Reading Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Reading Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini. Kita juga sudah membahas IELTS Listening. Untuk yang belum membaca, dipersilakan berkunjung ke sini.

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, tes reading terdiri atas empat puluh pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu enam puluh menit. Tes ini dibagi ke dalam tiga teks (passages) di mana masing-masing teks terdiri atas 13-14 pertanyaan. Mungkin ada yang bertanya, apakah ada perbedaan tingkat kesulitan teks-teks ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita bahas sedikit tentang seperti apa teks di reading test ini.

Dari postingan ini kita tahu bahwa ada dua jenis IELTS: general training dan academic. Untuk listening dan speaking, tidak ada perbedaan antara general maupun academic IELTS. Adapun untuk reading dan writing, kesulitan antara keduanya dibedakan, dengan academic IELTS memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Teks di academic reading test akan berisi artikel-artikel ilmiah. Artikel-artikel ini topik cakupannya luas sekali, mulai dari sejarah sampai geologi.

Tidak paham kajian sejarah? Tidak mengambil kursus audiologi? Tidak masalah. Bahasa yang digunakan dalam teks sebenarnya cukup populer. Nah, sekarang, apakah antara satu teks dengan teks lain ada kesulitan yang signifikan? Sebenarnya yang menjadi masalah bukan tingkat kesulitan teks, melainkan: seberapa familiar topiknya untuk kita, dan stamina saat mengerjakan teks.

Berbeda dengan TOEFL, teks IELTS academic reading cukup panjang (hampir selalu dua halaman). Dengan variasi tipe pertanyaan yang membuat peserta tes harus bekerja keras memahami pertanyaan dan mencari jawaban, kadang peserta kelelahan dan konsentrasinya berkurang, apalagi sebelumnya peserta baru saja ujian listening dan sesudah ini akan dilanjutkan dengan ujian writing. Berlatih mengerjakan tes ini dalam waktu satu jam cukup membantu dalam melatih stamina.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Berbeda dengan listening, setidaknya ada tujuh macam tipe pertanyaan di tes ini. Lima tipe pertanyaan sama dengan yang ada di listening test, jadi kalau belum baca tentang itu, bisa cek di sini. Lima tipe pertanyaan yang sama dengan listening adalah:

  1. Multiple Choice
  2. Completion (form, table, sentence, note, summary)
  3. Labelling (map, diagram)
  4. Short-answer
  5. Matching and classifying

Adapun dua tipe pertanyaan lainnya adalah:

  1. Matching headings, endings, and information

Ini adalah salah satu tipe pertanyaan yang cukup menyebalkan. Kenapa? Untuk mencari jawabannya, peserta tes harus bolak balik melihat opsi yang ada lalu kembali ke teks. Jadi, bagaimana bentuk tipe pertanyaan ini? Untuk matching headings, peserta diberikan sejumlah judul (biasanya diurutkan dengan angka romawi) dan teks dengan paragraf yang sudah diurutkan dengan huruf. Di sini peserta harus menentukan judul yang tepat untuk setiap paragraf.

IELTS_Reading_MH

Untuk matching endings, peserta akan diberikan sejumlah ending (biasanya diurutkan dengan huruf) dan di bawahnya peserta akan melihat beberapa pernyataan yang tidak lengkap. Peserta harus menentukan ending yang mana yang cocok untuk mengakhiri pernyataan yang tidak lengkap itu. Peserta harus merujuk ke teks untuk menentukan apakah ending itu sesuai, karena pada dasarnya ending itu ada di teks tetapi diubah dengan parafrase.

IELTS_Reading_ME

Sementara itu, untuk matching information, biasanya teksnya sudah diurutkan dengan huruf. Peserta diberikan sejumlah informasi dan harus menentukan di paragraf yang mana informasi itu bisa ditemukan.

IELTS_Reading_MI

  1. True/False/Not Given or Yes/No/Not Given

Banyak murid yang mengeluhkan tipe pertanyaan ini. Sejauh ini, tipe pertanyaan ini memang yang paling sulit, paling mengecoh, karena kita hanya terbiasa dengan True/False saja. Untuk kita, Not Given tidak familiar.

Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kalau pernyataan yang ada di pertanyaan itu secara tersirat maupun tersurat sama dengan yang terdapat di teks, maka itu benar (nomor 21, di teks ditandai 1). Kalau tidak sama, maka tidak benar (nomor 22, di teks ditandai 2). Kalau pernyataan di pertanyaan itu tidak disebutkan sama sekali, maka not given (nomor 23). Sebagai contoh, di teks disebutkan fakta tentang modern water system dan water system in ancient Greek and Roman, kemudian di pertanyaannya dikatakan bahwa modern water system meniru yang dari jaman Yunani/Romawi kuno, padahal di teks tidak ada pernyataan itu. Ini termasuk not given. Kenapa? Fakta tentang keduanya jelas ada di teks. Yang jadi masalah hanya satu. Tidak ada pernyataan yang tegas tentang “meniru”/”imitate”, jadi jawabannya not given.

Harap hati-hati sekali ketika mengerjakan soal ini. Kadang murid merasa punya prior knowledge (pengetahuan yang mereka sudah pelajari sebelumnya), sehingga merasa tahu jawabannya. Ketika mereka menjawab sesuai pikiran mereka, ternyata jawabannya salah. Perlu diketahui bahwa tes ini adalah tes Reading Comprehension; tes yang menguji kemampuan kita memahami teks berbahasa Inggris. Apapun yang kalian pikirkan atau rasakan tentang teks tinggalkan dulu di luar ruang tes.

Advertisements

Uncountable Noun (Seri Noun)

Uncountable Noun

Hola! Kita bertemu lagi di postingan baru. Kali ini kita akan membahas topik uncountable noun. Dalam postingan sebelumnya, kita sudah membahas perbedaan countable dan uncountable nouns secara singkat. Kali ini kita akan membahas sedikit lebih dalam tentang apa itu uncountable noun dan apa konsekuensinya (bagaimana menggunakannya) dalam Bahasa Inggris.

Apa itu uncountable noun?

Masih ingat apa itu uncountable noun? Kita ulas sedikit, ya. Banyak orang mengatakan bahwa uncountable noun adalah benda yang tidak bisa dihitung. Tentunya ini tidak sepenuhnya benar, ya, sebagaimana sudah di bahas di sini. Uncountable noun tentu saja bisa dihitung, tetapi kita harus memakai classifier, seperti a glass of atau a kg of.

Benda apa saja yang termasuk uncountable noun? Dalam postingan sebelumnya, kita tahu bahwa material (substansi) termasuk ke dalam kategori noun ini. Jadi, air (udara), water (air), wood (kayu), dan sebagainya termasuk uncountable noun. Apakah itu saja? Tentu tidak. Hal-hal abstrak juga termasuk ke dalam uncountable noun, contohnya: love, advice, information, money, research.

Konsekuensi 1 – Tanpa artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita tidak boleh meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Kalau mau meletakkan a/an, kita harus meletakkannya di depan classifier. Contohnya sebagai berikut:

I have an information. x
I have information.
I have a piece of information.

 

Konsekuensi 2 – Tanpa bentuk plural

Konsekuensi kedua ini merupakan konsekuensi logis dari konsekuensi pertama. Karena uncountable noun tidak bisa memakai artikel a/an, maka dia tidak boleh dibuat plural. Dengan demikian, secara otomatis benda/hal yang memakai artikel a/an bisa dibuat plural. Kalau mau membuat plural, kita harus membuat plural classifiernya.

I drank waters. x
I drank water.
I drank two glasses of water.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb

Nah lho. Apa pula ini? Jadi begini teman-teman, karena uncountable noun tidak memakai artikel a/an dan tidak memakai bentuk plural, secara otomatis benda/hal yang tergolong uncountable dianggap singular (tunggal). Dengan demikian, kalau dia berfungsi sebagai subjek, maka harus diikuti singular verb.

