Aku boring, nih… Ups.

Bored...

Pernah dengar orang bilang “ah, aku boring, nih. Jalan-jalan, yuk.”? Atau mungkin kita juga pernah mengucapkan itu? Karena popularitas Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang tidak hanya diajarkan di sekolah tetapi juga bisa ditemukan di banyak tempat, banyak orang suka memakai Bahasa Inggris meski hanya untuk keren-kerenan. (Btw, ada banyak penggunaan “di” di kalimat di atas; ada yang dipisah seperti ‘di sekolah’ dan ‘di banyak tempat’ dan ada yang disatukan seperti ‘diajarkan’ dan ‘ditemukan’; penjelasan lengkapnya di sini).

Bahasa Inggris memang populer sehingga dengan mudahnya kita mencampur penggunaan kata-kata kedua bahasa itu dalam satu kalimat. Entah karena alasan supaya terlihat keren atau memang bermaksud untuk melatih Bahasa Inggris, penggunaan kata-kata ini malah jadi salah, seperti contohnya kata ‘boring’.

Salah? Kenapa bisa begitu?

‘Boring’ adalah present participle dari kata kerja ‘bore’ yang artinya ‘membuat orang menjadi bosan’.

Coba kita lihat contoh berikut: “I will not invite John to the party because he bores people.”

“He bores people” artinya dia membuat orang bosan, dengan kata lain John membosankan. Di konstruksi Bahasa Inggris, kalimat “John membosankan” adalah “John is boring.” Artinya, John membuat orang merasa bosan terhadap dia. Kalau kita bilang “aku boring, nih”, artinya sudah tahu kan? “Aku membosankan, nih”… Apakah kalian membosankan? 😛

Coba kita lihat konstruksi kalimat serupa dengan kata berbeda.

“This place always amazes me.”

“Tempat ini selalu membuatku merasa kagum.”

Dengan kata lain, tempat ini mengagumkan; “This place is amazing.”

Kita sekarang tahu bahwa “membosankan” artinya “boring” dan “mengagumkan” artinya “amazing.” Sekarang, bagaimana kalau kalian mau bilang “bosan”?

Dalam kalimat “John bores people” kita tidak hanya tahu bahwa “John is boring”, tetapi kita juga tahu bahwa “The people are bored”. Sama halnya dengan “This place always amazes me”, di mana kita juga tidak hanya tahu bahwa “This place is amazing”, tetapi juga tahu bahwa “I am amazed.”

Sekarang… sudah tahu kan kalau bilang “bosan” tidak pakai “boring”?

NB: Buat kalian yang penasaran dengan istilah tata bahasanya, ‘boring’ dan ‘amazing’ disebut sebagai present participle sedangkan ‘bored’ dan ‘amazed’ disebut sebagai past participle. Di sini keduanya berfungsi sebagai kata sifat. Mungkin ada yang bisa memberikan contoh lain yang mirip dengan contoh di atas?

richard ariefiandy

Why “you” is never easy in Bahasa Indonesia?

Why YOU in Bahasa Indonesia is never easy

First of all, everyone reading this (Indonesians or not) might instantly say “what an idiot writer… you is kamu in any dictionaries you read.” Ask any Indonesian and they (some! Not all) might come up with “kamu” or if you’re lucky enough, they will consider “Anda” as the answer. Well guess what? They’re absolutely right. I have no objection whatsoever with that opinion. But here’s the thing… do they really use those words (kamu and Anda) in everyday life as often as they might think? The answer would probably be no.

Instead of hearing Indonesians use the more formal and distant “Anda” or the more intimate “kamu”, you will not hear it at all. You might hear them omit the subject or use a completely different word. Before we discuss what those words are, I’d like to point out some reasons for this.

The first reason for this is that, Bahasa Indonesia, like other Asian languages (such as Japanese, or even Thai) do not always need subjects to make a sentence work much like English does. You can say “mau makan apa?” to a person without having to use ‘kamu’ or ‘Anda’. It’s already implied, so it’s unnecessary. Of course we’re talking spoken Indonesian, not the written one.

The other reason for this is, in my opinion, more profound and reflects how Indonesians think and behave. Indonesia was an archipelago with kingdoms and colonialism. What do kingdoms and colonialists have in common? The society is based on hierarchy. Indonesian society is basically a feudalistic society. Instead of having the generic ‘you’, Indonesians tend to be less direct by either removing the ‘you’ in the sentence when it’s implied or change it to something more personal yet polite when necessary. Saying ‘Anda’ to your mother sounds not just odd but also rude because it implies that you are deliberately creating a distance. Saying ‘kamu’ to her, on the other hand is plain insolent and impertinent. An Indonesian with common sense will not do that.

So what are the alternatives for ‘Anda’ then? Brace yourselves! It’s gonna be more complicated that deciding whether we have to use ‘Sie’ or ‘du’ in German.

