Expressing Future Tense In Indonesian

Future Tense in Indonesian

Hallo Leute! I have been learning German for the past few days, but don’t worry, we’re not going to talk about German. This post will discuss none other than Indonesian. I have talked about how to express Progressive Tense in Indonesian, and now I am going to talk about how to express Future Tense in Indonesian.

As you know, Indonesians do not express tenses in the form of verb inflection. Indonesian use words to describe the context of the situation instead of changing the verbs. So, how does future tense is expressed in Indonesian then?

Time Markers

Words used to point a certain time in the future (as well as in the past) help set the context of when the event occurs. ‘Kemarin’ (yesterday), ‘besok’ (tomorrow), ‘hari ini’ (today, lit. this day), ‘nanti’ (later today), ‘tadi’ (earlier today), are names of specific points in time. Other than those, we also use: ‘bulan lalu‘ (last month), ‘tahun depan‘ (next year), ‘lima hari yang lalu‘ (five days ago), ‘tujuh minggu lagi‘ (in seven weeks), ‘ten years later‘ (sepuluh tahun kemudian).

Kami berangkat ke Papua enam minggu lagi. (We will leave for Papua in six weeks.)

Akan

This word is the equivalent word of ‘will’. Despite being the counterpart of Indonesian ‘will’, this word is also used to express any kinds of future tense which includes “to be going to” and Present Progressive Tense for Future Arrangements.

A: When are you teaching today? (Jam berapa kamu akan mengajar?)

B: Ah, I’m teaching at three. What about you? (Aku akan mengajar jam 3. Kalau kamu?)

Another example:

We are going to visit him soon. (Kami akan segera mengunjungi dia.)

(Un)fortunately, we can often drop ‘akan’, especially  when the context is clear or we use time markers.

Mau

Another (un)fortunate phenomenon in Indonesian language is that ‘mau’ (want) can be used to express future tense. The logic is, when you are about to do something or will do something, you basically want to do it. This is colloquial Indonesian, and can sometimes creates confusion especially with those who haven’t been exposed to ‘street’ or colloquial Indonesian.

I had a student of Indonesian who was taken aback by a question asked by a staff in our school, ‘mau ke mana, pak?’ (lit. where do you want to go, sir?). The student was surprised because he thought the staff was quite nosy. ‘Why does she want to know where I want to go?’ he said. The staff was actually asking him where he was going to go.

Bakal

This word basically means ‘something that will become’ or ‘candidate’ (bakal suami, ‘future husband’).

Kalau kamu bohong, aku tidak bakal percaya kamu lagi. (If you lie, I will not believe you anymore.)

Countable Noun (Seri Noun)

Countable Noun

Hai sobat pembelajar Bahasa Inggris! Bagaimana kabar kalian? Masih semangat belajar Bahasa Inggris, ya. Seharusnya tulisan ini aku post kemarin, tapi karena minggu ini minggu yang sibuk, aku baru bisa update hari ini.

Sesudah membahas tentang perbedaan countable dan uncountable noun, serta pemakaian uncountable noun, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang countable noun dan bagaimana menggunakannya.

Apa itu countable noun?

Aku yakin kalian bisa membayangkan apa itu countable noun. Ya, countable noun adalah objek yang bentuknya jelas dan kalau dipotong/dihancurkan, kita tidak akan bisa menyebut hasil potongannya sebagai objek yang sama. Bayangkan sebuah pulpen yang terbuat dari plastik. Injak-injak pulpen itu, dan ambil serpihan plastiknya. Apakah masih bisa disebut pulpen? Tidak, tentu saja. Apakah material pembuatnya masih bisa disebut plastik? Bisa, tentunya. Nah, pulpen dalam hal ini adalah objek dan itu countable, sedangkan plastik adalah material dan itu uncountable.

Meskipun countable bisa dihitung tanpa classifier (a kg of, a litre of, etc), tidak berarti tidak bisa dihitung tanpa classifier. Kita masih bisa mengatakan a kg of apples, a plastic bag of chilies, dan sebagainya.

Konsekuensi 1 – Memakai artikel a/an

Konsekuensi pertama dari uncountable noun adalah kita harus meletakkan artikel a/an yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesian kira-kira berarti ‘sebuah’. Meskipun ketika kita bicara Bahasa Indonesia kita cenderung tidak akan mengatakan ‘seorang’ atau ‘sebuah’, di Bahasa Inggris artikel a/an harus dipakai. Contohnya sebagai berikut:

I bought house. x
I bought a house.

Konsekuensi 2 – Bisa memakai bentuk plural

Ini cukup logis. Kalau sebuah benda bisa memakai artikel a/an artinya dia bisa dibuat bentuk plural. Ketika memakai plural kita bisa meletakkan angka atau quantifier/classifier di depannya.

I have cat. x
I have some cats.
I have six cats.

 

Konsekuensi 3 – Diikuti Singular Verb Kalau Noun-nya singular dan diikuti Plural Verb kalau Noun-nya plural

Masih ingat di postingan yang dulu membahas Uncountable Noun dan Simple Present Tense? Singular verbs contohnya adalah is, needs, buys, has, likes, dll. Kenapa disebut singular verbs? Karena semuanya harus didahului oleh singular Nouns. Countable Noun bisa singular dan plural, karena itu verb-nya harus disesuaikan.