Apa itu singular verb? Verb yang diikuti oleh he/she/it untuk simple present tense pasti memakai –es/-s, bukan? Nah, itulah singular verb (termasuk juga is). Lihat contoh di bawah ini.

Love needs money. (kita pakai needs, bukan need)

Water is important for us. (kita pakai is, bukan are)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi ingat konsekuensi kedua; tidak boleh pakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will give you some advice.

I haven’t given anyone any information about the project.

He has a lot of money to spend.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus uncountable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh uncountable noun.

A little/little = I need a little money. (bukan a few/few)

Much = You put too much coffee in it. (bukan many)

Amount = I can see a small amount of snow outside. (bukan number)

To Be Dalam Bahasa Thai

To Be Dalam Bahasa Thai

Hai teman-teman peminat Bahasa, khususnya Bahasa Thai. Setelah sebelumnya kita membahas cara membuat kalimat Bahasa Thai dan kata ganti orang pertama (aku/saya) di Bahasa Thai, sekarang saatnya kita membahas bagian penting dalam kalimat Bahasa Thai. To Be. Sebagaimana halnya di Bahasa Indonesia, Bahasa Thai juga punya To Be. Bukan hanya Bahasa Inggris yang punya To Be, lho. Bahasa kita juga punya. Penasaran? Cek di sini.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang To Be-nya tidak terlalu penting, kalimat di Bahasa Thai harus punya To Be. Coba lihat penuturan di bawah ini.

เป็น

Kata di atas dibaca ‘pen’ dan seringkali ditransliterasi sebagai ‘bpen’. Kenapa demikian? Pembelajar yang Bahasa ibunya adalah Bahasa Inggris sering membaca ‘p’ dengan hembusan udara, karena huruf ‘p’ di pelafalan Bahasa Inggris mengandung hembusan udara. Coba katakan ‘pay’ sambil letakkan tangan di depan mulut. Kalau ada hembusan udara, selamat, karena kalian mengucapkan kata Bahasa Inggris ini dengan tepat. Pengucapan seperti ini akan bermasalah kalau tidak ditulis sebagai ‘bp’. Sebagai orang Indonesia, tentu saja tidak akan ada masalah mengucapkan huruf ini.

Kembali lagi ke topik kita. Kata di atas berarti ‘adalah’ di Bahasa Indonesia.

ผมเป็นครู (phom pen khruu) – saya adalah guru.

Tentunya kita tahu bahwa di Bahasa Indonesia, kita tidak perlu “adalah”. Di Bahasa Thai, kata ini harus ada.

อยู่

Kata ini dibaca ‘yuu’ dengan nada rendah. Arti kata ini adalah “ada (di).” Perhatikan contoh ini:

ผมอยู่บ้าน (phom yuu baan) – saya ada di rumah.

Sebagaimana dengan “adalah”, kata “ada” tidak diperlukan dalam Bahasa Indonesia tetapi penting untuk Bahasa Thai.

Tanpa To Be

Ya! Kalian tidak salah baca. Tidak semua kalimat memakai To Be. Sebagaimana di Bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang mengandung kata sifat sebagai predikat tidak membutuhkan To Be. Lihat contoh di bawah ini:

คุณสวย (khun suai) – Anda cantik.

Sudah bisa menebak mana kata untuk “Anda” dan mana untuk “cantik”, kan?

คือ

Kata ini dibaca ‘kheu’ dan punya arti yang dekat dengan ‘yaitu’ atau ‘merupakan’; kata ini digunakan untuk mendefinisikan sesuatu. Coba lihat contoh di bawah ini.

รักคืออะไร (rak kheu arai) – Apa itu cinta?

Di sini, kata tanya “arai” (apa) diletakkan di belakang.

ครูคือคนที่สอน (khruu kheu khon thii soon) – Guru merupakan orang yang mengajar.

Seperti bisa dilihat, ‘kheu’ diikuti oleh deskripsi dari subjeknya.

คือ dan เป็น

Oke, mungkin sebagian dari teman-teman yang sudah melihat penjelasan di atas menjadi sedikit bingung tentang apa beda ‘kheu’ dan ‘pen’.

