mengarang bukan meng-arang

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah dipelajari. It comprises of simple non-tonal phonology, absence of tenses, using latin alphabets. See? It’s (relatively) simple.

But…it has a very complex system of affixation. Complex enough to make most Indonesian people creatively using a colloquial system that has the same complexity. (For Bahasa Indonesia learners: I’m not trying to discourage you).

Imbuhan (afiks) bukanlah favorit bagi para pelajar bahasa Indonesia. Berbagai jenis imbuhan, harmonisasi bunyi, harus dipahami fungsinya masing-masing. Tidak terkecuali bagi para native speaker Bahasa Indonesia, hal ini seringkali menjadi kendala. Berapa banyak yang tahu perbedaan antara pemelajaran dengan pembelajaran? Mana yang benar, mempunyai atau memunyai? Memikirkan atau mempikirkan?

Perbedaan yang besar antara bahasa percakapan dengan bahasa resmi menjadi kendala utama bagi para pelajar bahasa Indonesia. Misalnya “Ayah sedang menonton teve” kebanyakan kita akan mengatakan “Ayah lagi nonton tivi.” (Kecanggungan menggunakan bahasa resmi berkaitan erat dengan sejarah bahasa Indonesia itu sendiri… semoga aku bisa menulis blog tentang itu).

Kembali ke judul. Temanku Galuh, seorang tunarungu yang sedang belajar di LaTrobe, Melbourne, bercerita tentang kedatangan 3 orang ahli membuat SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Rencananya buku itu akan direvisi namun mereka konsultasi dulu dengan para ahli linguistik bahasa isyarat. Membawa “masterpiece” yang konyol, lantas mereka ditertawakan sesampainya di Australia. FYI, SIBI merupakan sistem isyarat di mana semua kata dalam bahasa Indonesia dibuat dalam bentuk isyarat, walhasil, imbuhan, susunan SPOK, dan beberapa bagian dari gramatika bahasa Indonesia dipertahankan dalam buku tersebut. Hal ini sangatlah tidak sesuai dengan “nature” bahasa isyarat.

Kita lihat… arang (untuk memanggang) ditunjukkan dengan isyarat orang mengipas (seperti tukang sate mengipasi arangnya). Apa kata yang dibentuk untuk “mengarang” (maksudnya mengarang tulisan)? Pertama membuat isyarat untuk imbuhan me- kemudian membuat isyarat ‘arang’. Orang waras tentunya akan tertawa bukan? (Kecuali jika ingin membuat kata “mengarangi” yang berarti memberikan arang, maka pengucapannya akan berbeda dari “mengarang” menulis karangan).

Mungkin sistem afiksasi ini telah berfungsi dalam benak banyak native Indonesian speaker, sehingga bagi kami, bicara “saya akan mengulang materi pelajaran sekolah di rumah nanti siang” bukanlah suatu proses yang memerlukan pemikiran rumit. Kita tidak berpikir bahwa kalimat yang akan dibentuk adalah “future tense” maka kita harus menambahkan kata “akan” dan “nanti sore”, kita juga tidak memikirkan bahwa kita harus menambah imbuhan me- pada kata “ulang” sehingga bermakna ‘melakukan pekerjaan’. Kita juga tidak perlu repot-repot mempertimbangkan bagaimana harus menyusun kata secara SPOK. Semuanya sudah dilakukan secara otomatis.

Semua bahasa punya kesulitan masing-masing. Semua bahasa punya kemiripan satu sama lain. Semua punya keunikannya sendiri. Jika anda ingin mempelajari bahasa Indonesia, pay attention to the affixation system, jika anda ingin belajar bahasa isyarat, lihat bahwa isyarat disusun berdasarkan pola “ucapan” yang dipahami orang tunarungu. Dan sebagainya.

Advertisements

Would Love To Hear From You

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s