There is a man in my front yard. (kita pakai is, bukan are karena hanya ada 1 laki-laki)

Some people like coming here for vacation. (kita pakai like, bukan likes karena people)

Konsekuensi 4 – Bagaimana kalau pakai some/any/a lot of?

Quantifier some/any/a lot of bisa dipakai baik untuk countable maupun uncountable noun, tapi harus memakai bentuk plural. Lihat contoh di bawah ini.

I will buy you some books when I return to England.

I haven’t sent him any emails about the project.

He has a lot of dogs at home.

Konsekuensi 5 – Quantifier khusus countable noun

Kalau some/any/a lot of bisa dipakai oleh countable dan uncountable noun, beberapa quantifier/kata di bawah ini hanya bisa dipakai oleh countable noun.

A few/few = Last night I made a few friends. (bukan a little/little)

Many = There are many interesting places here. (bukan much)

Number = They asked me to contact a number of people. (bukan amount)

Bagaimana Penerjemah Bekerja: Pengalamanku

Bagaimana Penerjemah Bekerja

Sebagai seorang peminat linguistik, menerjemahkan adalah salah satu hal yang kunikmati. Aku yakin bahwa menerjemahkan memberikan penguatan terhadap apa yang ingin kucapai sebagai seorang ahli linguistik. Meskipun menyenangkan, menerjemahkan bisa sangat menguras tenaga.

Banyak orang yang berpikir bahwa sudah ada google.translate, harusnya menerjemahkan tidak sesulit itu, bukan? Tidak sedikit yang beranggapan bahwa menerjemahkan hanya mengganti satu kata di sebuah bahasa dengan kata yang memiliki arti sama di bahasa lain sehingga cenderung meremehkan penerjemah dan penerjemahan.

Pada tulisan kali ini aku akan berfokus pada bagaimana penerjemah bekerja, dan proses mental apa yang terjadi saat mereka menerjemahkan. Aku juga akan menceritakan sedikit tentang tarif penerjemah. Oya, karena ini pengalamanku, maka tulisan ini memiliki subjektivitas yang besar. Barangkali ada penerjemah lain yang tidak sependapat, dan mau berkomentar, aku persilakan 🙂

Apa itu “translation” atau “menerjemahkan?”

Menerjemahkan pada dasarnya bentuk komunikasi makna, di mana satu kalimat di sebuah bahasa disampaikan ke dalam bahasa lain dengan kalimat yang ekuivalen (mempertahankan makna). Sebagai contoh, kita mau mengatakan “we want to make them feel at home” di Bahasa Indonesia. Tentunya kalau kita mau menerjemahkan itu secara harfiah, kita bisa mengatakan “kami mau membuat mereka merasa di rumah.”  Sebagai orang Indonesia, saya merasa ada yang kurang dengan kalimat ini.

Kedua kalimat di atas terlihat sama persis, tetapi komunikasi maknanya kurang tersampaikan. Kenapa? Karena di bahasa target (dalam hal ini Bahasa Indonesia), kita tidak mengatakan itu. Secara alami, kita biasanya mengatakan “kami mau membuat mereka merasa seperti di rumah.” Ini artinya menyampaikan dengan kalimat yang  ekuivalen. Memakai struktur yang alami di bahasa target, tetapi mempertahankan sebisa mungkin struktur bahasa asal.

Thought Patterns

Kalimat “I lost my keys” adalah contoh paling populer yang bisa menunjukkan betapa berbedanya English Thought Pattern dengan Indonesian Thought Pattern. Di Bahasa Inggris, peristiwa-peristiwa yang bernuansa ‘musibah’ seperti kehilangan sesuatu, terpotong/terlukai, terpukul, yang disebabkan oleh diri sendiri, dilihat sebagai peristiwa di mana subjeknya harus bertanggung jawab, baik sengaja atau tidak.

Bagaimana bunyi kalimat di atas kalau kita terjemahkan ke Bahasa Indonesia? Banyak dari kita yang akan mengatakan “Saya kehilangan kunci” atau “kunci saya hilang“, bukan “saya menghilangkan kunci saya“. Keduanya melihat ‘saya’ sebagai korban. Untuk orang Indonesia, ada perbedaan besar antara “saya kehilangan kunci” dengan “saya menghilangkan kunci“. Perbedaan imbuhan ‘ke-an’ dan ‘me-kan’ sangat berpengaruh dalam menciptakan nuansa ini.

Kalimat *)”She burned her finger while cooking” dalam logika Bahasa Indonesia mungkin tidak masuk akal. Kenapa subjek melakukan itu ke dirinya sendiri? Di sini mungkin kita bisa melihat dua hal yang berkaitan dengan thought pattern: Bahasa Indonesia (dalam kalimat-kalimat semacam ini) melihat subjek sebagai korban karena dalam Bahasa Indonesia, kesengajaan (atau ketidaksengajaan) harus dimasukkan ke dalam kalimat lewat pemakaian imbuhan; adapun di Bahasa Inggris, subjek adalah yang bertanggung jawab atas kejadian itu, tidak peduli sengaja atau tidak.