A คือ B à Di sini B memberikan definisi A. Apa itu A, dan bahwa B adalah A, bukan lainnya. Kata ini juga dipakai untuk contoh di bawah ini:

สิ่งที่ผมอยากบอกคือผมไม่จะไปต้อนนี้. (sing thii phom yaak book kheu phom mai ja pai ton ni) – Hal yang ingin saya beritahu adalah/yaitu saya tidak akan pergi sekarang. Di kalimat ini, hal yang saya ingin beritahukan adalah “saya tidak akan pergi sekarang” dan itu adalah satu-satunya yang ingin saya sampaikan, tidak ada hal lain.

A เป็น B à Di sini B memberikan identitas pada A. Coba lihat contoh ini:

จอห์นเป็นครูผม (john pen khruu phom) – John adalah guru saya. Di kalimat ini John tidak dibatasi oleh definisi “guru saya” dan dia bisa menjadi siapa saja selain guru saya. Bisa jadi selain sebagai guru saya, dia adalah manajer, ayah, atau orang Australia.

Constructing Questions in Indonesian

Constructing Questions

Constructing a question in Indonesian is very easy. As one of the easiest languages to learn, Indonesian has S-V-O word order (the same as English), and without verb inflections (verb changes due to the time and the number or gender of the subject). This means you do not need to mind the verbs or whether you need an extra verb (helping verb) for your question.

Yes/No Question

To make a written Y/N question in Indonesian you only have to put a “?” (Question mark) at the end of an affirmative sentence, instead of a full stop.

Kamu sudah pergi ke Jogja. (You have been to Jogja)

Kamu sudah pergi ke Jogja? (Have you been to Jogja?)

Very easy, right? When speaking, you just need to raise the intonation of the last part of the sentence.

Apakah

This is a question word needed to construct a formal Y/N question. How do you use it? Put it at the beginning of every Y/N question; as simple as that!

Apakah kamu sudah pergi ke Wellington? (Have you been to Wellington?)

Apakah kita akan selesaikan PR malam ini? (Will we finish our homework tonight?)

Apakah dia suka makanan Italia? (Does he like Italian food?)

WH (Information) Question

Even though constructing a question is indeed easy, to make a WH question is a tricky thing. It is not about where you put the verb or subject, but rather where you put the question word. As you know from the explanation above, Indonesian questions are basically affirmative sentences ended with a question mark. Indonesian WH questions require you to put question words right in the position of where the expected answer is supposed to be located. Let me give you an example.

 

20160613_Illus01

Siapa, berapa, yang mana

These question words should be put where the answer is. Changing the position of the question words will render the question meaningless or may change the meaning at all. Look at these examples:

20160613_Illus02

 

Apa

Apa is usually used to ask objects and is almost always put at the end or after the verb.

Q: Mereka mau makan apa untuk makan siang? (What do they want for lunch?)

A: Mereka mau makan pizza untuk makan siang. (They want pizza for lunch.)

Kapan, (di/ke/dari) mana

These question words can be positioned anywhere you want without worrying that you might change the meaning. Look at the examples.

20160613_Illus03

 

Kenapa, Bagaimana

Don’t worry. These two always come in the beginning of a question.

20160613_Illus04

 

Simple Past Tense (Seri Tense)

Simple Past Tense

Sebelum mulai membaca postingan ini, ada baiknya teman-teman membaca prinsip dasar kalimat Bahasa Inggris dan Simple Present Tense yang sudah dibahas sebelumnya.

Bahasan kali ini adalah Simple Past Tense. Kenapa ada Past Tense? Ini memang sulit untuk saya jawab sendiri. Tenses pada dasarnya adalah ciri beberapa Bahasa di dunia, tidak hanya Bahasa Inggris dan Bahasa-bahasa Eropa lainnya. Jenisnya pun macam-macam. Apakah tenses ada di semua Bahasa? Tentu saja tidak. Tenses biasanya ditunjukkan dengan perubahan pada kata kerja. Bahasa-bahasa yang tidak mengalami perubahan kata kerja untuk menunjukkan waktu adalah Bahasa yang tidak mempunyai tenses; salah satunya adalah Bahasa Indonesia.

