari di kamus.

Simple Present Tense Tanpa Verb

Contoh-contoh kalimat yang saya tulis di atas adalah kalimat yang mengandung aktivitas (kalimat verbal). Lalu bagaimana dengan kalimat-kalimat yang tidak ada aktivitasnya, misalnya mau mengatakan “ibu saya baik”? Di tulisan sebelumnya kita tahu semua kalimat bahasa Inggris perlu verb. Karena kata ‘baik’ bukan verb, maka kita perlu TO BE. Sekarang kalau kita mau mengatakan fakta bahwa ibu saya baik, kita bisa bilang

My mother is kind.

Contoh lain, kalau kita mau bilang bahwa teman-teman kita di Jogja, kita bisa bilang

My friends are in Jogja.

Simple Present Tense Negatif

Pembahasan di atas menggunakan contoh-contoh kalimat positif (tidak mengandung TIDAK/BUKAN). Bagaimana kalau kita mau membuat kalimat yang mengandung TIDAK/BUKAN? Sederhana saja. Kalau ada kata kerja, kita tinggal tambahkan DO NOT atau DOES NOT sebelum kata kerja itu, sedangkan kalau ada TO BE kita tinggal tambahkan NOT sesudah TO BE. Kalau kita pakai contoh-contoh di atas lagi, maka kalimat negatifnya menjadi

I DO NOT wake up at 6.

I DO NOT go home twice a year.

The sun DOES NOT rise every morning (seperti bisa dilihat, -s dari rises sekarang hilang dan menjelma menjadi DOES)

We DO NOT have ten cars.

Her cat DOES NOT like chocolate (sama seperti sebelumnya, -s dari likes sekarang hilang)

My mother is NOT kind.

My friends are NOT in Jogja.

Sekali lagi harap diingat bahwa kalau teman-teman memakai Simple Present Tense, pakai itu untuk menceritakan kebiasaan atau fakta di masa sekarang.

Latihan

Sekarang kita latihan ya… Buka kamus boleh lho. Jangan lupa, sesuai penjelasan di tulisan sebelumnya, kalimat Bahasa Inggris harus mengandung subjek dan verb, ya.

  1. Rumahku di Jalan Sudirman, tidak di Jalan Pattimura.
  2. Sepupu saya tinggal dengan kami di sini. Dia tidak tinggal dengan orang tuanya.
  3. Setiap tahun kita jalan-jalan ke Australia, tetapi tidak pergi ke Sydney.
  4. Adik laki-laki dia adalah teknisi. Dia bukan dokter.
  5. Saya tidak suka nonton film horor. Saya selalu takut dengan film horor.

 

Richard Ariefiandy

To Be in Indonesian

To Be in Indonesian

When people learn Indonesian for the first time, they might encounter a simple yet significant fact that Indonesian language is simple because it has no “to be”. Or does it? As a person progresses with his study, he will find that Indonesian does have “to be”. It is not as important as it is in English but it exists, nonetheless.

In English, “to be” is distinguished based on what the subject is (plural/singular). However, Indonesian “to be” is distinguished based on the function. Let’s see the explanations below.

Adalah

Saya adalah guru.” (I am a teacher)

Adalah is to be used with nouns. As you see from the example above, adalah is followed by a noun (guru). Adalah can be omitted from a sentence without changing the meaning of the sentence. It is not important. In fact, putting adalah will make a sentence sound a little bit formal. So instead of saying “saya adalah guru”, you can say “saya guru”.

This word can actually be used to define something and thus make this word become pretty much needed, especially when to be in the question is ‘itu’ (see below).

Ada

Mereka ada di Bali.” (They are in Bali)

Ada originally means ‘to exist’. This word is to be used with locations; meaning, it should be followed with preposition di and place/location. Just like adalah, this word is not important. You can always say “mereka di Bali” and it’s perfectly fine. You can use ada to emphasize their existence/position.

[nothing]

Nothing? What does that mean? Well, so far you know the two words representing ‘to be’ in Indonesian and both are not important that we can omit them in spoken or written language. You must be wondering, what’s the difference between those two ‘nothing’ (because they’re unnecessary) with this ‘nothing’? This ‘nothing’ means that you really have no word for it.

Dia baik sekali.” (She is very nice)

When to be is followed by an adjective (describing word), you don’t translate the ‘to be’. This is not because it’s unnecessary like the previous two words, but because it doesn’t exist at all. As a matter of fact, putting something (adalah/ada) in that kind of sentence would render it wrong. Or is it?

Itu

This is interesting because not many people might agree with my opinion that this demonstrative word can actually play a role as a ‘to be’, while they actually say it (and sometimes write it). Itu as a ‘to be’ can be seen in questions with apa (asking for a definition), like:

Apa itu cinta?” (What is love?)

The question asks for the definition of cinta (love) while the affirmative sentence below gives a simple description of cinta using an adjective or clause. However, please mind that this pattern is often used to give descriptions, and tend to have more poetic/artistic sense.

Cinta itu buta. Cinta itu indah. Cinta itu sesuatu yang membuat kita melihat dunia sebagai tempat yang lebih baik.” (Love is blind. Love is beautiful. Love is something that makes us see the world as a better place)

Merupakan

This last one is very formal and tend to be used when you are describing something and is usually followed by a phrase or a clause.

