Countable Noun (Seri Noun)

Countable Noun

Hai sobat pembelajar Bahasa Inggris! Bagaimana kabar kalian? Masih semangat belajar Bahasa Inggris, ya. Seharusnya tulisan ini aku post kemarin, tapi karena minggu ini minggu yang sibuk, aku baru bisa update hari ini.

Sesudah membahas tentang perbedaan countable dan uncountable noun, serta pemakaian uncountable noun, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang countable noun dan bagaimana menggunakannya.

Apa itu countable noun?

Aku yakin kalian bisa membayangkan apa itu countable noun. Ya, countable noun adalah objek yang bentuknya jelas dan kalau dipotong/dihancurkan, kita tidak akan bisa menyebut hasil potongannya sebagai objek yang sama. Bayangkan sebuah pulpen yang terbuat dari plastik. Injak-injak pulpen itu, dan ambil serpihan plastiknya. Apakah masih bisa disebut pulpen? Tidak, tentu saja. Apakah material pembuatnya masih bisa disebut plastik? Bisa, tentunya. Nah, pulpen dalam hal ini adalah objek dan itu countable, sedangkan plastik adalah material dan itu uncountable.

Meskipun countable bisa dihitung tanpa classifier (a kg of, a litre of, etc), tidak berarti tidak bisa dihitung tanpa classifier. Kita masih bisa mengatakan a kg of apples, a plastic bag of chilies, dan sebagainya.

Konsekuensi 1 – Memakai artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita harus meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Meskipun ketika kita bicara Bahasa Indonesia kita cenderung tidak akan mengatakan ‘seorang’ atau ‘sebuah’, di Bahasa Inggris artikel a/an harus dipakai. Contohnya sebagai berikut:

I bought house. x
I bought a house.

Konsekuensi 2 – Bisa memakai bentuk plural

Ini cukup logis. Kalau sebuah benda bisa memakai artikel a/an artinya dia bisa dibuat bentuk plural. Ketika memakai plural kita bisa meletakkan angka atau quantifier/classifier di depannya.

I have cat. x
I have some cats.
I have six cats.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb Kalau Noun-nya singular dan diikuti Plural Verb kalau Noun-nya plural

Masih ingat di postingan yang dulu membahas Uncountable Noun dan Simple Present Tense? Singular verbs contohnya adalah is, needs, buys, has, likes, dll. Kenapa disebut singular verbs? Karena semuanya harus didahului oleh singular Nouns. Countable Noun bisa singular dan plural, karena itu verb-nya harus disesuaikan.

There is a man in my front yard. (kita pakai is, bukan are karena hanya ada 1 laki-laki)

Some people like coming here for vacation. (kita pakai like, bukan likes karena people)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi harus memakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will buy you some books when I return to England.

I haven’t sent him any emails about the project.

He has a lot of dogs at home.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus countable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh countable noun.

A few/few = Last night I made a few friends. (bukan a little/little)

Many = There are many interesting places here. (bukan much)

Number = They asked me to contact a number of people. (bukan amount)

Advertisements

Present Perfect Tense (Seri Tense)

Present Perfect Tense

Hi guys! Sesudah membahas Simple Present dan Simple Past, hari ini kita akan membahas salah satu tense yang sering juga sering dipakai: Present Perfect Tense. Kenapa namanya Present Perfect Tense? Bukankah kejadiannya di masa lalu? Pasti banyak yang bertanya-tanya. Tenang saja, yang bingung juga bukan hanya orang Indonesia. Present Perfect Tense punya kata ‘present’ di dalamnya karena kejadian yang digambarkan ada efek ‘sekarang’. Coba lihat satu contoh yang diambil dari Oxford Grammar ini.

  1. My car has broken down since yesterday. (Mobil saya (sudah) rusak sejak kemarin.)
  2. My car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak.)

Kalimat pertama menyiratkan bahwa sampai sekarang mobilnya masih rusak, karena rusaknya sejak kemarin. Sementara kalau kita mendengar kalimat kedua, yang kita pikirkan adalah kemungkinan mobilnya sudah diperbaiki, tapi mungkin juga mobilnya masih rusak. Kita tidak tahu kondisi sekarang dari mobil itu.