Perbedaan thought pattern ini membuat penerjemah harus berpikir apakah harus mengikuti struktur bahasa asal secara persis atau boleh ada perubahan.

*)”Jari dia terbakar” adalah cara umum yang digunakan untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan ‘jari’ alih-alih berfokus pada ‘dia’.

Metafrase atau Parafrase?

Ya… itu pertanyaan paling utama ketika menerjemahkan. Apakah harus mempertahankan sebanyak mungkin kata (termasuk struktur) untuk mempertahankan keakuratan [metafrase] atau dibolehkan untuk mengganti kalimatnya ke dalam kalimat yang bisa jadi benar-benar berbeda asalkan maknanya sama [parafrase]. Kalimat tanpa parafrase mungkin akan membuat pembaca berpikir “aku ga pernah denger orang ngomong gini” tapi terjemahan dengan parafrase akan beresiko mengurangi akurasi. Banyak buku teks kuliahku dulu yang diterjemahkan dengan ‘aneh’ karena bukannya membuatku mengerti, aku merasa makin bingung dengan apa yang ditulis.

Perbedaan thought pattern hanya salah satu dari hal yang membuat penerjemah memutuskan apakah harus melakukan parafrase atau tidak. Hal lain yang penting adalah signifikansi budaya. Misalnya begini, kita menerjemahkan sebuah Novel berbahasa Inggris. Di dalamnya disebutkan acara TV populer di Inggris yang ditonton oleh si protagonis. Nah, apakah acara TV ini harus disebut apa adanya (dengan resiko kehilangan nuansa ‘populer’ karena di Indonesia belum tentu ada orang yang tahu acara itu)? Atau bisakah penerjemah menggantinya dengan acara TV yang populer di Indonesia (dengan resiko mengurangi akurasi dan mungkin membuat suasana latar di Novel jadi sedikit ganjil)? Atau perlukah menggunakan catatan kaki (dan membuatnya seperti Karya Tulis Ilmiah)?

Diksi (Pemilihan Kata)

Sekarang bayangkan kalian sedang dibuatkan segelas teh manis hangat. Teh itu bau melati, warnanya coklat terang, dan rasanya sedikit sepat. Ampas teh yang ada di gelas tidak mengganggu kenikmatan. Teh itu teh tubruk dan rasanya cukup kuat. Kini coba pikir, apa sih Bahasa Inggrisnya untuk ‘teh tubruk’? Apa pula Bahasa Inggrisnya ‘teh yang terlalu pahit/sepat?’

Kesulitan memilih kata di bahasa target sering terjadi ketika menerjemahkan. Apakah ‘completely forget’ berarti *)’lupa dengan lengkap’?

Hal ini bisa jadi terjadi karena memang istilah di bahasa target tidak ada karena secara kultur memang tidak dikenal. Hal ini juga bisa disebabkan karena yang namanya kolokasi (collocation) di mana kata-kata tertentu punya pasangan yang pasti dan tidak boleh diganti dengan kata lain.

Mungkin tidak ada kata di Bahasa Inggris untuk ‘teh tubruk’ (teh seduh yang berampas) tapi di Bahasa Inggris ada frasa ‘loose tea’ yang berarti daun teh kering dan bukan teh celup. Teh yang terlalu pahit/sepat mungkin adalah teh yang kuat, meskipun kita tidak pernah mengatakan itu, tetapi di Bahasa Inggris itu harus diterjemahkan sebagai ‘strong tea’ dan bukan ‘powerful tea‘.

Contoh paling umum adalah menerjemahkan kata ‘kopi pahit’ ke Bahasa Inggris. Meskipun untuk mayoritas orang Indonesia kopi (tanpa gula) identik dengan pahit, di Bahasa Inggris frasa ‘bitter coffee’ berarti kualitas minuman kopinya jelek karena diseduh terlalu lama atau airnya terlalu panas. Kopi tanpa gula di Bahasa Inggris adalah ‘black coffee’.

*)Orang Indonesian akan mengatakan ‘benar-benar lupa’ untuk frasa di atas. Bagaimana dengan ‘benar-benar menyadari’? Yang paling dekat mungkin adalah ‘fully aware’.

Bagaimana Menerjemahkan?

Karena banyaknya pertimbangan ketika menerjemahkan, aku selalu mempersiapkan kamus monolingual (hampir selalu www.oxforddictionaries.com atau Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Kamus Besar Bahasa Indonesia), kamus bilingual (biasanya google translate), kamus tesaurus (biasanya thesaurus.com), kamus collocation (biasanya Online OXFORD Collocation Dictionary). Semua ini masih didukung oleh mesin pencari google untuk melihat apakah kata/kombinasi kata ini bisa ditemukan secara umum di tulisan-tulisan yang ada.

Biasanya untuk aku bisa menyelesaikan lebih dari 10 halaman perhari asalkan tulisannya masih cukup umum dan tidak sibuk. Kalau tulisannya cukup terspesialisasi, apalagi kalau masih harus mengajar 4-6 jam sehari, biasanya kurang dari 10. Kalau dipaksa 10 halaman sehari dalam kondisi itu, bisa stres. Hahaha.