Mempelajari tenses suatu Bahasa memang rumit bahkan untuk mereka yang di Bahasa aslinya punya tenses. Kita harus mengingat perubahan kata kerjanya, kita juga harus tahu kapan memakainya. Banyak orang menawarkan cara menghapal kilat tenses, tetapi yang jadi masalah, menghapal belum tentu membuat orang bisa memakainya dengan tepat. Untuk yang ini mungkin akan kita bahas di postingan yang lain.

Simple Past Tense

Kata simple dalam Simple Past Tense menyiratkan polanya yang sederhana. Sederhana bagaimana? Kalimat Simple Past Tense minimal hanya terdiri atas satu subjek dan satu verb bentuk past. Tidak ada to be, tidak ada verb-ing, tidak ada modal. Hanya subjek dan verb, seperti halnya Simple Present Tense.

Apa manfaatnya? Simple Past Tense bermanfaat sekali untuk menunjukkan bahwa apa yang kita bicarakan adalah kejadian yang terjadi di masa lalu dan sudah berlalu. Perkara apakah kejadian itu bekasnya masih bisa kita lihat di masa kini atau tidak, itu tidak menjadi masalah. Coba lihat contoh berikut:

His car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak)

Kalimat di atas menunjukkan bahwa mobil dia rusak di masa lalu (kemarin). Kapan mobil dia mulai rusak? Tidak tahu. Apakah mobil dia sudah diperbaiki? Tidak tahu. Yang kita tahu, mobil itu rusak di masa lalu. Titik. Kita hanya tahu kejadian bahwa mobilnya kemarin rusak.

Kalimat Verbal Simple Past Tense

Sebagaimana sudah dibahas di atas, pola kalimat tense ini sangat sederhana. Subjek dan Verb bentuk past. Mungkin teman-teman masih ingat waktu belajar Simple Present Tense bahwa kata kerja Simple Present berubah sesuai subjeknya (memakai –es/-s atau tidak). Jangan khawatir. Untuk simple past, tidak ada perubahan apa-apa. Meski demikian ada satu masalah.

Verb di dalam simple past tense ada dua jenis, regular dan irregular. Regular tidak terlalu sulit untuk menghapalnya karena hanya perlu ditambahkan –ed/-d, hanya perlu sedikit latihan untuk pengucapannya karena ada tiga jenis cara pengucapan (kita bahas di postingan lain). Irregular, di sisi lain, cukup merepotkan. Untuk irregular verbs, mau tidak mau kita harus selalu menghapal kata-kata kerja baru untuk setiap kata kerja bentuk present yang sudah kita ketahui.

My friend bought a house. (Teman saya membeli rumah) –irregular

They recorded the meeting. (Mereka merekam rapatnya) –regular

Pertanyaan dan Kalimat Negatif Verbal

Kalau di simple present tense kita punya do dan does untuk membuat pertanyaan dan kalimat negatif, di simple past kita hanya perlu memakai did.

I did not go to the museum. (Saya tidak pergi ke museum)

Did you tell her to stay here? (Apakah kamu bilang ke dia untuk tinggal di sini?)

Where did you find it? (Kamu menemukan itu di mana?)

Kalimat Nonverbal Simple Past Tense

Masih ingat di sini dan di sini, bahwa kalimat afirmatif (postif) secara umum ada dua, yaitu verbal (mengandung action) dan nonverbal (tidak mengandung action). Karena kalimat Bahasa Inggris harus memakai verb, maka karena tidak ada action kita harus memakai kata kerja palsu alias to be past tense. Coba lihat contoh di bawah ini:

She was at the hospital. (Dia di rumah sakit) –was (to be) diikuti lokasi.

Your friends were worried because you didn’t come home. (Teman-temanmu khawatir karena kamu tidak pulang) –were (to be) diikuti kata sifat.

