Perkenalan Bahasa Thai

Pengantar Bahasa Thai

Hai teman-teman pembelajar Bahasa! Sudah lama, ya, kita tidak membahas Bahasa Thai. Meskipun kita sudah membicarakan “struktur Bahasa Thai”, “saya” dan “to be” di Bahasa Thai, ada pembahasan yang penting sekali yang saya lupa tulis di awal, perkenalan dengan Bahasa Thai. Nah, tulisan kali ini akan membicarakan itu. Untuk teman-teman yang baru pertama kali belajar Bahasa Thai atau masih penasaran sebenarnya Bahasa Thai itu seperti apa, silakan baca terus postingan ini.

Seperti apa Bahasa Thai?

Bahasa Thai termasuk dalam satu keluarga Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Tai-Kadai yang mana penutur asli Bahasa-bahasa ini tersebar di daerah Asia Tenggara di sekitar tempat yang sekarang menjadi Thailand, Kamboja, Burma, Vietnam, Laos, dan Cina. Berbeda sekali dengan Bahasa Indonesia (dan Bahasa Malaysia) serta Bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia (kecuali bahasa daerah yang ada di Papua) merupakan satu rumpun Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Austronesia.

Pelafalan

Bahasa ini, dan anggota keluarganya (dari Tai-Kadai), merupakan Bahasa tonal. Bahasa tonal adalah Bahasa yang setiap kata mengandung nada tertentu. Kalau nada kata tersebut keliru diucapkan, maka artinyapun akan berbeda atau mungkin tidak akan ada artinya sama sekali. Ini mungkin mengingatkan orang akan Bahasa Cina (Mandarin, Kanton, dll). Sulit? Perlu pembiasaan saja.

Bahasa Thai memiliki lima nada. Nada tengah (middle tone), nada tinggi (high tone), nada rendah (low tone), nada naik (rising tone), nada turun (falling tone). Teman-teman bisa melihat di youtube atau sumber-sumber belajar Thai lain di mana kalian bisa melatih pengucapan nada ini. Mungkin saya bisa memberi gambaran sedikit tentang pengucapan nada-nada ini. Middle tone diucapkan secara monoton, bayangkan robot bicara (atau google translate!). Rising tone diucapkan seperti kalau kita bertanya dan menaikkan nada di akhir kalimat. Falling tone diucapkan seperti orang teriak “aww” kalau kesakitan. Terbayang? Oke, sekarang low tone diucapkan seperti kalau kita sedang kesal (bukan marah, ya) pada seseorang dan kita rendahkan nada di akhir kalimat. High tone diucapkan seperti kalau kita terkejut; bayangkan kita bilang “apa?” ketika mendengar kabar yang mengejutkan.

Aksara Thai

Bahasa Thai, sebagaimana Bahasa-bahasa Tai-Kadai lain cukup unik karena aksara mereka sangat berbeda dengan aksara latin. Tulisan-tulisannya merupakan turunan dari aksara indic/brahmic yang satu rumpun dengan tulisan Jawa. Jangan tercampur-campur ya. Bahasa Thai tidak satu rumpun dengan Bahasa Jawa. Yang satu rumpun hanya tulisannya. Kenapa bisa begitu? Ini sedikit banyak ada kaitannya dengan agama Hindu-Buddha yang menyebar di Asia Tenggara pada abad ke-5 Masehi yang membawa aksara ini bersama dengan agamanya.

Ada empat puluh konsonan di Bahasa Thai. Empat puluh konsonan ini dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu kelompok High Consonant, Middle Consonant, dan Low Consonant. Hati-hati! High consonant tidak berarti High Tone, ya! High, middle, dan low consonants hanya pengelompokkan konsonannya saja. Empat puluh konsonan artinya akan ada lebih dari satu huruf yang mewakili satu bunyi. Bahasa Thai punya banyak konsonan karena banyak kosakata yang mereka bawa dari Bahasa Sansekerta atau Pali, di mana kedua Bahasa itu mengandung bunyi yang lebih banyak daripada bunyi di Bahasa Thai. Karena ingin mempertahankan ejaan kosakata dari Bahasa Sansekerta dan Pali ini, maka aksara di Bahasa Thai ada banyak. Jangan khawatir, pelajari saja kira-kira 25 konsonan yang paling sering dipakai kalau teman-teman tertarik belajar. Kalau sudah lancar, pelajari sisanya.