Apakah sepadan bekerja sebagai penerjemah? Tentu saja! Untukku yang juga seorang guru bahasa, menerjemahkan memberikan perspektif baru dalam mengajar, dan pengalaman mengajar (khususnya ketika berhadapan dengan kesalahan umum yang dibuat murid) juga memberikan perspektif lain ketika menerjemahkan.

Berapa Honorarium Menerjemahkan?

Ini menarik sekali, khususnya untuk setting Indonesia. Banyak orang menawarkan terjemahan dengan beragam harga sehingga sepintas tidak ada keseragaman dan penetapan tarif jadi terkesan arbitrari antara klien dan penerjemah. Tentunya ini memang benar-benar kesepakatan antara penerjemah dengan klien. Penerjemah berhak memasang tarif dan klien berhak untuk memilih mana penerjemah yang cocok (karena tarif atau karena seberapa percaya mereka dengan penerjemah itu).

Sedihnya, kadang ada orang-orang yang tidak memahami sulitnya menerjemahkan sehingga dengan entengnya protes kalau tidak suka dengan tarifnya, bahkan aku punya kolega guru Bahasa Inggris yang menerjemahkan dengan gratis hanya karena orang itu sepupunya, padahal aku tahu kolegaku ini juga sibuk mengajar.

Ada beberapa acuan yang bisa dijadikan patokan penetapan tarif:

  1. Perhalaman (halaman jadi atau halaman sumber)
  2. Perkata (artikel jadi atau artikel sumber)

Semuanya mempertimbangkan faktor dari bahasa mana diterjemahkan (bahasa ibu ke bahasa asing biasanya lebih mahal), apakah artikel khusus/terspesialisasi, apakah harus dilakukan oleh penerjemah bersumpah, dan kapan terjemahan harus selesai. Sebagai ilustrasi, aku berikan tarif penerjemahan dari Peraturan Menteri Keuangan No.65/PMK.02/2015.

Tarif Penerjemahan

Sekarang, apa pendapat kalian tentang profesi penerjemah?

Tunggu artikel berikutnya untuk juru bahasa (interpreting), ya!

When A Stranger Asks “Dari Mana?”

When A Stranger Asks

For a lot of foreigners the question “dari mana?” is considered a personal question. Many of them who come to Indonesia are taken aback when a stranger (Indonesian) asks this question casually on the street. I know this because my students were. If it’s your first time coming to Indonesia, it is easy to feel intimidated. “What does this person want to know where I’m from?” You might think.

If you are startled, it’s a normal reaction. Actually, the issue is more about what you should respond correctly. Students of Indonesian should see that behind this seemingly invasive approach, those people basically want to say “hi”. It is a part of the local hospitality. A weird way of saying “hi”, I know.

What most foreigners do not realize is that even though this question is a generic question to ask origin, it has other functions as well.

Imagine a situation where you have an appointment with an Indonesian friend, and he is late. Of course, besides saying “why are you late?” (“Kenapa kamu terlambat?”) you can also say “kamu dari mana?” (it literally means “where are you from?” as in “where were you before you came here that made you come late?”).

In another situation where you are with a friend in a party but she excuses herself to go somewhere (she does not say where). Suddenly you see a famous person in the party, but he quickly goes somewhere else. When your friend returns, you will probably say “where have you been?” that can go with “kamu dari mana?”

In a different situation, imagine you are with your friend, and you excuse yourself to the restroom. When you come back, your friend is not there. When he returns you can say “kamu dari mana?” as in “where were you? Where did you go?”

Okay, enough with imaginations. Those are some examples where you can actually use “dari mana?” in different situations. So when someone, especially a person who knows you personally, asks “dari mana?” immediately think that they ask where you are before you meet him, not where (which country) you originally come from.

Now, let us go back to the stranger on the street.

When a stranger asks you “dari mana?” especially a middle aged woman sweeping the floor or a group of nice cute giggling children, don’t feel intimidated. Believe me, they care less of what you are doing. They do not really want to know. They are trying to say “hi” to you.

Even though “dari mana?” is a form of greeting, answering it with “baik” does not sound correct. In fact, it sounds weird. When a stranger asks “dari mana?” a vague answer like “dari sana” (from there) always works. You can also answer with “dari jalan-jalan” (from walking/strolling), or “dari toko” (from a shop).

If you notice, instead of asking “dari mana?” some people might ask “ke mana?” (where are you going?). This is basically the same as “dari mana”, and you need to answer properly by saying “ke” followed with anywhere you are going to. You do not need to go into details and explain where you are going exactly, and no, they are not going to stalk.

After that, it is always a nice thing to close this short encounter with “mari, pak/bu”, smile, bow a little bit (just a little bit!), and then go. The middle aged woman who is sweeping the floor might answer it the same way with a big smile on her face. Congratulations! You are one step closer to become an Indonesian.

PS: You do not have to do the same to the children. After answering the question, just smile and go.