Pertanyaan dan Kalimat Negatif Nonverbal

Sederhana saja, untuk kalimat tanya kita letakkan was/were di depan, sedangkan untuk kalimat negatif, kita hanya perlu meletakkan not sesudah was/were. Coba lihat contoh berikut ini.

We were not at home. (Kami tidak di rumah)

Was he a member of the council? (Apakah dia anggota dewan?)

Mudah bukan?

Sebelum kita akhiri, saya ingin menyampaikan satu hal penting. Pembelajar Bahasa Inggris seringkali terkecoh ketika mendengar pertanyaan past tense. Kenapa? Karena kata kerja di pertanyaan past tense memakai bentuk present.

(question words) + Did + subjek + verb bentuk present

Di sini murid seringkali menjawab dengan simple present tense juga karena mendengar verb bentuk present. Hati-hati! Selalu ingat konteksnya, dan perhatikan apakah penanya memakai DID atau DO/DOES.

Review

Sekarang kita review ya. Hal-hal yang membuat simple past tense rumit adalah pemakaiannya (kita harus selalu menyadari bahwa kejadiannya lampau meskipun baru beberapa detik yang lalu), dan mengahapalkan irregular verbs, dan menyadari bahwa pertanyaannya selalu memakai verb present tapi jawabannya harus pakai verb past.

Apa yang mudah dari simple past tense? Tidak perlu bingung apakah suatu kata kerja harus pakai –es/-s atau tidak!

Sudah tahu prinsipnya? Saatnya berlatih! Hapalkan lima kata kerja dan buatlah kalimat afirmatif, tanya, dan negatif. Ulang-ulangi sampai kalian nyaman dengan polanya, kemudian bayangkan situasi di mana kalian bisa memakainya.

Why Indonesian is Malay and Not Javanese?

Why Indonesian is Malay and not Javanese-

You just started studying Indonesian, and one day you go to Malaysia. You notice that a lot of words are familiar to you. You know from sources you read that Indonesian and Malaysian are basically one language. Why is that so?

Since a long time ago, Malay language that was spoken in northeast Sumatera has been used in Indonesian archipelago for hundreds of years. As lingua franca, it is mainly used as the language of trade even by some of the eastern part of now Indonesia (of which the native languages are of Western Papuan Family).

During colonialization, Malay was significantly used as a trading and political language. The Dutch were reluctant to promote the use of their language, and so Malay was popular among the commoners while Dutch is used by the elite, in contrast to other colonialists (the French, Portuguese, and even the British). This was probably done because the Dutch did not want the Indonesians to see themselves as equals to them.

Despite the Youth Congress in 1928 which agreed on the use of Indonesian language as the unification language, the Dutch language was still dominant in a lot of formal aspects. However, in 1938 Indonesian was used in the people’s council (Volksraad) much to the Dutch’s chagrin. By the time the Dutch realized that the use of Indonesian language is a threat to their interest, it was too late.

Now, the question here is why didn’t Indonesian founding fathers choose Javanese? Javanese as an option really made sense. First, Javanese kingdoms were powerful and dominant. Second, It was (and still is) the language with the most number of first speakers in the whole archipelago. Third, a lot of the founding fathers are Javanese, including the first president (whose father was a Javanese aristocrat).

The reason is very simple. Javanese is not a simple language. It’s very impractical. When you learn Javanese you have to learn three different styles; Krama inggil, krama madya, and ngoko. If you think it’s easy, think again! Those styles are basically different languages not because of verb inflections (changes in the verbs to signify different functions); they have different sets of vocabulary. For every one thing (or idea), you have to remember three different words! Not only that, you also have to know where and when you should use those languages.

Have I mentioned that even though you are using krama inggil (the most polite and formal style), you have to be able to choose when to lower yourself or honor someone else. There are different words for that also. In fact, what’s confusing is that you can answer using a krama inggil verb to show your superiority by using honorific verbs. Confusing? I know.

Now you know why Malay is more preferred and practical and why it was chosen as Indonesian.