Bagaimana dengan huruf vokal? Kalau teman-teman bisa menulis dengan aksara Jawa, mungkin teman-teman ketahui vokal di aksara Jawa lebih merupakan tanda dan bukan aksara. Ini juga sama persis dengan Bahasa Thai. Tanda-tanda vokal bisa muncul di sebelah kiri, kanan, atas, bawah, atau kombinasinya. Karena ini merupakan perkenalan Bahasa Thai, mungkin kita tidak akan membahas banyak.

Oya, interaksi antara konsonan dan vokal ini nantinya akan menentukan nada apakah yang muncul. Di samping interaksi konsonan-vokal, Bahasa Thai juga punya tanda-tanda nada yang menentukan nada yang akan dipakai. Sulit? Yah, harus diakui tulisan Bahasa Thai memang lebih sulit karena alasan ini. Aksara Cina jadi terlihat lebih mudah karena satu huruf mewakili satu suku kata dan satu makna.

Tata Bahasa

Sebagai orang Indonesia, Bahasa Thai akan jauh lebih mudah dipahami. Kenapa? Tata Bahasanya tidak berbeda dengan Bahasa kita, lho. Tidak ada tenses, Bahasa Thai memakai kata ‘sudah’ persis sama seperti Bahasa Indonesia (bandingkan dengan ‘sudah’ di Bahasa Inggris), kata kerjanya tidak berubah karena tenses atau subjek, susunan kalimatnya kurang lebih sama, tidak ada kata benda tunggal atau jamak, to be-nya sama dengan Bahasa Indonesia, kata ganti orangnya ada banyak dan bisa memakai kata sapan seperti bapak atau ibu sebagai kata ganti orang (contohnya di sini).

Sebagai kesimpulan, meskipun ada hal-hal yang sulit di Bahasa Thai, ada juga hal-hal yang mudah dipelajari bagi orang Indonesia. Untuk teman-teman yang suka Bahasa Thai, terus ikuti blog ini. Kita akan bahas hal-hal lain yang lebih menarik lainnya nanti.

To Be Dalam Bahasa Thai

To Be Dalam Bahasa Thai

Hai teman-teman peminat Bahasa, khususnya Bahasa Thai. Setelah sebelumnya kita membahas cara membuat kalimat Bahasa Thai dan kata ganti orang pertama (aku/saya) di Bahasa Thai, sekarang saatnya kita membahas bagian penting dalam kalimat Bahasa Thai. To Be. Sebagaimana halnya di Bahasa Indonesia, Bahasa Thai juga punya To Be. Bukan hanya Bahasa Inggris yang punya To Be, lho. Bahasa kita juga punya. Penasaran? Cek di sini.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang To Be-nya tidak terlalu penting, kalimat di Bahasa Thai harus punya To Be. Coba lihat penuturan di bawah ini.

เป็น

Kata di atas dibaca ‘pen’ dan seringkali ditransliterasi sebagai ‘bpen’. Kenapa demikian? Pembelajar yang Bahasa ibunya adalah Bahasa Inggris sering membaca ‘p’ dengan hembusan udara, karena huruf ‘p’ di pelafalan Bahasa Inggris mengandung hembusan udara. Coba katakan ‘pay’ sambil letakkan tangan di depan mulut. Kalau ada hembusan udara, selamat, karena kalian mengucapkan kata Bahasa Inggris ini dengan tepat. Pengucapan seperti ini akan bermasalah kalau tidak ditulis sebagai ‘bp’. Sebagai orang Indonesia, tentu saja tidak akan ada masalah mengucapkan huruf ini.

Kembali lagi ke topik kita. Kata di atas berarti ‘adalah’ di Bahasa Indonesia.

ผมเป็นครู (phom pen khruu) – saya adalah guru.

Tentunya kita tahu bahwa di Bahasa Indonesia, kita tidak perlu “adalah”. Di Bahasa Thai, kata ini harus ada.

อยู่

Kata ini dibaca ‘yuu’ dengan nada rendah. Arti kata ini adalah “ada (di).” Perhatikan contoh ini:

ผมอยู่บ้าน (phom yuu baan) – saya ada di rumah.

Sebagaimana dengan “adalah”, kata “ada” tidak diperlukan dalam Bahasa Indonesia tetapi penting untuk Bahasa Thai.

Tanpa To Be

Ya! Kalian tidak salah baca. Tidak semua kalimat memakai To Be. Sebagaimana di Bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang mengandung kata sifat sebagai predikat tidak membutuhkan To Be. Lihat contoh di bawah ini:

คุณสวย (khun suai) – Anda cantik.