Perkenalan Bahasa Thai

Pengantar Bahasa Thai

Hai teman-teman pembelajar Bahasa! Sudah lama, ya, kita tidak membahas Bahasa Thai. Meskipun kita sudah membicarakan “struktur Bahasa Thai”, “saya” dan “to be” di Bahasa Thai, ada pembahasan yang penting sekali yang saya lupa tulis di awal, perkenalan dengan Bahasa Thai. Nah, tulisan kali ini akan membicarakan itu. Untuk teman-teman yang baru pertama kali belajar Bahasa Thai atau masih penasaran sebenarnya Bahasa Thai itu seperti apa, silakan baca terus postingan ini.

Seperti apa Bahasa Thai?

Bahasa Thai termasuk dalam satu keluarga Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Tai-Kadai yang mana penutur asli Bahasa-bahasa ini tersebar di daerah Asia Tenggara di sekitar tempat yang sekarang menjadi Thailand, Kamboja, Burma, Vietnam, Laos, dan Cina. Berbeda sekali dengan Bahasa Indonesia (dan Bahasa Malaysia) serta Bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia (kecuali bahasa daerah yang ada di Papua) merupakan satu rumpun Bahasa yang disebut keluarga Bahasa Austronesia.

Pelafalan

Bahasa ini, dan anggota keluarganya (dari Tai-Kadai), merupakan Bahasa tonal. Bahasa tonal adalah Bahasa yang setiap kata mengandung nada tertentu. Kalau nada kata tersebut keliru diucapkan, maka artinyapun akan berbeda atau mungkin tidak akan ada artinya sama sekali. Ini mungkin mengingatkan orang akan Bahasa Cina (Mandarin, Kanton, dll). Sulit? Perlu pembiasaan saja.

Bahasa Thai memiliki lima nada. Nada tengah (middle tone), nada tinggi (high tone), nada rendah (low tone), nada naik (rising tone), nada turun (falling tone). Teman-teman bisa melihat di youtube atau sumber-sumber belajar Thai lain di mana kalian bisa melatih pengucapan nada ini. Mungkin saya bisa memberi gambaran sedikit tentang pengucapan nada-nada ini. Middle tone diucapkan secara monoton, bayangkan robot bicara (atau google translate!). Rising tone diucapkan seperti kalau kita bertanya dan menaikkan nada di akhir kalimat. Falling tone diucapkan seperti orang teriak “aww” kalau kesakitan. Terbayang? Oke, sekarang low tone diucapkan seperti kalau kita sedang kesal (bukan marah, ya) pada seseorang dan kita rendahkan nada di akhir kalimat. High tone diucapkan seperti kalau kita terkejut; bayangkan kita bilang “apa?” ketika mendengar kabar yang mengejutkan.

Aksara Thai

Bahasa Thai, sebagaimana Bahasa-bahasa Tai-Kadai lain cukup unik karena aksara mereka sangat berbeda dengan aksara latin. Tulisan-tulisannya merupakan turunan dari aksara indic/brahmic yang satu rumpun dengan tulisan Jawa. Jangan tercampur-campur ya. Bahasa Thai tidak satu rumpun dengan Bahasa Jawa. Yang satu rumpun hanya tulisannya. Kenapa bisa begitu? Ini sedikit banyak ada kaitannya dengan agama Hindu-Buddha yang menyebar di Asia Tenggara pada abad ke-5 Masehi yang membawa aksara ini bersama dengan agamanya.

Ada empat puluh konsonan di Bahasa Thai. Empat puluh konsonan ini dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu kelompok High Consonant, Middle Consonant, dan Low Consonant. Hati-hati! High consonant tidak berarti High Tone, ya! High, middle, dan low consonants hanya pengelompokkan konsonannya saja. Empat puluh konsonan artinya akan ada lebih dari satu huruf yang mewakili satu bunyi. Bahasa Thai punya banyak konsonan karena banyak kosakata yang mereka bawa dari Bahasa Sansekerta atau Pali, di mana kedua Bahasa itu mengandung bunyi yang lebih banyak daripada bunyi di Bahasa Thai. Karena ingin mempertahankan ejaan kosakata dari Bahasa Sansekerta dan Pali ini, maka aksara di Bahasa Thai ada banyak. Jangan khawatir, pelajari saja kira-kira 25 konsonan yang paling sering dipakai kalau teman-teman tertarik belajar. Kalau sudah lancar, pelajari sisanya.

Bagaimana dengan huruf vokal? Kalau teman-teman bisa menulis dengan aksara Jawa, mungkin teman-teman ketahui vokal di aksara Jawa lebih merupakan tanda dan bukan aksara. Ini juga sama persis dengan Bahasa Thai. Tanda-tanda vokal bisa muncul di sebelah kiri, kanan, atas, bawah, atau kombinasinya. Karena ini merupakan perkenalan Bahasa Thai, mungkin kita tidak akan membahas banyak.

Oya, interaksi antara konsonan dan vokal ini nantinya akan menentukan nada apakah yang muncul. Di samping interaksi konsonan-vokal, Bahasa Thai juga punya tanda-tanda nada yang menentukan nada yang akan dipakai. Sulit? Yah, harus diakui tulisan Bahasa Thai memang lebih sulit karena alasan ini. Aksara Cina jadi terlihat lebih mudah karena satu huruf mewakili satu suku kata dan satu makna.