Pola Present Perfect Tense

I, you, they, we Have V3.
He, she, it Has
I, you, they, we Have not V3.
He, she, it Has not
(QW) + Have I, you, they, we V3?
(QW) + Has He, she, it

Mungkin tabel di atas sangat familiar untuk teman-teman. Ya, saya yakin teman-teman sudah sering sekali melihat tabel ini. Yang menjadi masalah pembelajar berkaitan dengan pola Present Perfect Tense adalah membiasakan memakai have atau has sesuai subjeknya, dan memakai V3, karena bentuknya yang berbeda dengan present dan past. Ini sebenarnya bisa dikira-kira, apalagi dengan kata kerja teratur yang semuanya berakhiran –ed.

Yang menjadi masalah lain untuk pembelajar Bahasa Inggris adalah (dan ini yang paling krusial) kapan memakainya.

Fungsi Present Perfect Tense

Sekarang, apa sebenarnya fungsi dari Present Perfect Tense? Kapan kita memakai tense ini? Pada dasarnya tense ini dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian selesai terjadi dan efeknya bisa dilihat sekarang. Contohnya bisa dilihat di atas.

Tense ini juga dipakai untuk menyatakan pengalaman (things you do at least once in your life). Di sini Present Perfect Tense berkaitan dengan kata ‘ever’. Pembahasan lengkapnya bisa dilihat di sini. Jangan lupa, ever hanya dipakai untuk kalimat negatif (not ever/never) dan kalimat tanya. Contohnya:

  • She has seen the movie. (Dia sudah (pernah) melihat film itu.)
  • She has never seen the movie. (Dia belum pernah melihat film itu.)
  • Has she ever seen the movie? (Dia sudah pernah lihat film itu?)

Fungsi paling umum adalah untuk menggambarkan kejadian yang sudah terjadi, sudah selesai. Persis sama seperti kita memakai kata ‘sudah’ di Bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut.

  • We have fixed the car. (Kami sudah memperbaiki mobilnya.)
  • Have you had breakfast? (Kamu sudah sarapan?)
  • I have finished my homework. (PRku sudah selesai.)
  • They have cleaned the table. (Mereka sudah membersihkan mejanya.)

Keterangan Waktu Present Perfect Tense

Pada umumnya keterangan waktu yang akan kita temui pada kalimat-kalimat Present Perfect Tense berupa durasi yang didahului oleh ‘for’ atau berupa exact time yang didahului oleh ‘since’. Perhatikan contoh di bawah ini.

  • I have worked here for 12 years. (saya sudah tinggal di sini untuk 12 tahun.)
  • My friend has lived here since 2010. (teman saya sudah tinggal di sini sejak 2010.)

Kedua keterangan waktu di atas tidak eksklusif milik Present Perfect Tense, karena nanti kita akan belajar bahwa keduanya (for dan since) bisa dipakai untuk Present Perfect Continuous Tense. Oya, Simple Past juga bisa memakai ‘for’. Bandingkan kedua contoh di bawah ini.

  • My brother has waited for 2 hours. (Dia sudah menunggu selama dua jam – sampai sekarang masih menunggu.)
  • My brother waited for 2 hours. (Dia menunggu selama dua jam – sekarang sudah tidak menunggu lagi.)

Untuk pembahasan tentang perbedaan dengan Past Tense, silakan lihat di sini.

Masalah Umum

  1. What have you done? Vs. What did you do?

Masalah umum pertama adalah kekeliruan memahami bedanya Simple Past dan Present Simple. Akibatnya, pembelajar tidak memahami bedanya kedua pertanyaan di atas dan nuansanya.

Kalau kita mengatakan “what have you done?” ada sesuatu yang baru saja terjadi, kita melihat hasil dari kejadian itu, dan kita menduga ini disebabkan oleh ‘you’; ada nuansa menyalahkan. Kalau memakai keterangan waktu, misalnya “what have you done in the last 20 years?” maka menjadi spesifik bahwa kita ingin tahu ‘you’ sudah melakukan apa saja dalam 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, “what did you do?” nuansanya netral. Kalau kita menanyakan ini, kita hanya ingin tahu apa yang ‘you’ lakukan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. Have you had breakfast? Vs. Did you have breakfast?

Pertanyaan pertama dan kedua pada dasarnya sama. Pertanyaan pertama menekankan ke ‘sudah’nya, dan pertanyaan kedua menyatakan bahwa dia sarapan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. I have been married. Vs. I am married.