Salutations, such as ‘bapak’, ‘ibu’, ‘mas’, or ‘mbak’ are often used as opposed to ‘kamu’ or ‘Anda’. Those are used depending on who you are talking to and what relationship you and the person have. Regional variations are available as well. Suppose you’re talking to a man around your age who has a child, you can call the person ‘bapak’, while on a similar case but this time without a child you might call him ‘mas’. Sometimes we also use names as substitutes for ‘kamu’. You can also use both ‘kamu’ and name as ‘you’ when addressing the same person.

A : Ibu sudah makan? (a son talking to her mother. Instead of saying ‘Anda’ he says ‘ibu’)

B : Sudah. Kamu sudah makan? (ibu uses ‘kamu’ to her child).

 

A: Mas Agung mau ke mana? (a person asking someone named ‘Agung’)

B: Saya mau ke rumah sakit. Martha mau ikut? (here, Agung uses ‘Martha’, instead of ‘kamu’)

Di mana atau dimana?

Masalah Ketika Memakai di

Pernah melihat tulisan ”di larang buang sampah disini”? Merasa ada yang salah? Sebagian dari kita pasti pernah melihat atau melakukan ini. Mengalami kebingungan atau kesulitan apakah harus menulis “di” menjadi satu kata atau terpisah. Tentunya ini bisa dimaklumi karena dalam bahasa lisan kita tidak membedakan pengucapan “di larang” dan “dilarang”. Untuk kita itu semua terdengar sama, bukan?

Meskipun demikian, tidak berarti kita harus membiarkannya, apalagi tulisan kita menunjukkan seberapa berpendidikannya kita. Terlebih lagi kalau kita adalah akademisi yang harus banyak menulis artikel, jurnal, paper, ataupun tesis di Bahasa Indonesia.

Bagaimana kita bisa memutuskan apakah ‘di’ harus dipisah atau disatukan? Mudah saja. Tentukan apakah kita mau menulis ‘di’ sebagai imbuhan untuk kata kerja pasif atau sebagai kata depan.

Kata kerja pasif adalah kata kerja dengan objek di depan, seperti “kue ini dimakan oleh dia”. Kata “dimakan” adalah kata kerja pasif. Adapun kata depan adalah kata yang dipakai untuk menunjukkan lokasi. Contohnya, ‘di depan’, ‘di sana’, ‘di rumah’.

Mudah bukan?

Kalau kita lihat lagi, ‘di’ yang dipakai sebagai imbuhan pasti diikuti kata kerja dan fungsinya membentuk kata kerja pasif. Untuk kasus ini, ‘di’ harus disatukan penulisannya. Sementara itu, ‘di’ yang dipakai sebagai kata depan biasanya diikuti kata benda atau posisi/lokasi. Nah, untuk yang ini, ‘di’ harus dipisah penulisannya.

Sekali lagi…

‘Seperti yang ditunjukkan di grafik di bawah ini, penjualan diperkirakan akan meningkat tajam di kuartal kedua tahun ini.’

Kalau artikel ini membantu, memberi “pencerahan”, atau mungkin sekedar mengingatkan yang sudah teman-teman ketahui, silakan share atau beri komentar ^^

 

-Richard Ariefiandy-

When to use “sudah”

B_Pakai02As many learners of Indonesian know, Bahasa Indonesia is quite simple. Its verbs don’t experience changes to express different tenses.

Now, let’s have a look at the word “sudah” which is used as the equivalent of the concept “perfect tense” in English. Simply put, when ever you want to say “I have done something” you always use “sudah” in your sentences. Indonesian is easy, right? I suppose so, if only Indonesians don’t use/put “sudah” (and its negative counterpart, “belum”) in so many sentences.

“sudah siap?”

“sudah menikah?”

“sudah tahu?”

“sudah punya anak?”

are roughly translated into: “are you ready?”, “are you married?”, “do you know?”, “do you have children?”, respectively. As you see, all of the sentences in English are not written in the perfect tense, but rather the simple present tense. So why do we see a lot of “sudah”s?

In Bahasa Indonesia, “sudah” is used to describe completion of action or the wholeness of something. Examples in Indonesian above can be explained as follow:

“Sudah siap?” asks whether your readiness is a complete and whole unity or not. Similarly, “sudah tahu?” also checks whether your knowledge of something is a whole or not. On the other hand, “sudah menikah?” and “sudah punya anak?” are asked using “sudah” because those two things are (in the mindset of most Indonesians) necessary in life. The wholeness and completeness of those two are expected. Saying “sudah menikah?” here means whether you have completed this task of getting married or not. The same goes for “sudah punya anak?”.

So, what’s your conclusion and opinion on this? Don’t hesitate to write me a comment! And if you can find more examples of how Indonesians use “sudah” differently from the way English speakers perceive how “sudah” should be used, let me know.

 

-richard ariefiandy-

“Simple Past” atau “Present Perfect”?

B_Pakai01[Perhatian: artikel ini tidak membahas pola kalimat past tense atau present perfect]

Salah satu kesulitan para pembelajar Bahasa Inggris adalah ketika mereka berhadapan dengan tenses. Banyak buku dan artikel menjelaskan apa fungsi tenses-tenses itu, dan bagaimana rumusnya. Tentu saja, pendekatan seperti ini praktis, tetapi apakah menambah pemahaman mereka?