Tata Bahasa

Sebagai orang Indonesia, Bahasa Thai akan jauh lebih mudah dipahami. Kenapa? Tata Bahasanya tidak berbeda dengan Bahasa kita, lho. Tidak ada tenses, Bahasa Thai memakai kata ‘sudah’ persis sama seperti Bahasa Indonesia (bandingkan dengan ‘sudah’ di Bahasa Inggris), kata kerjanya tidak berubah karena tenses atau subjek, susunan kalimatnya kurang lebih sama, tidak ada kata benda tunggal atau jamak, to be-nya sama dengan Bahasa Indonesia, kata ganti orangnya ada banyak dan bisa memakai kata sapan seperti bapak atau ibu sebagai kata ganti orang (contohnya di sini).

Sebagai kesimpulan, meskipun ada hal-hal yang sulit di Bahasa Thai, ada juga hal-hal yang mudah dipelajari bagi orang Indonesia. Untuk teman-teman yang suka Bahasa Thai, terus ikuti blog ini. Kita akan bahas hal-hal lain yang lebih menarik lainnya nanti.

Present Perfect Tense (Seri Tense)

Present Perfect Tense

Hi guys! Sesudah membahas Simple Present dan Simple Past, hari ini kita akan membahas salah satu tense yang sering juga sering dipakai: Present Perfect Tense. Kenapa namanya Present Perfect Tense? Bukankah kejadiannya di masa lalu? Pasti banyak yang bertanya-tanya. Tenang saja, yang bingung juga bukan hanya orang Indonesia. Present Perfect Tense punya kata ‘present’ di dalamnya karena kejadian yang digambarkan ada efek ‘sekarang’. Coba lihat satu contoh yang diambil dari Oxford Grammar ini.

  1. My car has broken down since yesterday. (Mobil saya (sudah) rusak sejak kemarin.)
  2. My car broke down yesterday. (Kemarin mobil saya rusak.)

Kalimat pertama menyiratkan bahwa sampai sekarang mobilnya masih rusak, karena rusaknya sejak kemarin. Sementara kalau kita mendengar kalimat kedua, yang kita pikirkan adalah kemungkinan mobilnya sudah diperbaiki, tapi mungkin juga mobilnya masih rusak. Kita tidak tahu kondisi sekarang dari mobil itu.

Pola Present Perfect Tense

I, you, they, we Have V3.
He, she, it Has
I, you, they, we Have not V3.
He, she, it Has not
(QW) + Have I, you, they, we V3?
(QW) + Has He, she, it

Mungkin tabel di atas sangat familiar untuk teman-teman. Ya, saya yakin teman-teman sudah sering sekali melihat tabel ini. Yang menjadi masalah pembelajar berkaitan dengan pola Present Perfect Tense adalah membiasakan memakai have atau has sesuai subjeknya, dan memakai V3, karena bentuknya yang berbeda dengan present dan past. Ini sebenarnya bisa dikira-kira, apalagi dengan kata kerja teratur yang semuanya berakhiran –ed.

Yang menjadi masalah lain untuk pembelajar Bahasa Inggris adalah (dan ini yang paling krusial) kapan memakainya.

Fungsi Present Perfect Tense

Sekarang, apa sebenarnya fungsi dari Present Perfect Tense? Kapan kita memakai tense ini? Pada dasarnya tense ini dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian selesai terjadi dan efeknya bisa dilihat sekarang. Contohnya bisa dilihat di atas.

Tense ini juga dipakai untuk menyatakan pengalaman (things you do at least once in your life). Di sini Present Perfect Tense berkaitan dengan kata ‘ever’. Pembahasan lengkapnya bisa dilihat di sini. Jangan lupa, ever hanya dipakai untuk kalimat negatif (not ever/never) dan kalimat tanya. Contohnya:

  • She has seen the movie. (Dia sudah (pernah) melihat film itu.)
  • She has never seen the movie. (Dia belum pernah melihat film itu.)
  • Has she ever seen the movie? (Dia sudah pernah lihat film itu?)

Fungsi paling umum adalah untuk menggambarkan kejadian yang sudah terjadi, sudah selesai. Persis sama seperti kita memakai kata ‘sudah’ di Bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut.

  • We have fixed the car. (Kami sudah memperbaiki mobilnya.)
  • Have you had breakfast? (Kamu sudah sarapan?)
  • I have finished my homework. (PRku sudah selesai.)
  • They have cleaned the table. (Mereka sudah membersihkan mejanya.)

Keterangan Waktu Present Perfect Tense

Pada umumnya keterangan waktu yang akan kita temui pada kalimat-kalimat Present Perfect Tense berupa durasi yang didahului oleh ‘for’ atau berupa exact time yang didahului oleh ‘since’. Perhatikan contoh di bawah ini.

  • I have worked here for 12 years. (saya sudah tinggal di sini untuk 12 tahun.)
  • My friend has lived here since 2010. (teman saya sudah tinggal di sini sejak 2010.)