Di Indonesia kita punya kebiasaany bertanya (dan menjawab) dengan kata ‘sudah’ (atau ‘belum’). Hal-hal yang kita tanyakan biasanya berkisar di masalah pernikahan, pekerjaan, punya anak, hal-hal yang sifatnya ‘wajib’ atau ‘tugas’ di mana hidup menjadi ‘lengkap’ kalau itu semua ‘sudah’ terpenuhi, menurut perspektif orang Indonesia.

Sayangnya, di Bahasa Inggris tidak demikian. Kita tidak bisa mengatakan “I have been married” untuk “saya sudah menikah.” “I have been married.” artinya seseorang ‘sudah pernah’ menikah.

  1. I have been to. Vs. I have gone to.

Kedua pertanyaan ini sangat berbeda, bahkan kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya sangat berbeda. “I have been to…” artinya “saya sudah pernah pergi ke…” sedangkan “I have gone to…” artinya “saya sudah pergi ke…” bahkan mungkin lebih dekat dengan “saya sudah berangkat ke…” Beda, kan, artinya?

  1. I am here. Vs. I have been here.

Satu lagi yang mirip nomor 3. Sebagai orang Indonesia kita seringkali bilang “saya sudah di sini,” menyatakan bahwa mereka “sudah sampai” di lokasi. Di Bahasa Inggris, kalau diterjemahkan dengan “I have been here” artinya malah menjadi “saya sudah pernah ke sini.” Lantas, kalau kita mau mengatakan “saya sudah di sini,” cukup dengan mengatakan ”I am here.”

  1. Terlalu sering memakai “already” dan “ever”

Karena terbiasa menerjemahkan ‘sudah’ menjadi ‘already’, kita jadi terbiasa menulis ‘already’ untuk semua yang memakai ‘sudah.’ Ini sebenarnya sebuah redundancy (pemborosan), karena pola kalimat Present Perfect Tense sudah mengandung kata ‘sudah.’ Di samping itu, tidak semua yang memakai ‘sudah’ di Bahasa Indonesia harus menjadi Present Perfect Tense.

Begitu juga dengan ‘ever.’ Karena kita terbiasa menerjemahkan kata ‘pernah’ dengan ‘ever,’ kita selalu memakai ‘ever’ untuk ‘pernah’ padahal di Bahasa Inggris, ‘ever’ hanya dipakai di kalimat tanya dan negatif, adapun kalimat positif tidak perlu karena sudah tersirat.

Reading Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Reading Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini. Kita juga sudah membahas IELTS Listening. Untuk yang belum membaca, dipersilakan berkunjung ke sini.

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, tes reading terdiri atas empat puluh pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu enam puluh menit. Tes ini dibagi ke dalam tiga teks (passages) di mana masing-masing teks terdiri atas 13-14 pertanyaan. Mungkin ada yang bertanya, apakah ada perbedaan tingkat kesulitan teks-teks ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita bahas sedikit tentang seperti apa teks di reading test ini.

Dari postingan ini kita tahu bahwa ada dua jenis IELTS: general training dan academic. Untuk listening dan speaking, tidak ada perbedaan antara general maupun academic IELTS. Adapun untuk reading dan writing, kesulitan antara keduanya dibedakan, dengan academic IELTS memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Teks di academic reading test akan berisi artikel-artikel ilmiah. Artikel-artikel ini topik cakupannya luas sekali, mulai dari sejarah sampai geologi.

Tidak paham kajian sejarah? Tidak mengambil kursus audiologi? Tidak masalah. Bahasa yang digunakan dalam teks sebenarnya cukup populer. Nah, sekarang, apakah antara satu teks dengan teks lain ada kesulitan yang signifikan? Sebenarnya yang menjadi masalah bukan tingkat kesulitan teks, melainkan: seberapa familiar topiknya untuk kita, dan stamina saat mengerjakan teks.