Uang merupakan masalah semua orang.” (Money is everyone’s problem)

Dia merupakan orang yang dipercaya bisa membawa perusahaannya keluar dari masalah.” (He is someone believed to be able to bring the company out of the problem)

Struktur Bahasa Jepang

Struktur Bahasa Jepang

Hai sobat pembaca! Kita bertemu lagi di postingan baru… Minggu lalu, kita pernah membahas satu bahasa asing selain Bahasa Inggris dan Indonesia, yaitu Bahasa Thai. Kali ini  kita akan membahas satu bahasa asing lain yang cukup populer di Indonesia, Bahasa Jepang.

Bahasa Jepang populer di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu karena popularitas Jpop, drama, manga, dan anime. Selain karena itu, banyak produk Jepang merambah Indonesia, belum lagi Jepang punya banyak atraksi untuk turis dan tempat yang bagus untuk belajar dan bekerja.

Sebelum membahas struktur bahasa ini, kita akan diskusikan sedikit persamaan dan perbedaan antara bahasa ini dengan Bahasa Indonesia.

Mungkin tidak banyak persamaan yang bisa kita angkat, ya. Ini karena kita memang kedua bahasa ini (Indonesia dan Jepang) tidak berasal dari keluarga bahasa yang sama. Meskipun begitu, karena kita sama-sama berada di Asia, ada beberapa hal kultural yang tercermin dalam bahasa mereka yang sama dengan yang ada dalam bahasa kita; kata ganti orang (pronomina). Ada banyak kata ganti orang di Jepang, dan seperti halnya kita di Bahasa Indonesia, kita bisa memakai kata sapaan (bapak, ibu, kakak, dll – tentunya dalam Bahasa Jepang) sebagai kata ganti orang.

Sekarang, bagaimana dengan perbedaan keduanya? Banyak sekali. Mulai dari struktur kalimat, bunyi kata-kata, dan semacamnya. Bahasan-bahasan kita di sini (dan semoga di postingan selanjutnya) akan  menyoroti perbedaan ini. Nah, ayo kita mulai bahasan pertama kita, Struktur Bahasa Jepang.

Struktur Bahasa Jepang

Bahasa Jepang agak sedikit sulit karena beberapa alasan berikut: verb (kata kerja) letaknya di akhir kalimat [struktur kalimatnya Subjek-Objek-Verb], verb sedikit berubah sesuai dengan fungsi, huruf berbeda (hiragana, katakana, dan kanji yang totalnya lebih dari 2000 huruf), ada level kesopanan dan formalitas, dan ada banyak sekali partikel. Langsung saja kita lihat strukturnya di bawah ini. Sebelumnya kita akan pelajari beberapa kosakata terlebih dahulu.

私 [watashi] = saya (formal)

優しい [yasashii] = baik hati/ramah

あの人 [anohito] = orang itu (dia)

です [desu] = to be-nya Bahasa Jepang (bentuk formal-present tense)

りんご [rin-go] = apel

食べる [taberu] = makan (bentuk kamus, bentuk biasa-present tense); 食べました [tabemashita] = makan (bentuk formal-past tense); 食べます (bentuk formal-present/future tense)

インドネシア人 [indoneshia-jin] = orang Indonesia

インドネシア人です [watashi wa Indonesia-jin desu] = Saya adalah orang Indonesia.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat nonverbal yang mengandung kata benda インドネシア人 (orang Indonesia). Di sini seperti bisa teman-teman lihat kalimatnya terdiri atas subjek (私), diikuti oleh huruf は (dibaca “wa”) yang berfungsi sebagai partikel (penanda) bahwa kata sebelumnya adalah subjek, diikuti oleh kata benda yang berisi keterangan bahwa subjeknya adalah orang Indonesia (インドネシア人), dan diakhiri oleh to be (です).

あの人は優しいです [ano hito wa yasashii desu] = Dia baik hati.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat nonverbal yang mengandung kata sifat 優しい (baik hati). Di sini seperti bisa teman-teman lihat kalimatnya terdiri atas subjek (あの人), diikuti oleh huruf は lagi yang menandakan bahwa , diikuti oleh kata sifat yang menerangkan bahwa subjeknya baik hati (優しい), dan diakhiri oleh to be (です).

私とあの人はりんご食べました [watashi to ano hito wa ringo wo tabemashita] = Saya dan dia makan apel.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat verbal yang mengandung kata kerja 食べる(makan). Dari daftar kata di atas, teman-teman bisa lihat bahwa kata-kata kerjanya (termasuk to be) berubah sesuai dengan formal/tidak dan juga tense-nya. Pada kalimat ini, seperti bisa teman-teman lihat, kalimatnya terdiri atas subjek (私とあの人). Subjeknya ada dua, yaitu 私 (saya) dan あの人 (dia) dipisahkan oleh partikel とyang berarti “dan”. Subjek ini diikuti oleh huruf は lagi yang merupakan partikel subjek, diikuti oleh objek (りんご). Bisa teman-teman lihat di atas ada satu partikel yang ditebalkan (を) yang berfungsi menandai kata sebelumnya sebagai objek, dan diakhiri oleh kata kerja (食べました).

Penting untuk dicatat bahwa dalam Bahasa Jepang kita akan menemukan banyak partikel-partikel yang sebagiannya sulit untuk diterjemahkan seperti は dan を. Namun, ada juga partikel-partikel yang bisa dengan mudah diterjemahkan, seperti と (dan). Partikel adalah hal unik di Bahasa Jepang yang kadang juga membuat pembelajaran Bahasa Jepang menjadi sedikit sulit. Tapi, kalau teman-teman mau mulai belajar, jangan menyerah! Semua bisa diatasi asal niat kuat!

Selamat belajar!

 

Richard Ariefiandy