Sudah bisa menebak mana kata untuk “Anda” dan mana untuk “cantik”, kan?

คือ

Kata ini dibaca ‘kheu’ dan punya arti yang dekat dengan ‘yaitu’ atau ‘merupakan’; kata ini digunakan untuk mendefinisikan sesuatu. Coba lihat contoh di bawah ini.

รักคืออะไร (rak kheu arai) – Apa itu cinta?

Di sini, kata tanya “arai” (apa) diletakkan di belakang.

ครูคือคนที่สอน (khruu kheu khon thii soon) – Guru merupakan orang yang mengajar.

Seperti bisa dilihat, ‘kheu’ diikuti oleh deskripsi dari subjeknya.

คือ dan เป็น

Oke, mungkin sebagian dari teman-teman yang sudah melihat penjelasan di atas menjadi sedikit bingung tentang apa beda ‘kheu’ dan ‘pen’.

A คือ B à Di sini B memberikan definisi A. Apa itu A, dan bahwa B adalah A, bukan lainnya. Kata ini juga dipakai untuk contoh di bawah ini:

สิ่งที่ผมอยากบอกคือผมไม่จะไปต้อนนี้. (sing thii phom yaak book kheu phom mai ja pai ton ni) – Hal yang ingin saya beritahu adalah/yaitu saya tidak akan pergi sekarang. Di kalimat ini, hal yang saya ingin beritahukan adalah “saya tidak akan pergi sekarang” dan itu adalah satu-satunya yang ingin saya sampaikan, tidak ada hal lain.

A เป็น B à Di sini B memberikan identitas pada A. Coba lihat contoh ini:

จอห์นเป็นครูผม (john pen khruu phom) – John adalah guru saya. Di kalimat ini John tidak dibatasi oleh definisi “guru saya” dan dia bisa menjadi siapa saja selain guru saya. Bisa jadi selain sebagai guru saya, dia adalah manajer, ayah, atau orang Australia.

Aku di Bahasa Thai

Aku di Bahasa Thai

Hai semua! Di postingan kali ini kita akan membahas satu topik yang sederhana saja; apa arti “saya” di Bahasa Thailand.

Sebagai orang Indonesia, lebih mudah memahami bahwa di Bahasa Thai ada banyak sekali kata yang berarti “saya”, sebagaimana di Bahasa Indonesia ada banyak cara merujuk ke diri sendiri (memakai kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL). Kita punya kata-kata seperti: aku, saya, awak, gue, aye, ane, abdi, dan lain-lain. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa dalam Bahasa Indonesia hal ini wajar karena kita punya banyak kata-kata serapan dari Bahasa-bahasa daerah.  Meskipun demikian harus diakui bahwa alternatif untuk “saya” ada banyak sekali; seseorang bisa memilih memakai kata yang dia inginkan sesuai dengan latar belakang (agama, suku, budaya) dia.

Kembali ke pembahasan kita. Ada berapa kata untuk merujuk ke diri sendiri dalam Bahasa Thai? Jawabannya, banyak sekali. Kita lihat akan sebagian saja.

ผม [phom], ชั้น [chán]

Kata ผม adalah kata yang sangat fleksibel dan sopan. Bisa dipakai untuk situasi formal maupun tidak formal. Bentuk ini HANYA dipakai oleh pria.

Kata ชั้น umumnya hanya dipakai oleh wanita dan biasanya situasinya tidak formal dan dipakai oleh wanita yang lebih tua ketika bicara dengan orang yang lebih muda. Menariknya, ada beberapa versi kata ini: ดิฉัน, ดิชั้น, dan ฉัน [dìchăn, dìchán, chăn]. Dua yang pertama formal sekali dan jarang dipakai, sedangkan yang terakhir tidak dipakai kalau bicara dengan teman dekat. Kadang pria memakai kata ชั้น tetapi hanya dengan teman perempuan yang cukup dekat atau keluarga perempuan. Di Bahasa Indonesia mungkin ini setara dengan “saya” atau di Bahasa Jawa “kulo” atau di Bahasa Sunda “sim kuring.”

Sebagai tambahan, bentuk ชั้น atau ฉัน bisa ditemukan di lagu-lagu Thai yang penyanyinya pria, karena bentuk ini cukup sopan dan universal (bisa dipakai oleh gender yang manapun).