Berbeda dengan TOEFL, teks IELTS academic reading cukup panjang (hampir selalu dua halaman). Dengan variasi tipe pertanyaan yang membuat peserta tes harus bekerja keras memahami pertanyaan dan mencari jawaban, kadang peserta kelelahan dan konsentrasinya berkurang, apalagi sebelumnya peserta baru saja ujian listening dan sesudah ini akan dilanjutkan dengan ujian writing. Berlatih mengerjakan tes ini dalam waktu satu jam cukup membantu dalam melatih stamina.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Berbeda dengan listening, setidaknya ada tujuh macam tipe pertanyaan di tes ini. Lima tipe pertanyaan sama dengan yang ada di listening test, jadi kalau belum baca tentang itu, bisa cek di sini. Lima tipe pertanyaan yang sama dengan listening adalah:

  1. Multiple Choice
  2. Completion (form, table, sentence, note, summary)
  3. Labelling (map, diagram)
  4. Short-answer
  5. Matching and classifying

Adapun dua tipe pertanyaan lainnya adalah:

  1. Matching headings, endings, and information

Ini adalah salah satu tipe pertanyaan yang cukup menyebalkan. Kenapa? Untuk mencari jawabannya, peserta tes harus bolak balik melihat opsi yang ada lalu kembali ke teks. Jadi, bagaimana bentuk tipe pertanyaan ini? Untuk matching headings, peserta diberikan sejumlah judul (biasanya diurutkan dengan angka romawi) dan teks dengan paragraf yang sudah diurutkan dengan huruf. Di sini peserta harus menentukan judul yang tepat untuk setiap paragraf.

IELTS_Reading_MH

Untuk matching endings, peserta akan diberikan sejumlah ending (biasanya diurutkan dengan huruf) dan di bawahnya peserta akan melihat beberapa pernyataan yang tidak lengkap. Peserta harus menentukan ending yang mana yang cocok untuk mengakhiri pernyataan yang tidak lengkap itu. Peserta harus merujuk ke teks untuk menentukan apakah ending itu sesuai, karena pada dasarnya ending itu ada di teks tetapi diubah dengan parafrase.

IELTS_Reading_ME

Sementara itu, untuk matching information, biasanya teksnya sudah diurutkan dengan huruf. Peserta diberikan sejumlah informasi dan harus menentukan di paragraf yang mana informasi itu bisa ditemukan.

IELTS_Reading_MI

  1. True/False/Not Given or Yes/No/Not Given

Banyak murid yang mengeluhkan tipe pertanyaan ini. Sejauh ini, tipe pertanyaan ini memang yang paling sulit, paling mengecoh, karena kita hanya terbiasa dengan True/False saja. Untuk kita, Not Given tidak familiar.

Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kalau pernyataan yang ada di pertanyaan itu secara tersirat maupun tersurat sama dengan yang terdapat di teks, maka itu benar (nomor 21, di teks ditandai 1). Kalau tidak sama, maka tidak benar (nomor 22, di teks ditandai 2). Kalau pernyataan di pertanyaan itu tidak disebutkan sama sekali, maka not given (nomor 23). Sebagai contoh, di teks disebutkan fakta tentang modern water system dan water system in ancient Greek and Roman, kemudian di pertanyaannya dikatakan bahwa modern water system meniru yang dari jaman Yunani/Romawi kuno, padahal di teks tidak ada pernyataan itu. Ini termasuk not given. Kenapa? Fakta tentang keduanya jelas ada di teks. Yang jadi masalah hanya satu. Tidak ada pernyataan yang tegas tentang “meniru”/”imitate”, jadi jawabannya not given.

Harap hati-hati sekali ketika mengerjakan soal ini. Kadang murid merasa punya prior knowledge (pengetahuan yang mereka sudah pelajari sebelumnya), sehingga merasa tahu jawabannya. Ketika mereka menjawab sesuai pikiran mereka, ternyata jawabannya salah. Perlu diketahui bahwa tes ini adalah tes Reading Comprehension; tes yang menguji kemampuan kita memahami teks berbahasa Inggris. Apapun yang kalian pikirkan atau rasakan tentang teks tinggalkan dulu di luar ruang tes.

Uncountable Noun (Seri Noun)

Uncountable Noun

Hola! Kita bertemu lagi di postingan baru. Kali ini kita akan membahas topik uncountable noun. Dalam postingan sebelumnya, kita sudah membahas perbedaan countable dan uncountable nouns secara singkat. Kali ini kita akan membahas sedikit lebih dalam tentang apa itu uncountable noun dan apa konsekuensinya (bagaimana menggunakannya) dalam Bahasa Inggris.

Apa itu uncountable noun?