Kedua keterangan waktu di atas tidak eksklusif milik Present Perfect Tense, karena nanti kita akan belajar bahwa keduanya (for dan since) bisa dipakai untuk Present Perfect Continuous Tense. Oya, Simple Past juga bisa memakai ‘for’. Bandingkan kedua contoh di bawah ini.

  • My brother has waited for 2 hours. (Dia sudah menunggu selama dua jam – sampai sekarang masih menunggu.)
  • My brother waited for 2 hours. (Dia menunggu selama dua jam – sekarang sudah tidak menunggu lagi.)

Untuk pembahasan tentang perbedaan dengan Past Tense, silakan lihat di sini.

Masalah Umum

  1. What have you done? Vs. What did you do?

Masalah umum pertama adalah kekeliruan memahami bedanya Simple Past dan Present Simple. Akibatnya, pembelajar tidak memahami bedanya kedua pertanyaan di atas dan nuansanya.

Kalau kita mengatakan “what have you done?” ada sesuatu yang baru saja terjadi, kita melihat hasil dari kejadian itu, dan kita menduga ini disebabkan oleh ‘you’; ada nuansa menyalahkan. Kalau memakai keterangan waktu, misalnya “what have you done in the last 20 years?” maka menjadi spesifik bahwa kita ingin tahu ‘you’ sudah melakukan apa saja dalam 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, “what did you do?” nuansanya netral. Kalau kita menanyakan ini, kita hanya ingin tahu apa yang ‘you’ lakukan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. Have you had breakfast? Vs. Did you have breakfast?

Pertanyaan pertama dan kedua pada dasarnya sama. Pertanyaan pertama menekankan ke ‘sudah’nya, dan pertanyaan kedua menyatakan bahwa dia sarapan pada waktu tertentu di masa lalu.

  1. I have been married. Vs. I am married.

Di Indonesia kita punya kebiasaany bertanya (dan menjawab) dengan kata ‘sudah’ (atau ‘belum’). Hal-hal yang kita tanyakan biasanya berkisar di masalah pernikahan, pekerjaan, punya anak, hal-hal yang sifatnya ‘wajib’ atau ‘tugas’ di mana hidup menjadi ‘lengkap’ kalau itu semua ‘sudah’ terpenuhi, menurut perspektif orang Indonesia.

Sayangnya, di Bahasa Inggris tidak demikian. Kita tidak bisa mengatakan “I have been married” untuk “saya sudah menikah.” “I have been married.” artinya seseorang ‘sudah pernah’ menikah.

  1. I have been to. Vs. I have gone to.

Kedua pertanyaan ini sangat berbeda, bahkan kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya sangat berbeda. “I have been to…” artinya “saya sudah pernah pergi ke…” sedangkan “I have gone to…” artinya “saya sudah pergi ke…” bahkan mungkin lebih dekat dengan “saya sudah berangkat ke…” Beda, kan, artinya?

  1. I am here. Vs. I have been here.

Satu lagi yang mirip nomor 3. Sebagai orang Indonesia kita seringkali bilang “saya sudah di sini,” menyatakan bahwa mereka “sudah sampai” di lokasi. Di Bahasa Inggris, kalau diterjemahkan dengan “I have been here” artinya malah menjadi “saya sudah pernah ke sini.” Lantas, kalau kita mau mengatakan “saya sudah di sini,” cukup dengan mengatakan ”I am here.”

  1. Terlalu sering memakai “already” dan “ever”

Karena terbiasa menerjemahkan ‘sudah’ menjadi ‘already’, kita jadi terbiasa menulis ‘already’ untuk semua yang memakai ‘sudah.’ Ini sebenarnya sebuah redundancy (pemborosan), karena pola kalimat Present Perfect Tense sudah mengandung kata ‘sudah.’ Di samping itu, tidak semua yang memakai ‘sudah’ di Bahasa Indonesia harus menjadi Present Perfect Tense.

Begitu juga dengan ‘ever.’ Karena kita terbiasa menerjemahkan kata ‘pernah’ dengan ‘ever,’ kita selalu memakai ‘ever’ untuk ‘pernah’ padahal di Bahasa Inggris, ‘ever’ hanya dipakai di kalimat tanya dan negatif, adapun kalimat positif tidak perlu karena sudah tersirat.

Reading Test : Tipe Pertanyaan (Seri IELTS)

IELTS Reading Test Tipe Pertanyaan

Pada SERI IELTS yang lalu kita membahas IELTS secara umum. Karena pentingnya pembahasan di postingan sebelumnya, untuk teman-teman pembaca yang belum membacanya silakan dibaca dulu di sini. Kita juga sudah membahas IELTS Listening. Untuk yang belum membaca, dipersilakan berkunjung ke sini.

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, tes reading terdiri atas empat puluh pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu enam puluh menit. Tes ini dibagi ke dalam tiga teks (passages) di mana masing-masing teks terdiri atas 13-14 pertanyaan. Mungkin ada yang bertanya, apakah ada perbedaan tingkat kesulitan teks-teks ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita bahas sedikit tentang seperti apa teks di reading test ini.