เรา [rao]

Kata ini bisa berarti “kita/kami” dan cukup sopan tetapi sebagai “saya”, bentuk ini cukup umum dipakai oleh pria dan wanita bicara dengan orang yang seumuran. Ini lebih dekat dengan “aku” di Bahasa Indonesia.

หนู [nŭu]

Kata ini berarti “tikus”. Mungkin cukup lucu melihatnya dipakai di Bahasa Thai sebagai “saya” tetapi anak-anak memakainya untuk bicara dengan orang dewasa. Anak perempuan/wanita muda juga bisa memakai kata ini untuk merujuk ke diri sendiri ketika bicara dengan atasan atau orang yang dihormati (seperti bos atau guru).

กู [guu]

Perhatian! Kata ini dianggap kasar sekali dan hanya dipakai dalam dua kondisi: kalau kita bicara dengan teman yang sangat akrab atau kalau kita sedang sangat marah. Sebaiknya dihindari kalau tidak yakin memakainya. Laki-laki atau perempuan bisa memakai kata ini, tetapi sebagian orang memandang bahwa kalau dipakai perempuan akan terdengar sangat sangat kasar.Ini mirip sekali dengan “gue” di Bahasa Indonesia slang atau seperti “aing” di Bahasa Sunda kasar.

Istilah kekerabatan

Dalam beberapa postingan berbahasa Inggris (di sini, sini, dan sini), saya menyampaikan bahwa di Bahasa Indonesia ada banyak istilah kekerabatan dan kesemuanya bisa dipakai sebagai kata ganti orang. Kita pernah dengar bahwa bapak memanggil dirinya dengan “bapak”, atau kakak perempuan kita memanggil dirinya dengan “mbak”. Dalam Bahasa Thai hal serupa bisa kita temukan juga. Mungkin kita bisa membahas istilah kekerabatan dalam Bahasa Thai di postingan yang lain.

Nama

Ya. Nama bisa dipakai sebagai kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL. Beberapa orang Sunda yang saya kenal memanggil diri mereka sendiri memakai nama mereka sendiri. Di Bahasa Thai ini hal yang umum, tetapi lebih sering dipakai oleh perempuan daripada laki-laki.

Ada banyak detail yang saya tidak masukkan di sini karena secara umum, ini cukup untuk dipakai oleh para peminat dan pembelajar Bahasa Thai.

Struktur Bahasa Jepang

Struktur Bahasa Jepang

Hai sobat pembaca! Kita bertemu lagi di postingan baru… Minggu lalu, kita pernah membahas satu bahasa asing selain Bahasa Inggris dan Indonesia, yaitu Bahasa Thai. Kali ini  kita akan membahas satu bahasa asing lain yang cukup populer di Indonesia, Bahasa Jepang.

Bahasa Jepang populer di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu karena popularitas Jpop, drama, manga, dan anime. Selain karena itu, banyak produk Jepang merambah Indonesia, belum lagi Jepang punya banyak atraksi untuk turis dan tempat yang bagus untuk belajar dan bekerja.

Sebelum membahas struktur bahasa ini, kita akan diskusikan sedikit persamaan dan perbedaan antara bahasa ini dengan Bahasa Indonesia.

Mungkin tidak banyak persamaan yang bisa kita angkat, ya. Ini karena kita memang kedua bahasa ini (Indonesia dan Jepang) tidak berasal dari keluarga bahasa yang sama. Meskipun begitu, karena kita sama-sama berada di Asia, ada beberapa hal kultural yang tercermin dalam bahasa mereka yang sama dengan yang ada dalam bahasa kita; kata ganti orang (pronomina). Ada banyak kata ganti orang di Jepang, dan seperti halnya kita di Bahasa Indonesia, kita bisa memakai kata sapaan (bapak, ibu, kakak, dll – tentunya dalam Bahasa Jepang) sebagai kata ganti orang.

Sekarang, bagaimana dengan perbedaan keduanya? Banyak sekali. Mulai dari struktur kalimat, bunyi kata-kata, dan semacamnya. Bahasan-bahasan kita di sini (dan semoga di postingan selanjutnya) akan  menyoroti perbedaan ini. Nah, ayo kita mulai bahasan pertama kita, Struktur Bahasa Jepang.