Masih ingat apa itu uncountable noun? Kita ulas sedikit, ya. Banyak orang mengatakan bahwa uncountable noun adalah benda yang tidak bisa dihitung. Tentunya ini tidak sepenuhnya benar, ya, sebagaimana sudah di bahas di sini. Uncountable noun tentu saja bisa dihitung, tetapi kita harus memakai classifier, seperti a glass of atau a kg of.

Benda apa saja yang termasuk uncountable noun? Dalam postingan sebelumnya, kita tahu bahwa material (substansi) termasuk ke dalam kategori noun ini. Jadi, air (udara), water (air), wood (kayu), dan sebagainya termasuk uncountable noun. Apakah itu saja? Tentu tidak. Hal-hal abstrak juga termasuk ke dalam uncountable noun, contohnya: love, advice, information, money, research.

Konsekuensi 1 – Tanpa artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita tidak boleh meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Kalau mau meletakkan a/an, kita harus meletakkannya di depan classifier. Contohnya sebagai berikut:

I have an information. x
I have information.
I have a piece of information.

 

Konsekuensi 2 – Tanpa bentuk plural

Konsekuensi kedua ini merupakan konsekuensi logis dari konsekuensi pertama. Karena uncountable noun tidak bisa memakai artikel a/an, maka dia tidak boleh dibuat plural. Dengan demikian, secara otomatis benda/hal yang memakai artikel a/an bisa dibuat plural. Kalau mau membuat plural, kita harus membuat plural classifiernya.

I drank waters. x
I drank water.
I drank two glasses of water.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb

Nah lho. Apa pula ini? Jadi begini teman-teman, karena uncountable noun tidak memakai artikel a/an dan tidak memakai bentuk plural, secara otomatis benda/hal yang tergolong uncountable dianggap singular (tunggal). Dengan demikian, kalau dia berfungsi sebagai subjek, maka harus diikuti singular verb.

Apa itu singular verb? Verb yang diikuti oleh he/she/it untuk simple present tense pasti memakai –es/-s, bukan? Nah, itulah singular verb (termasuk juga is). Lihat contoh di bawah ini.

Love needs money. (kita pakai needs, bukan need)

Water is important for us. (kita pakai is, bukan are)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi ingat konsekuensi kedua; tidak boleh pakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will give you some advice.

I haven’t given anyone any information about the project.

He has a lot of money to spend.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus uncountable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh uncountable noun.

A little/little = I need a little money. (bukan a few/few)

Much = You put too much coffee in it. (bukan many)

Amount = I can see a small amount of snow outside. (bukan number)

Simple Past Tense (Seri Tense)

Simple Past Tense

Sebelum mulai membaca postingan ini, ada baiknya teman-teman membaca prinsip dasar kalimat Bahasa Inggris dan Simple Present Tense yang sudah dibahas sebelumnya.

Bahasan kali ini adalah Simple Past Tense. Kenapa ada Past Tense? Ini memang sulit untuk saya jawab sendiri. Tenses pada dasarnya adalah ciri beberapa Bahasa di dunia, tidak hanya Bahasa Inggris dan Bahasa-bahasa Eropa lainnya. Jenisnya pun macam-macam. Apakah tenses ada di semua Bahasa? Tentu saja tidak. Tenses biasanya ditunjukkan dengan perubahan pada kata kerja. Bahasa-bahasa yang tidak mengalami perubahan kata kerja untuk menunjukkan waktu adalah Bahasa yang tidak mempunyai tenses; salah satunya adalah Bahasa Indonesia.

Mempelajari tenses suatu Bahasa memang rumit bahkan untuk mereka yang di Bahasa aslinya punya tenses. Kita harus mengingat perubahan kata kerjanya, kita juga harus tahu kapan memakainya. Banyak orang menawarkan cara menghapal kilat tenses, tetapi yang jadi masalah, menghapal belum tentu membuat orang bisa memakainya dengan tepat. Untuk yang ini mungkin akan kita bahas di postingan yang lain.

Simple Past Tense

Kata simple dalam Simple Past Tense menyiratkan polanya yang sederhana. Sederhana bagaimana? Kalimat Simple Past Tense minimal hanya terdiri atas satu subjek dan satu verb bentuk past. Tidak ada to be, tidak ada verb-ing, tidak ada modal. Hanya subjek dan verb, seperti halnya Simple Present Tense.