Dari postingan ini kita tahu bahwa ada dua jenis IELTS: general training dan academic. Untuk listening dan speaking, tidak ada perbedaan antara general maupun academic IELTS. Adapun untuk reading dan writing, kesulitan antara keduanya dibedakan, dengan academic IELTS memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Teks di academic reading test akan berisi artikel-artikel ilmiah. Artikel-artikel ini topik cakupannya luas sekali, mulai dari sejarah sampai geologi.

Tidak paham kajian sejarah? Tidak mengambil kursus audiologi? Tidak masalah. Bahasa yang digunakan dalam teks sebenarnya cukup populer. Nah, sekarang, apakah antara satu teks dengan teks lain ada kesulitan yang signifikan? Sebenarnya yang menjadi masalah bukan tingkat kesulitan teks, melainkan: seberapa familiar topiknya untuk kita, dan stamina saat mengerjakan teks.

Berbeda dengan TOEFL, teks IELTS academic reading cukup panjang (hampir selalu dua halaman). Dengan variasi tipe pertanyaan yang membuat peserta tes harus bekerja keras memahami pertanyaan dan mencari jawaban, kadang peserta kelelahan dan konsentrasinya berkurang, apalagi sebelumnya peserta baru saja ujian listening dan sesudah ini akan dilanjutkan dengan ujian writing. Berlatih mengerjakan tes ini dalam waktu satu jam cukup membantu dalam melatih stamina.

Sekarang, kita akan bahas tipe-tipe pertanyaan di IELTS Listening Test. Berbeda dengan listening, setidaknya ada tujuh macam tipe pertanyaan di tes ini. Lima tipe pertanyaan sama dengan yang ada di listening test, jadi kalau belum baca tentang itu, bisa cek di sini. Lima tipe pertanyaan yang sama dengan listening adalah:

  1. Multiple Choice
  2. Completion (form, table, sentence, note, summary)
  3. Labelling (map, diagram)
  4. Short-answer
  5. Matching and classifying

Adapun dua tipe pertanyaan lainnya adalah:

  1. Matching headings, endings, and information

Ini adalah salah satu tipe pertanyaan yang cukup menyebalkan. Kenapa? Untuk mencari jawabannya, peserta tes harus bolak balik melihat opsi yang ada lalu kembali ke teks. Jadi, bagaimana bentuk tipe pertanyaan ini? Untuk matching headings, peserta diberikan sejumlah judul (biasanya diurutkan dengan angka romawi) dan teks dengan paragraf yang sudah diurutkan dengan huruf. Di sini peserta harus menentukan judul yang tepat untuk setiap paragraf.

IELTS_Reading_MH

Untuk matching endings, peserta akan diberikan sejumlah ending (biasanya diurutkan dengan huruf) dan di bawahnya peserta akan melihat beberapa pernyataan yang tidak lengkap. Peserta harus menentukan ending yang mana yang cocok untuk mengakhiri pernyataan yang tidak lengkap itu. Peserta harus merujuk ke teks untuk menentukan apakah ending itu sesuai, karena pada dasarnya ending itu ada di teks tetapi diubah dengan parafrase.

IELTS_Reading_ME

Sementara itu, untuk matching information, biasanya teksnya sudah diurutkan dengan huruf. Peserta diberikan sejumlah informasi dan harus menentukan di paragraf yang mana informasi itu bisa ditemukan.

IELTS_Reading_MI

  1. True/False/Not Given or Yes/No/Not Given

Banyak murid yang mengeluhkan tipe pertanyaan ini. Sejauh ini, tipe pertanyaan ini memang yang paling sulit, paling mengecoh, karena kita hanya terbiasa dengan True/False saja. Untuk kita, Not Given tidak familiar.

Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kalau pernyataan yang ada di pertanyaan itu secara tersirat maupun tersurat sama dengan yang terdapat di teks, maka itu benar (nomor 21, di teks ditandai 1). Kalau tidak sama, maka tidak benar (nomor 22, di teks ditandai 2). Kalau pernyataan di pertanyaan itu tidak disebutkan sama sekali, maka not given (nomor 23). Sebagai contoh, di teks disebutkan fakta tentang modern water system dan water system in ancient Greek and Roman, kemudian di pertanyaannya dikatakan bahwa modern water system meniru yang dari jaman Yunani/Romawi kuno, padahal di teks tidak ada pernyataan itu. Ini termasuk not given. Kenapa? Fakta tentang keduanya jelas ada di teks. Yang jadi masalah hanya satu. Tidak ada pernyataan yang tegas tentang “meniru”/”imitate”, jadi jawabannya not given.

Harap hati-hati sekali ketika mengerjakan soal ini. Kadang murid merasa punya prior knowledge (pengetahuan yang mereka sudah pelajari sebelumnya), sehingga merasa tahu jawabannya. Ketika mereka menjawab sesuai pikiran mereka, ternyata jawabannya salah. Perlu diketahui bahwa tes ini adalah tes Reading Comprehension; tes yang menguji kemampuan kita memahami teks berbahasa Inggris. Apapun yang kalian pikirkan atau rasakan tentang teks tinggalkan dulu di luar ruang tes.