Struktur Bahasa Jepang

Bahasa Jepang agak sedikit sulit karena beberapa alasan berikut: verb (kata kerja) letaknya di akhir kalimat [struktur kalimatnya Subjek-Objek-Verb], verb sedikit berubah sesuai dengan fungsi, huruf berbeda (hiragana, katakana, dan kanji yang totalnya lebih dari 2000 huruf), ada level kesopanan dan formalitas, dan ada banyak sekali partikel. Langsung saja kita lihat strukturnya di bawah ini. Sebelumnya kita akan pelajari beberapa kosakata terlebih dahulu.

私 [watashi] = saya (formal)

優しい [yasashii] = baik hati/ramah

あの人 [anohito] = orang itu (dia)

です [desu] = to be-nya Bahasa Jepang (bentuk formal-present tense)

りんご [rin-go] = apel

食べる [taberu] = makan (bentuk kamus, bentuk biasa-present tense); 食べました [tabemashita] = makan (bentuk formal-past tense); 食べます (bentuk formal-present/future tense)

インドネシア人 [indoneshia-jin] = orang Indonesia

インドネシア人です [watashi wa Indonesia-jin desu] = Saya adalah orang Indonesia.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat nonverbal yang mengandung kata benda インドネシア人 (orang Indonesia). Di sini seperti bisa teman-teman lihat kalimatnya terdiri atas subjek (私), diikuti oleh huruf は (dibaca “wa”) yang berfungsi sebagai partikel (penanda) bahwa kata sebelumnya adalah subjek, diikuti oleh kata benda yang berisi keterangan bahwa subjeknya adalah orang Indonesia (インドネシア人), dan diakhiri oleh to be (です).

あの人は優しいです [ano hito wa yasashii desu] = Dia baik hati.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat nonverbal yang mengandung kata sifat 優しい (baik hati). Di sini seperti bisa teman-teman lihat kalimatnya terdiri atas subjek (あの人), diikuti oleh huruf は lagi yang menandakan bahwa , diikuti oleh kata sifat yang menerangkan bahwa subjeknya baik hati (優しい), dan diakhiri oleh to be (です).

私とあの人はりんご食べました [watashi to ano hito wa ringo wo tabemashita] = Saya dan dia makan apel.

Kalimat di atas adalah struktur kalimat verbal yang mengandung kata kerja 食べる(makan). Dari daftar kata di atas, teman-teman bisa lihat bahwa kata-kata kerjanya (termasuk to be) berubah sesuai dengan formal/tidak dan juga tense-nya. Pada kalimat ini, seperti bisa teman-teman lihat, kalimatnya terdiri atas subjek (私とあの人). Subjeknya ada dua, yaitu 私 (saya) dan あの人 (dia) dipisahkan oleh partikel とyang berarti “dan”. Subjek ini diikuti oleh huruf は lagi yang merupakan partikel subjek, diikuti oleh objek (りんご). Bisa teman-teman lihat di atas ada satu partikel yang ditebalkan (を) yang berfungsi menandai kata sebelumnya sebagai objek, dan diakhiri oleh kata kerja (食べました).

Penting untuk dicatat bahwa dalam Bahasa Jepang kita akan menemukan banyak partikel-partikel yang sebagiannya sulit untuk diterjemahkan seperti は dan を. Namun, ada juga partikel-partikel yang bisa dengan mudah diterjemahkan, seperti と (dan). Partikel adalah hal unik di Bahasa Jepang yang kadang juga membuat pembelajaran Bahasa Jepang menjadi sedikit sulit. Tapi, kalau teman-teman mau mulai belajar, jangan menyerah! Semua bisa diatasi asal niat kuat!

Selamat belajar!

 

Richard Ariefiandy

Struktur Bahasa Thai

Struktur Bahasa Thai

Hai teman-teman pembaca richariefiandy.tk! Di postingan kali ini kita tidak akan membahas Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kita akan membahas… Bahasa Thai! Kenapa Bahasa Thai?

Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa postingan ini membahas Bahasa Thai. Saya pikir penting juga kalau ada variasi diskusi blog yang selama ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Bahasa Inggris atau Indonesia atau linguistik.

Kebanyakan website yang selama ini membahas Bahasa Thai ada di Bahasa Inggris, dan selama ini saya belajar Bahasa Thai dari sumber-sumber itu. Cukup menolong, sih, tapi sebenarnya belajar Bahasa Thai dari Bahasa Indonesia akan jauh lebih mudah. Hal ini dikarenakan tata bahasa kita yang tidak jauh berbeda; akan lebih mudah bagi kita untuk memahami Bahasa Thai kalau pengantarnya adalah dari Bahasa Indonesia. Kata-kata/ekspresi yang sulit dicari padanannya di Bahasa Inggris, bisa kita cari dengan mudah di Bahasa Indonesia.