Apa manfaatnya? Simple Past Tense bermanfaat sekali untuk menunjukkan bahwa apa yang kita bicarakan adalah kejadian yang terjadi di masa lalu dan sudah berlalu. Perkara apakah kejadian itu bekasnya masih bisa kita lihat di masa kini atau tidak, itu tidak menjadi masalah. Coba lihat contoh berikut:

His car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak)

Kalimat di atas menunjukkan bahwa mobil dia rusak di masa lalu (kemarin). Kapan mobil dia mulai rusak? Tidak tahu. Apakah mobil dia sudah diperbaiki? Tidak tahu. Yang kita tahu, mobil itu rusak di masa lalu. Titik. Kita hanya tahu kejadian bahwa mobilnya kemarin rusak.

Kalimat Verbal Simple Past Tense

Sebagaimana sudah dibahas di atas, pola kalimat tense ini sangat sederhana. Subjek dan Verb bentuk past. Mungkin teman-teman masih ingat waktu belajar Simple Present Tense bahwa kata kerja Simple Present berubah sesuai subjeknya (memakai –es/-s atau tidak). Jangan khawatir. Untuk simple past, tidak ada perubahan apa-apa. Meski demikian ada satu masalah.

Verb di dalam simple past tense ada dua jenis, regular dan irregular. Regular tidak terlalu sulit untuk menghapalnya karena hanya perlu ditambahkan –ed/-d, hanya perlu sedikit latihan untuk pengucapannya karena ada tiga jenis cara pengucapan (kita bahas di postingan lain). Irregular, di sisi lain, cukup merepotkan. Untuk irregular verbs, mau tidak mau kita harus selalu menghapal kata-kata kerja baru untuk setiap kata kerja bentuk present yang sudah kita ketahui.

My friend bought a house. (Teman saya membeli rumah) –irregular

They recorded the meeting. (Mereka merekam rapatnya) –regular

Pertanyaan dan Kalimat Negatif Verbal

Kalau di simple present tense kita punya do dan does untuk membuat pertanyaan dan kalimat negatif, di simple past kita hanya perlu memakai did.

I did not go to the museum. (Saya tidak pergi ke museum)

Did you tell her to stay here? (Apakah kamu bilang ke dia untuk tinggal di sini?)

Where did you find it? (Kamu menemukan itu di mana?)

Kalimat Nonverbal Simple Past Tense

Masih ingat di sini dan di sini, bahwa kalimat afirmatif (postif) secara umum ada dua, yaitu verbal (mengandung action) dan nonverbal (tidak mengandung action). Karena kalimat Bahasa Inggris harus memakai verb, maka karena tidak ada action kita harus memakai kata kerja palsu alias to be past tense. Coba lihat contoh di bawah ini:

She was at the hospital. (Dia di rumah sakit) –was (to be) diikuti lokasi.

Your friends were worried because you didn’t come home. (Teman-temanmu khawatir karena kamu tidak pulang) –were (to be) diikuti kata sifat.

Pertanyaan dan Kalimat Negatif Nonverbal

Sederhana saja, untuk kalimat tanya kita letakkan was/were di depan, sedangkan untuk kalimat negatif, kita hanya perlu meletakkan not sesudah was/were. Coba lihat contoh berikut ini.

We were not at home. (Kami tidak di rumah)

Was he a member of the council? (Apakah dia anggota dewan?)

Mudah bukan?

Sebelum kita akhiri, saya ingin menyampaikan satu hal penting. Pembelajar Bahasa Inggris seringkali terkecoh ketika mendengar pertanyaan past tense. Kenapa? Karena kata kerja di pertanyaan past tense memakai bentuk present.

(question words) + Did + subjek + verb bentuk present

Di sini murid seringkali menjawab dengan simple present tense juga karena mendengar verb bentuk present. Hati-hati! Selalu ingat konteksnya, dan perhatikan apakah penanya memakai DID atau DO/DOES.

Review

Sekarang kita review ya. Hal-hal yang membuat simple past tense rumit adalah pemakaiannya (kita harus selalu menyadari bahwa kejadiannya lampau meskipun baru beberapa detik yang lalu), dan mengahapalkan irregular verbs, dan menyadari bahwa pertanyaannya selalu memakai verb present tapi jawabannya harus pakai verb past.

Apa yang mudah dari simple past tense? Tidak perlu bingung apakah suatu kata kerja harus pakai –es/-s atau tidak!