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh para pembelajar yang berhubungan dengan tenses adalah ketika mereka tidak bisa membedakan kapan memakai Simple Past dan Present Perfect. Kenapa sulit? Keduanya terjadi di masa lalu, bukan?

Sebelum mulai membahas bedanya, kita bahas sedikit perspektif Bahasa Indonesia yang membuat mayoritas orang Indonesia mengalami kesulitan memahami tenses dan kalaupun mereka memahaminya, mereka masih keliru memakainya. Mudah-mudahan paparan di bawah membuat banyak pembaca sekarang berpikir bahwa tenses di Bahasa Inggris mudah.

Sebagaimana kita tahu, di Bahasa Indonesia tidak ada tenses yang ditunjukkan oleh perubahan kata kerja, tidak seperti bahasa-bahasa Eropa atau Arab dan lain-lain. Meskipun begitu, ini tidak berarti tidak ada tenses di Bahasa Indonesia. Coba bayangkan, tenses sebagai konsep bahasa di mana kata kerja berubah sesuai dengan waktu terjadinya sesuatu. Sebagai bahasa yang tidak mengenal konsep ini, Bahasa Indonesia menjadi tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses.

Kalau di Bahasa Inggris kita bilang “I went to Jogja”, di Bahasa Indonesia sesudah “saya pergi ke Jogja” harus ada kata tambahan yang menunjukkan kalau itu terjadi di masa lampau seperti “kemarin”, atau “dua tahun yang lalu.”

Nah, sekarang bagaimana membedakan past tense dengan perfect tense? Secara singkat bisa dikatakan bahwa past tense dipakai untuk menceritakan kejadian yang terjadi di masa lalu. Titik. Fokusnya ada pada “kejadian”nya. Perfect tense, di sisi lain, dipakai untuk menceritakan bahwa satu kejadian sudah selesai dikerjakan. Fokusnya ada pada “sudah terjadi”.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tergantung pada kata-kata untuk melukiskan konsep tenses, konsep Present Perfect diterjemahkan dengan menggunakan kata “sudah” (atau “belum”) di Bahasa Indonesia.

Jadi kalau kita mau bertanya kepada seseorang apakah dia sudah sarapan atau belum, tentu saja kita pakai Present Perfect “Have you had/eaten breakfast?”, sedangkan kalau kita mau bertanya kapan kejadian sarapan itu terjadi, tentu saja kita akan pakai Past Tense “What time did you have breakfast?”

Bahasa Inggris mudah? Mungkin tidak, tapi pelan-pelan memahaminya akan membuat tujuan kita belajar Bahasa Inggris lebih dekat.

richard ariefiandy

Ever vs. Pernah (Indonesian ver.)

Ever vs. PernahPara pembelajar Bahasa Inggris seringkali menemukan kata “pernah” yang diterjemahkan sebagai “ever” dalam Bahasa Inggris, sehingga mereka cenderung memakai kata “ever” ketika mereka memaksudkan kata “pernah”, meskipun dengan jelas beberapa buku teori grammar sudah menegaskan bahwa “ever” hanya dipakai di kalimat-kalimat negatif dan pertanyaan saja.

Lalu bagaimana menerjemahkan kata “pernah” dalam Bahasa Inggris?

Susah-susah gampang. Pertama, kita harus menyadari bahwa “pernah” adalah kata yang membawa konsep. Arti dari kata itu adalah bahwa kita pernah melakukan sesuatu paling tidak sekali seumur hidup kita.

Kedua, kata “ever” hanya dipakai untuk kalimat negatif dan pertanyaan saja, meskipun maknanya memang sama. Native English Speaker tidak memakainya di kalimat positif. Karena itu untuk kalimat positif, kita perlu kata lain, bukan? Tidak. Kita tidak perlu. Kita sebenarnya cukup memakai present perfect tense saja. Kalau mau menegaskan, bisa saja kita tambahkan kata-kata “once” atau “at least once in my lifetime.”

Ever vs. Pernah (English ver.)

Ever vs. PernahIf you are learning foreign languages, have you ever encountered words that are difficult to translate in your native language? And if you are a student of Bahasa Indonesia, the word “pernah” might be one of them.

Some people put their faith in dictionaries and use “ever” as the counterpart of “pernah.” Of course this is not a problem when you are constructing interrogative questions such as one that I asked in the beginning of this article. The same goes with negative sentences, like “I have never eaten that” that is translated as “saya tidak pernah makan itu.”

Problem arises when you realize that Indonesians use “pernah” quite often in affirmative sentences (neither a question nor a negative question). Take, for example, “dia pernah bertemu Angelina Jolie.” You wouldn’t say “He ever met/have ever met Angelina Jolie” in your normal sentences, right? Well, Indonesians do.

As with other concept words, learners should realize that some Indonesian words don’t translate quite well in English. “Pernah” is not different from those words. So what is the meaning of “pernah” then?

Simply put, “pernah”, as the word “ever”, is only used when you tell other people that from sometime in the past until now, you have experienced a certain thing (meeting Angelina, as in the previous example) at least once in your life.