Di samping alasan-alasan itu, ada juga alasan sampingan. Thailand adalah negara tetangga yang banyak dikunjungi orang Indonesia, belum lagi penggemar film-film Thailand juga cukup banyak. Minat mempelajari Bahasa Thai mulai tumbuh, lho.

Oke, kita mulai, ya.

Kali ini yang akan kita bahas adalah struktur kalimat di Bahasa Thai. Struktur Bahasa Thai penting dibahas karena ini dasar sekali. Untuk bicara atau menulis, kita perlu tahu bagaimana kata-kata dirangkai, bukan? Sebelum kita mulai, saya akan perkenalkan beberapa kosa kata yang akan kita pakai di sini.

Kosa kata

ผม = saya (sopan; laki-laki)

เป็น = adalah

คน = orang

อินโดนีเซีย = Indonesia

มี = punya

เพื่อน = teman

๑ คน = dua orang

หล่อ = ganteng

มาก = banyak (juga berarti sangat/banget/sekali)

Kalimat non-verbal dengan kata benda

Kalimat ผมเป็นคนอินโดนีเซีย (baca: phom pen khon Indoniisiiya) artinya saya adalah orang Indonesia. Struktur kalimatnya sama persis, bukan? Harap diperhatikan bahwa di sini kata เป็น yang artinya adalah harus tetap ada di kalimat yang diikuti oleh kata benda seperti contoh di atas; berbeda dengan di Bahasa Indonesia di mana kita bisa memakai atau menghilangkan kata adalah. Sekarang kita lihat contoh kalimat yang mengandung kata kerja.

Kalimat verbal

ผมมีเพื่อน๑คน (baca: phom mii pheuan song khon) artinya saya punya dua orang teman. Kata-kata seperti dua piring, tiga gelas, satu kilogram, lima orang, dikenal dengan istilah quantifier di Bahasa Inggris. Sedikit berbeda dengan Bahasa Indonesia, di Bahasa Thai, quantifier harus disebutkan di belakang. Jadi kalau di Bahasa Indonesia kita bisa bilang saya pesan dua piring nasi atau saya pesan nasi dua piring, di Bahasa Thai harus saya pesan nasi dua piring. Sekarang, bagaimana dengan kalimat yang mengandung kata sifat?

Kalimat non-verbal dengan kata sifat

ผมหล่อมาก (baca: phom loo maak) artinya saya ganteng sekali. Berbeda dengan struktur kalimat pertama yang mengandung kata benda sehingga sesudah ผม (saya) harus ada  เป็น (adalah), kalimat dengan kata sifat seperti contoh ini tidak memerlukan  เป็น (adalah). Ini persis sama dengan di Bahasa Indonesia di mana kita tidak bilang saya adalah ganteng, bukan begitu? (Yang kalau bicara masih pakai adalah sebelum kata sifat, ayo periksa lagi Bahasa Indonesianya!)

Bagaimana teman-teman? Penjelasan di atas cukup jelas dan singkat, bukan? Ayo kita pelajari Bahasa Thai sama-sama. Nanti akan ada lebih banyak postingan tentang Bahasa Thai, lho. Ikuti terus dan jangan lupa subscribe ya.

Richard Ariefiandy

Ikhsan, our kid…

Ikhsan is a… um… very special kid at the playgroup i worked. He is so amazing. Some might notice that he is different, he has differences… well… yes, he’s a special need child, but instead of focusing his difference, we tend to see him from a different point of view.

He’s five (getting ready for his kindergarten), at his first day, he only speaks spanish. We’re getting him used with english and Indonesian. Although sometimes I would greet him with “como estas?” and “hola”. But to be honest, he develops his language skill very good. He can read (according to spanish spelling, of course), and today we saw him write several words in English (by using pictures as hints).

We love Ikhsan very much. Seeing him (and other children) here has given us moments to be remembered.

Efcharisto…

For the last 2-3 days a friend of mine has been very helpful. He’s greek and live in Greece. The only one word I know in Greek is only Efcharisto, and it happened to mean “thank you”.

We thank people for many things they do to us. But what we sometime don’t realize is that the existence of those we love, those we appreciate, oftenly more valuable then what they’ve given to us. I read a passage long time ago, that the importance of someone can actually felt exactly after they left us.

So, dont forget to treasure moments you have with your friends, lovers, husband/wives, children, and many more.img_2398