Sudah tahu prinsipnya? Saatnya berlatih! Hapalkan lima kata kerja dan buatlah kalimat afirmatif, tanya, dan negatif. Ulang-ulangi sampai kalian nyaman dengan polanya, kemudian bayangkan situasi di mana kalian bisa memakainya.

Present Continuous Tense (Seri Tense)

Present Continuous Tense

Hai sobat pembaca! Kini kita akan membahas tentang Present Continuous Tense. Kenapa tense ini penting? Tense ini merupakan salah satu tense yang sering dipakai. Fungsi utamanya adalah menceritakan aktivitas yang sedang dilakukan (ongoing activitiy), aktivitas sementara (temporary action) yang terjadi saat si pembicara sedang bicara.

Kalau teman-teman belum lihat artikel tentang cara membuat kalimat di Bahasa Inggris dan simple present tense, mungkin ada baiknya kalau dilihat dulu. Oya, kita tidak akan membahas Past Continuous Tense karena ada aspek yang khusus yang membedakannya dengan Present Continuous Tense. Kalau mau tahu aspek apa itu, ikuti terus postingan ini.

Pola Present Continuous Tense

Bagaimana membentuk kalimat dengan pola ini? Mudah saja. Di postingan sebelumnya kita tahu bahwa kita tidak bisa membentuk kalimat tanpa subjek dan verb (yang dimaksud verb ini adalah verb 1 dan verb 2; verb sejati), dan kalau tidak ada verb sejati (adjective, noun, lokasi, verb-ing, verb 3), maka verbnya diganti dengan to be (verb semu? :D).

Seperti dua posts sebelumnya (tentang cara membuat kalimat di Bahasa Inggris dan tentang simple present tense), subjek dan verb harus selalu kompak (istilah kerennya Subject-Verb Agreement). Kita lihat contoh berikut:

He is cleaning his room. (dia sedang membersihkan kamarnya)

Pada contoh di atas, subjeknya adalah he, kata ganti ORANG KETIGA TUNGGAL. Kata ganti ini (he dan she) harus selalu diikuti oleh is. Lain halnya dengan contoh di bawah:

I am watching a match between France and Hungary. (saya sedang menonton pertandingan Perancis lawan Hungaria)

Karena menggunakan kata ganti ORANG PERTAMA TUNGGAL (atau I), kita harus memakai am. Dan sisanya (you, they, we) diikuti oleh are. Mudah bukan?

Belajar dari kesalahan

Seharusnya mudah, tetapi masih banyak yang ketika bicara entah mereka ketinggalan TO BE (harusnya bilang they are eating, jadi bilang they eating) atau ketinggalan –ing (menjadi they are eat), yang mana membuat orang malah jadi bingung apakah mau bicara tentang kejadian yang SEDANG berlangsung (present continuous), atau mau bicara tentang rutinitas (simple present). Kesalahan lain yang terkait ini adalah memakai present continuous dengan tepat tetapi konteksnya keliru (misalnya mau bercerita tentang rutinitas, tetapi malah memakai present continuous tense).

Dalam Bahasa Inggris, konteks waktu sangat penting. Dari situ kita bisa mengerti apakah kejadiannya terjadi di masa lampau, atau di masa kini; apakah sudah direncanakan atau baru terlintas di pikiran; apakah pernah terjadi atau belum sama sekali. Karena mengandung tense, jika orang bicara dengan tense yang keliru, keseluruhan konteks percakapan bisa jadi kacau. Berbeda dengan Bahasa Indonesia, misalnya, di mana kita tahu di Bahasa Indonesia tidak ada bedanya antara simple past dengan simple present, jadi kita sudah membangun konteks di awal atau dengan bantuan kata-kata penunjuk waktu (kemarin, sekarang, dua tahun yang lalu, bulan ini, dll).

Fungsi lain?

Present Continuous Tense punya fungsi lain, selain untuk menceritakan kejadian yang SEDANG berlangsung. Satu fungsi terkait dengan Future Tense (akan dibahas nanti) sedangkan satu lagi adalah fungsi yang tidak terlalu sering ditemukan, mengeluhkan kelakuan seseorang/sesuatu. Coba lihat contoh di bawah ini:

She is always asking personal questions. (Dia selalu menanyakan pertanyaan pribadi)

Perhatikan bahwa di contoh di atas, penutur mengucapkan hal di atas karena jengkel dengan kelakuan she yang selalu bertanya tentang hal-hal pribadi. Untuk fungsi ini, Present Continuous Tense harus memakai always di antara to be dengan verb-ing.

Listening Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Listening Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini.

Oke, sekarang kita mulai, ya.

Yang membedakan IELTS dengan TOEFL bukan hanya jumlah tesnya atau jumlah soalnya, tetapi juga tipe pertanyaan yang ada. Kita tahu bahwa di dalam TOEFL tipe pertanyaannya hanya multiple choice questions (pilihan ganda). Namun, di dalam IELTS ada banyak sekali tipe pertanyaan. Untuk mereka yang belum pernah sama sekali mengikuti tes ini, pasti akan kebingungan dan keliru menjawab, dan bisa jadi kekeliruan itu tidak karena tidak tahu jawabannya tapi tidak tahu BAGAIMANA menjawabnya.

Pertama-tama kita lihat dulu seperti apa percakapan di tes ini. Sebagaimana kalian tahu di sini, tes ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi dialog tentang kehidupan sehari-hari, dan bisa berisi tentang percakapan telepon antara seorang agen asuransi dengan klien, atau percakapan antara agen kerja dengan calon karyawan.

Bagian kedua berisi monolog, tetapi masih tentang kehidupan sehari-hari. Monolog ini bisa jadi berisi tentang seorang yang menjelaskan paket program liburan atau tur di museum.

Bagian ketiga dan keempat adalah tentang kehidupan akademik tetapi bedanya bagian ketiga berisi dialog dan bagian keempat berisi monolog. Bagian ketiga bisa berisi dialog antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa lain bicara tentang tugas, atau antara seorang mahasiswa dengan dosen atau administrator kampus. Bagian keempat hampir selalu berisi kuliah. Berbeda dengan ketiga bagian sebelumnya, di bagian keempat tidak ada istirahat (monolog untuk sepuluh pertanyaan langsung) meskipun peserta tes harus berpindah halaman.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Setidaknya ada lima macam tipe pertanyaan di tes ini, yaitu:

Multiple Choice

Tipe pertanyaan ini sangat umum. Kita hanya harus memilih jawaban yang tepat. Kadang-kadang pertanyaannya mengharuskan kita memilih dua jawaban. Karena itu jangan lupa melihat dan membaca INSTRUKSI baik-baik.

Untuk tipe pertanyaan seperti ini, peserta tes harus mampu memahami isi tiap pertanyaan dan pilihannya baik tersurat maupun tersirat, karena di rekaman jawabannya seringkali tidak memakai kata-kata yang persis sama dengan kata-kata di pertanyaan dan pilihan.

Completion (form, table, sentence, note, summary)

Tipe pertanyaan ini mengharuskan peserta untuk melengkapi formulir, tabel, kalimat, ringkasan, atau catatan. Biasanya soal-soal melengkapi formulir ada di section 1 dari listening test, di mana peserta mendengarkan percakapan seorang klien dan agen (misalnya), dan melengkapi formulir berisi informasi klien itu.

Khusus untuk sentence completion dan summary completion, karena jawabannya merupakan bagian dari kalimat, maka grammar penting sekali. Peserta tes harus tahu apakah harus menulis dengan artikel (the/a/an), plural (s), kata kerja (present, past, future, verb-ing). Dan sekali lagi, baca INSTRUKSI berapa jumlah kata yang bisa ditulis.

Labelling (map, diagram)

Untuk tipe pertanyaan ini, peserta tes diharuskan memberi label pada peta atau diagram sambil mendengarkan deskripsi peta atau diagram tersebut di rekaman.

Short-answer

Tipe pertanyaan ini mirip dengan sentence completion, bedanya, ini bentuknya adalah pertanyaan yang cukup dijawab dengan sangat singkat.

Matching and classifying

Dari semua tipe, tipe ini yang paling menantang (minimal untuk saya). Kenapa? Tipe soal ini mengharuskan pengambil tes untuk memahami tiap pernyataan dan kategori, dan mengkategorikan ke dalam kategori-kategori yang tersedia. Misalnya, ada lima pernyataan yang berisi penemuan dan tiga kategori yang berisi nama-nama penemunya. Peserta tes harus mengkategorikan penemuan mana yang dibuat oleh penemu yang mana.